Monday, February 11, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (I)

Pengantar. Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh (alm) Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, dan 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut ini bagian I (pertama).

——————————————————————-
              
Dalam menulis berita di suratkabar, yang diutamakan ialah pengaturan fakta-fakta. Tapi, dalam penulisan di majalah berita, bentuk penulisan cenderung bergaya feature, mengisahkan sebuah cerita.

              
Penulis feature pada hakikatnya seorang yang berkisah. Ia melukis gambar dengan kata-kata, menghidupkan imajinasi pembaca, menarik pembaca agar masuk ke dalam cerita dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama.

              
Jika seorang wartawan (yang bertugas di) balai kota menggambarkan wali kota dengan sepatunya yang gemerlapan dan kumisnya yang keputih-putihan dalam berita, redaktur kota akan marah, karena tulisan itu bertele-tele. Tapi, sebaliknya, jika sang reporter melupakan gambaran sang wali kota pada saat ia menulis feature, redaktur kota mungkin akan berkata, “Orangnya seperti apa? Saya tidak bisa membayangkannya.”

              
Penulis feature, untuk sebagian besar, tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar. Sebab ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi, jika ada aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan tersebut.

              
Doktrin klasik dalam menulis (struktur) berita yang disebut “piramida terbalik” (susunan tulisan yang meletakkan informasi pokok di bagian atas dan informasi yang tidak begitu penting di bagian bawah, hingga mudah dibuang jika tulisan itu perlu diperpendek) sering ditinggalkan. Terutama jika urutan peristiwa sudah dengan sendirinya membentuk cerita yang baik. Feature yang singkat dan lucu, yang biasanya ditemukan di halaman pertama suratkabar, sering ditulis sesuai dengan urutan waktu.

Contoh:
               Brury, seorang petugas patroli, punya pengalaman paling sial Jumat malam lalu. Pukul 16.30 sore ia lapor ke kantor. Lima menit kemudian, selama berpatroli dengan mengenakan pakaian seragam, lampu senternya jatuh. Ketika membungkuk untuk memungutnya kembali, celananya sobek di bagian pantat.

               
Pukul 17.15 sore, ia mencoba menolong seekor anjing yang menggonggong. Sejam kemudian ia dirawat karena kakinya digigit anjing.

              
Segera setelah pukul 19.00 malam ia kesenggol mobil yang ngebut. Pengemudinya seorang detektif narkotik yang sedang nguber padagang heroin.

              
Pukul 21.50 ia dipanggil ke sebuah bar untuk melerai pertengkaran. Setengah jam kemudian, ia dirawat karena luka-luka di kepalanya akibat pukulan botol wiski. Perawatan dilakukan di pusat kesehatan masyarakat setempat.

              
Brury kembali lagi ke rumah sakit pukul 23.40 malam, setelah menguber tersangka perampokan. Kaki kanannya terkena kaca ketika ia jatuh.

              
Setelah meninggalkan rumah sakit, ia kembali ke kantor polisi pukul 24.05 dinihari untuk mengakhiri tugasnya. Tapi, waktu itu seorang pengendara motor menabrak dari belakang mobil dinasnya di perempatan lampu lalulintas. Sekali ini, ia tidak terluka.

              
Akhirnya pukul 24.30 ia pulang, Ketika sampai di tempat parkir, ia menerima sebuah laporan polisi lagi. Dicuri: sebuah sepeda motor Honda, STNK nomor B 1995 GK. Pemiliknya: Brury, umur 31 tahun, tinggal di Gang Kenari 27.

              
Reporter yang menulis cerita Brury sebagai feature, dan tidak menuliskannya sebagai berita, memperoleh hasil yang baik dari bahan yang tersedia. Feature itu pantas dimuat di halaman pertama, sedangkan sebagai berita sedikit sekali nilainya. Bila dibuat berita, bentuknya seperti ini:

              
Brury, seorang petugas patroli, dirawat karena luka-luka ringan pada tiga insiden terpisah Jumat malam. Polisi itu juga mengalami kecelakaan ringan akibat ditabrak mobil.

              
Brury, 31 tahun, digigit anjing pada pukul 17.15 sore, kepalanya terkena botol wiski di bar pada pukul 21.50 malam, dan kakinya luka karena pecahan kaca ketika jatuh dalam suatu pengejaran penjahat pada pukul 23.27. Ia dirawat dan kemudian dibolehkan pulang dari pusat kesehatan masyarakat setempat.

              
Suleman, 38 tahun, penghuni Jalan Kebyar nomor 19, ditangkap dan dituduh menyerang polisi dalam sebuah pertengkaran di bar.

              
Mobil dinas Brury sedikit rusak ketika ditabrak dari belakang oleh mobil yang dikemudikan oleh Ny. Aminah di persimpangan Jalan Kuningan pada pukul 12.05 hari ini. Tak ada seorang pun yang luka.

              
Perhatikan: berita itu lebih banyak menyampaikan informasi mengenai kecelakaan, dan tidak menyebut-nyebut materi yang tidak punya nilai berita, tapi penting, seperti celana yang sobek. Reporter berita bisa dengan mudah mengambil keputusan untuk meninggalkan cerita tentang pencurian sepeda motor. Sebab, hal itu terpisah, tidak langsung berhubungan dengan cerita tentang luka ringan yang dialami seorang polisi.

               Cerita mana yang lebih menarik? Cerita mana yang lebih informatif? Cerita mana yang lebih enak ditulis?

(Bersambung)

Posted by BSH at 10:46:22 | Permalink | No Comments »

Friday, January 18, 2008

DENDAM BENAZIR DAN “DENDAM” TAMARA

Catatan:

Kawan-kawan, saya muatkan dua artikel tentang bahasa sebagai selingan, sebelum melanjutkan pelajaran menulis. Ini adalah selingan yang kedua. Terimakasih (BSH).

———————————————————————

Dua tanda kutip pada sebuah kata, rasa bahasa yang sering kurang dipertimbangkan.

BIARPUN sama-sama memendam dendam, perasaan Benazir Bhutto dan Tamara Geraldine tidaklah sama (Kompas, 16/9/2007). Benazir memang benar-benar memendam dendam terhadap lawan politiknya. Karena itu kata dendam seharusnya tidak ditulis di antara dua tanda kutip (halaman 5).

Sebab, jika kata dendam diberi dua tanda kutip, berarti bukan dendam yang sesungguhnya. Sementara dendam Tamara terhadap acara Wisata Kuliner – karena tak bisa mencicipi jenis makanan tertentu gara-gara menderita sakit maag (halaman 32) – hanyalah kiasan. Setelah sembuh, ia melampiaskan “dendam” dengan menemani Bondan Winarno, pengasuh acara tersebut. Maka tepatlah jika dendam ditulis di antara dua tanda kutip.

Selama ini pembubuhan tanda baca berupa dua tanda kutip di depan dan belakang sebuah kata, hampir tak pernah dibicarakan. Padahal, penggunaan tanda baca itu – yang dimaksudkan untuk memberi arti atau tekanan tertentu pada sebuah kata – sering muncul, terutama dalam bahasa pers, bahkan juga dalam bahasa lisan. Ketika seseorang sedang berbicara di televisi dan hendak menyebut sebuah istilah yang mengandung arti tertentu, serta merta ia mengangkat kedua belah tangannya lalu memeragakan cara menulis dua tanda kutip itu dengan kedua jari telunjuk dan jari tengah.

Selain dimaksudkan sebagai kiasan, atau memberi tekanan pada arti lain dari arti yang sebenarnya, tanda baca seperti itu juga digunakan untuk menyebut julukan yang khas, atau istilah tertentu. Tapi, tidak semua penulis, terutama para wartawan, dapat menggunakannya secara tepat. Menulis kalimat dengan suatu “rasa bahasa” sehingga memunculkan asosiasi tertentu, memang tidak mudah.

Dalam kolom Ramadan (Koran Tempo, 16/9/2007, halaman 2), yang mengulas suasana bulan Ramadhan, ada tiga kesalahan dalam menulis kata di antara dua tanda kutip: “sweeping” terhadap minuman keras; kemaksiatan harus “diperangi”; melanggar “peraturan daerah.” Jika yang dimaksud dengan ketiga kata tersebut memang benar-benar sebagaimana yang terkandung di dalam artinya, mengapa harus ditulis di antara dua tanda kutip? Jika dibubuhi dua tanda kutip, maka asosiasi yang muncul dari kata atau istilah tersebut justru kebalikan dari arti yang sebenarnya.

Sebaliknya, dalam kolom yang sama terdapat dua kata yang memunculkan asosiasi yang benar ketika penulisnya meletakkan dua tanda kutip pada sebuah kata atau ungkapan: hiburan malam harus “tahu diri”; anak-anak di pengungsian kelaparan menunggu kapan “magrib” tiba. Tepatlah ungkapan tahu diri ditulis di antara dua tanda kutip, sebab si penulis mempersonifikasikan subyek kalimat, yakni hiburan malam.

Begitu pula dengan kata magrib yang oleh penulisnya dimaksudkan sebagai kiasan bagi terpenuhinya kesejahteraan bagi para pengungsi.

Gara-gara kurang mempertimbangkan “rasa bahasa” itulah, seorag penulis sering tidak konsisten dalam menggunakan dua tanda kutip itu. Dalam Pertaruhan Terakhir (TEMPO, 26/8/2007, halaman 23) ada dua kalimat yang menunjukkan kurangnya konsistensi tersebut. Setelah kematian Munir, Indra juga pernah bertemu petinggi BIN untuik membicarakan “langkah selanjutnya” (kolom 1). Ungkatan langkah selanjutnya tepat diletakkan di antara dua tanda kutip untuk menunjukkan adanya kongkalingkong antara Indra dan petinggi BIN.

Tapi, dalam kolom 2 terdapat dua kata yang seharusnya tidak perlu dibubuhi dua tanda kutip: Maksudnya, kejaksaan menguraikan aspek “sebab” untuk menjelaskan unsur “akibat”, yakni tewasnya Munir. Jika yang dimaksud memang arti sebenarnya dari kata sebab dan akibat, mengapa kedua kata tersebut harus diletakkan di antara dua tanda kutip?

Kekurang cermatan juga terdapat dalam Operasi Permak Wajah (TEMPO, 9/9/2007, halaman 23). Saya kutip sebuah kalimat panjang pada kolom 1-2: Akhirnya, rapat Dewan Gubernur BI memutuskan menggunakan dana milik Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia/Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia – disingkat LPPI – yang merupakan “anak usaha” BI. Jika jelas bahwa LPPI adalah anak usaha BI, seharusnya dua kata itu tidak usah ditulis di antara dua tanda kutip. Kecuali jika pada alinea sebelumnya disebutkan adanya keraguan mengenai status LPPI.

Namun pada kolom 1 terdapat cara penulisan yang benar. Saya kutip: Apalagi setahun kemudian BI hanya berhasil meraih predikat “wajar dengan pengecualian”. Tiga kata wajar dengan pengecualian merupakan predikat yang dikenakan oleh Badan Pemeriksa Keuangan terhadap Bank Indonesia. Sebagai predikat, wajar jika tiga kata tersebut ditulis di antara dua tanda kutip.

Goenawan Mohamad termasuk penulis (sangat) produktif yang suka (dan tepat) menggunakan tanda baca berupa dua tanda kutip – yang seringkali dimaksudkan untuk memberi tekanan pada pengertian yang sama sekali lain. Misalnya, dalam Catatan Pinggir berjudul Ong (TEMPO, 9/9/2007, halaman 130). Mengapa ia menulis Onghokham sebagai “sejarawan” (di antara dua tanda kutip), padahal almarhum memang seorang sejarawan? Sebab, ada penjelasan pada kalimat berikutnya, yakni Ia sendiri punya versi lain tentang dirinya. Dan selanjutnya, Seperti Sartono Kartodirdjo, ia mengutamakan latar belakang sosial-ekomomi sebuah peristiwa, yang menyebabkan sejarah baginya bukan kisah orang “atas.”

Maksudnya, bukan “sejarah” sebagaimana kita kenal di bangku sekolah yang mengisahkan orang “atas” alias para raja, pahlawan, pemimpin, melainkan peristiwa yang kompleks, lengkap dengan latar belakang politik, sosial, budaya dan ekonomi yang saling kait-mengait.***


Posted by BSH at 04:04:46 | Permalink | No Comments »

Saturday, January 5, 2008

KETIKA JUSUF KALLA “BERBESAR HATI”

Catatan:

Kawan-kawan, saya muatkan dua artikel tentang bahasa sebagai selingan, sebelum melanjutkan pelajaran menulis. Ini adalah selingan yang pertama. Terimakasih (BSH).

———————————————————-

Ada wartawan yang tidak kritis: langsung mengutip ucapan pejabat, padahal salah.


SAYA tersenyum kecut karena jengkel, sembari geleng-geleng kepala lalu mencampakkan koran, ketika membaca Harian Kompas dan Koran TEMPO edisi 3 November 2007. Di halaman 1 Kompas menulis sebaris judul mencolok: Wapres Minta Nurdin Halid Besar Hati soal Putusan FIFA.


Padahal, di halaman 31, Kompas mengutip ucapan Ketua Komite Olahraga Nasional, Rita Subowo, yang “meminta kebesaran jiwa para pengurus PSSI,” dan ucapan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, Adyaksa Dault, bahwa “Nurdin Halid harus berjiwa besar.”


Sementara Koran TEMPO di halaman A3 juga mengutip ucapan Jusuf Kalla, “Saya yakin Nurdin Halid akan berbesar hati untuk mengikuti ketentuan-ketentuan itu.” Berbesar hati atau berbesar jiwa?


Ucapan Jusuf Kalla yang salah itu, besar hati, dikutip seperti apa adanya oleh wartawan Kompas (INU/JOY) dan wartawan KoranTEMPO (Rafly Wibowo/Sutarto/Fanny Febiana). Repotnya, redaktur kedua koran itu juga tidak kritis.


Padahal, yang benar ialah besar jiwa (lapang dada, legowo), bukan besar hati (gembira, girang, senang). Sudah sebulan lebih ucapan itu disiarkan, tapi tidak diralat oleh jurubicara kepresidenan, juga tidak oleh redaktur koran yang bersangkutan.


Kesalahan sama dilakukan oleh sutradara dan bintang film Rano Karno ketika mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Selembar poster ditempel pada salah satu mobilnya, Sekali-kali jadi Wakil Gubernur…. Yang benar ialah sekali-sekali (sewaktu-waktu), bukan sekali-kali (sama sekali tidak).


Itu adalah salah kaprah dalam berbahasa. Salah kaprah (ungkapan dalam bahasa Jawa) ialah kesalahan yang biasa dilakukan, tapi telanjur dianggap benar. Celakanya, baik orang awam maupun pejabat, bahkan juga pers, sering kejangkitan penyakit salah kaprah dalam berbahasa.


Misalnya, kalimat ini: Redaktur menugaskan reporter meliput pertandingan olahraga (salah kaprah). Yang benar, Redaktur menugasi reporter (untuk) meliput pertandingan olahraga. Atau, redaktur menugaskan peliputan pertandingan olahraga kepada reporter (tapi kurang lazim).


Yang agak rumit ialah memenangkan dan memenangi dalam kalimat berikut: PSSI memenangkan pertandingan sepakbola (salah kaprah). Siapa yang menang? Yang menang ialah “pertandingan sepakbola”, bukan PSSI. Tapi, kalimat PSSI memenangi pertandingan sepakbola — benar, tapi terlalu dipaksakan. Menurut hemat saya, lebih baik PSSI menang (unggul) dalam pertandingan sepakbola.


Kasus yang hampir sama terjadi pada kata membawahi dan membawahkan. Yang benar, Presiden membawahkan para menteri, bukan Presiden membawahi para menteri (salah kaprah). Sebab, Presiden membawahi para menteri, berarti presiden memposisikan diri (berada) di bawah menteri. Bandingkan membawahi dan melayani. Kalimat Presiden melayani para menteri, tidak logis, sebab menteri adalah pembantu atau bawahan presiden. Tapi, Presiden mengatasi persoalan (benar), bukan mengataskan (tidak lazim).


Ada ketentuan tatabahasa yang dalam penggunaannya mengalami salah kaprah. Ketentuan itu: semua kata dasar yang berhuruf awal k, p, t, dan s, jika mendapat awalan me atau pe dan akhiran kan atau an, maka huruf awal itu harus luluh. Tapi, dalam praktik keempat huruf itu tidak luluh.


Pertama, kata kaji; mestinya mengaji, pengajian. Tapi, dalam praktik, mengkaji, pengkajian, kecuali jika pengertiannya mengaji atau pengajian Al-Quran. Padahal, mempelajari teknologi mestinya juga termasuk pengajian, bukan pengkajian. Apa salahnya kita menggunakan mengaji atau pengajian teknologi?


Kedua, kata pesona mestinya memesona, tapi salah kaprah menjadi mempesona. Atau kata perkara seharusnya memerkarakan, tapi salah kaprah menjadi memperkarakan. Kata jadian untuk peduli seharusnya memedulikan, tapi salah kaprah menjadi mempedulikan. Anehnya, kata jadian putus bukan memputuskan melainkan memutuskan. Adapun mempunyai, benar, sebab kata dasarnya bukan punya, tapi empunya.


Ketiga, kata tunduk dan tambah, kata jadiannya menundukkan dan menambahkan, sesuai dengan ketentuan, yakni huruf pertama luluh, tidak mengalami salah kaprah.


Keempat, kata sukses mestinya menjadi menyukseskan, tapi salah kaprah menjadi mensukseskan. Bahkan ada yang membacanya mengacu pada kata success dalam bahasa Inggris: mensakseskan. Sebaliknya, kata sabar yang kata jadiannya menyabarkan (benar). Jika mengacu pada mensukseskan, mengapa kata jadian sabar bukan mensabarkan?


Yang menarik ialah tiga kata dasar yang terdiri dari satu suku kata, seperti sah, cat dan cap. Jika ketiga kata itu mendapat awalan me atau pe dan atau akhiran an atau kan, maka kata jadiannya menjadi mengesahkan, mengecat, mengecap, karena mendapat sisipan huruf sengau ng. Selama ini masyarakat kita sudah menggunakan kata jadian tersebut.


Baik. Tapi, jika kita analisa, kata dasar ketiga kata itu hilang atau berubah, bahkan aneh. Lihatlah: pengesahan (pe-ng-esah-an), kata dasar yang seharusnya sah berubah menjadi esah, atau kesah. Begitu pula pengecapan (pe-ng-ecap-an), kata dasar yang seharusnya cap menjadi ecap, atau kecap. Dan pengecatan (pe-ng-ecat-an), kata dasar yang mestinya cat menjadi ecat, atau kecat.


Aneh bin ajaib.

Posted by BSH at 05:23:34 | Permalink | No Comments »

Saturday, December 15, 2007

Bahan Pelatihan Menulis (VI)


Catatan
:
               Berikut ini saya turunkan bahan pelatihan menulis bagian terakhir. Saya minta maaf, mungkin ada beberapa bagian dari naskah yang tumpang tindih (over lapping) dengan naskah-naskah sebelumnya. Maklum, gara-gara beberapa kesibukan, saya tidak sempat lagi memeriksa dan menelitinya kembali. Tapi, kalaupun ada bagian-bagian yang tumpang tindih, anggap saja sebagai “ulangan pelajaran”. Segera setelah Bahan Pelatihan Menulis (VI) ini, saya akan menurunkan 13 seri kutipan dari buku Andaikan Saya Wartawan TEMPO. Selamat membaca dan belajar.

TULISAN untuk majalah bukanlah berita — dalam artikata hard news atau straight news (berita pendek, padat, singkat yang mementingkan aktualitas) — melainkan feature yang juga lazim disebut laporan atau artikel. Dalam hal ini tak berarti kita boleh menafikan persyaratan jurnalisme yang klasik, yaitu 5-W (who, what, when, where, why) dan 1-H (how).

          Dalam menulis feature, walaupun who, what, when, where diperlukan, unsur why (mengapa) dan how (bagaimana) lebih dipentingkan: mengapa dan bagaimana seorang tokoh melakukan sesuatu. Salah satu unsur penting dalam menulis feature ialah gaya. Setiap penulis mempunyai gaya masing-masing. Tapi, secara umum, gaya seorang penulis feature yang baik ialah gaya bertutur atau bercerita, dengan deskripsi yang jelas, rinci, sehingga “hidup”.
       
         
Sekedar mengingatkan, yang dimaksud dengan majalah atau jurnal, bukanlah majalah atau jurnal ilmiah, melainkan majalah umum atau majalah berita, yang laporannya ditulis dalam bentuk feature dengan gaya bercerita, berkisah.

          Oleh karena itu, dalam menulis hendaknya kita menggunakan gaya berkisah dengan bahasa yang mudah, yang populer. Ketika kita menulis, bayangkanlah siapa yang membaca tulisan kita.

          Dan oleh karena jenis pembaca sangat variatif, usahakanlah agar pembaca kita yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang becak atau guru tidak merasa dicekoki; sebaliknya pembaca yang dosen, kolonel atau pengusaha, tidak merasa digurui. Gunakanlah bahasa yang populer, mudah dimengerti, dan tak perlu sok-ilmiah.

          Tapi, juga tak berarti kita boleh mengabaikan logika. Justru logika, sebab akibat, berperan penting dalam sebuah laporan. Sebab, bagian-bagian laporan yang tidak logis bisa membingungkan pembaca.

          Feature
bukanlah dongeng yang tidak logis, melainkan cerita mengenai fakta. Berita, atau feature, is a story about facts not about fiction. Sementara karangan (sastra) lebih merupakan a story about fiction. Oleh karena itu, feature haruslah ditulis dengan cermat, teliti, terutama menyangkut nama, tanggal, gelar, jabatan, istilah, ejaan asing.

          Jika Anda memang tidak tahu, janganlah segan-segan bertanya kepada narasumber, bagaimana menulis nama, gelar, jabatan, istilah, atau ejaan sebuah kata atau istilah dalam bahasa asing.
 
Wawancara
          Seorang wartawan yang berhati-hati selalu membawa tape recorder (alat perekam) untuk mewawancarai narasumber. Maksudnya, agar semua omongan narasumber dapat dikam; sementara jika kelak ada komplain dari narasumber, sang wartawan punya pegangan kata-kata narasumber yang sudah terekam.

          Tapi, dalam menulis berita atau feature, tidak semua omongan narasumber dapat kita tulis. Tugas jurnalis ialah: menceritakan kembali hasil wawancara dengan bahasa sendiri. Mengapa? Karena kita bukanlah corong narasumber, atau his master’s voice. Bahkan, sebaiknya kita tidak usah membuat transkrip dari hasil wawancara – yang menghabiskan waktu dan energi.

          Wartawan yang baik ialah yang memiliki daya ingat tajam dan catatan singkat yang akurat. Adapun alat perekam hanyalah sekedar sebagai pendukung untuk mengecek kembali akurasi mengenai data atau persisnya suatu ucapan.

Outline
           Mau “selamat” menulis feature? Sebelum menulis susunlah dulu outline atau rancangan atau kerangka tulisan. Mulai dari lead (pembukaan), body tulisan (reportase suatu keadaan, profil seorang tokoh, cerita mengenai tokoh) sampai dengan ending tulisan. Cara menyusun outline sudah dijelaskan dalam bab tersendiri.

          Jika Anda sudah selesai menulis sebuah feature, janganlah buru-buru menyerahkannya kepada redaktur. Bersabar dan istirahatlah barang sebentar, kemudian bacalah kembali tulisan Anda. Membaca ulang sebuah tulisan bukanlah suatu aib, tapi justru karena didorong oleh rasa tanggung jawab.

           Seorang wartawan profesional ialah yang mampu menghasilkan karya yang sempurna, dengan struktur yang pas, dengan data yang akurat, dengan bahasa yang bagus. Alias, menggunakan bahasa yang baik dan benar.
Setelah itu hitung panjang tulisan Anda di layar komputer dengan cara sederhana, untuk menentukan subjudul. Contoh: andai panjang tulisan itu 25 layar, bagilah menjadi lima subjudul – setiap subjudul lima layar. Panjang subjudul maksimal tiga kata, tapi lebih baik dua kata.

          Subjudul bukanlah judul, karena itu tidak harus mencerminkan isi atau pikiran yang terungkap dalam alinea-alinea di bawahnya. Subjudul lebih berfungsi sebagai semacam “terminal sementara” bagi pembaca untuk bernafas sebelum melanjutkan membaca aline-alinea berikutnya.

          Setelah semuanya oke, jangan lupa merekam (men-save). Perekaman bahkan sangat dianjurkan dilakukan setiap kali selesai menulis lima atau enam alinea, sehingga jika suatu saat lampu padam, naskah kita sudah terselamatkan. Tapi, sebelum kita merekam, buatlah nama file.

Foto
          Pada umumnya foto merupakan ilustrasi, dan seharusnya mewakili isi cerita dalam sebuah feature. Agar tidak menjemukan, foto hendaknya variatif, jangan sampai ada pengulangan. Foto tentang seseorang atau suasana (satu obyek), biarpun dipotret dari berbagai sudut ya tetap saja satu obyek. Dan dianggap sebagai satu foto.

          Secara umum, foto terdiri dari dua bagian besar: profil dan suasana. Profil bisa berupa seorang tokoh (close up), sedang asyik membaca, sedang tekun memperbaiki sesuatu, sedang menjelaskan sesuatu dengan mimik ekspresif. Sementara foto suasana bisa ditampilkan dengan berbagai (sekali lagi: berbagai!) latar belakang.

          Bagaimana dengan keterangan foto (caption)? Keterangan foto sebaiknya hanya terdiri dari dua kalimat, masing-masing maksimal tiga atau empat kata. Antara dua kalimat ditaruh titik, tapi di belakang kalimat kedua tak ada titik.

Kutipan
          Dalam menulis keterangan mengenai kutipan (quotation), jangan sekali-kali (bukan sekali-sekali!) menggunakan akunya, terangnya, jelasnya, ungkapnya, batinnya. Ketiga keterangan kutipan berikut ini salah. “Sayalah yang mencuri HP itu,” akunya. “Memang, dia adalah kemenakan pak menteri,” jelasnya. “Wah, kalau dia datang, akan terbongkar rahasia saya,” batinnya.

          Saya lebih menganjurkan agar Anda menggunakan katanya, ujarnya, tuturnya, ceritanya, kisahnya, jawabnya. Bisa juga kita menulis: katanya menjelaskan, ujarnya menerangkan, katanya mengaku, katanya menuturkan kisah sedih itu.


          Keterangan kutipan seperti tuturnya, ceritanya, kenangnya, hanya untuk quotation yang benar-benar bercerita. “Memang, waktu masih remaja saya nakal, sering bertengkar dengan kakak dan adik, bahkan juga dengan para pemuda di sekitar rumah,” tuturnya.


          Kalimat kutipan berikut ini bagus. “Di masa kecil, saya sangat disayang oleh nenek. Kini beliau wafat. Saya sangat sedih dan kehilangan,” kenangnya sembari menghapus airmatanya yang meleleh di pipinya yang memerah.

Kalimat
          Ini kalimat salah: Dia adalah anak pertama (mestinya anak sulung). Saya anak terakhir dari 10 bersaudara (mestinya anak bungsu). Fatimah adalah adik dari suami Nyonya Endang (seharusnya adik ipar Nyonya Endang). Pak Amat adalah bapak dari isteri Pak Hardi (seharusnya mertua Pak Hardi).

          Kalimat ini juga salah: Nama baptis Hughes adalah nama pahlawan perempuan Prancis yang dibakar hidup-hidup, yaitu Joan of Arc. Seharusnya: Nama baptis Hughes adalah Jeanne d’Arc. Mengapa Jeanne d’Arc, bukan Joan of Arc? Karena ada kata “Prancis” dalam kalimat tersebut, sementara Joan of Arc adalah ejaan Inggris untuk nama sang pahlawan.

          Kalimat yang memuat data yang lengkap dapat memperjelas posisi seorang tokoh. Kalimat berikut ini kurang lengkap: Kakek Aisjah Girindra adalah seorang ulama yang berperan dalam pemberontakan melawan penjajah Belanda di Cilegon, Banten.

          Seharusnya: Kakek Aisjah Girindra adalah Syaikh Nawawi al-Bantani, seorang ulama terkenal yang berperan dalam pemberontakan yang terkenal melawan penjajah Belanda di Cilegon, Banten, pada awal abad ke-19.

***

Posted by BSH at 06:15:50 | Permalink | No Comments »

Friday, November 23, 2007

Bahan Pelatihan Menulis (V)

Delapan Pedoman Praktis


A.  
Pedoman Pertama:  LAYAK BERITA
Mengusulkan sebuah rencana penulisan artikel (berita, laporan atau wawancara) dalam Rapat Perencanaan harus disertai dengan berbagai argumentasi. Jangan asal mengusulkan, atau bilang “ini menarik”, tanpa dasar atau alasan yang kuat. Menarik dari segi apa dan siapa? Berikut ini beberapa persyaratan “layak berita” :
1.     Ingat kredo lama yang sangat terkenal : Anjing menggigit orang itu biasa. Tapi orang menggigit anjing itu baru berita. Artinya, kejadian yang “biasa-biasa saja” (anjing menggigit orang) tidak layak berita, karena hampir setiap hari bisa dijumpai. Tapi “kejadian yang aneh, unik dan lucu” (orang menggigit anjing) barulah berita. Sebab, sangat jarang bahkan hampir tak pernah terjadi. Jadi tidak semua peristiwa, kejadian, kasus, bisa menjadi berita atau bisa kita kategorikan sebagai berita.
2.     Mungkin suatu kejadian kita anggap “penting” atau “menarik”. Tapi di mana letak penting dan menariknya? Bila kita uji peristiwa itu dengan beberapa kriteria, dan memenuhi kriteria, luluskah ia menyandang “layak berita”? Karena itu suatu peristiwa yang “layak berita” harus memenuhi beberapa kriteria. Antara lain :
a.      Hangat. Terjadi tidak lebih dari satu minggu (terutama bagi majalah berita mingguan). Bagi mereka, mungkin kehangatan itu berlaku dua minggu.
b.     Magnitude atau bobotnya besar. Zaman sekarang korupsi Rp 500 juta sudah bukan berita lagi. Tapi bila jumlah uang yang dikorup 50 milyar (apalagi koruptornya orang yang punya nama), barulah ia layak berita. Korban kecelakaan yang jumlahnya lima orang, untuk Indonesia sudah bukan berita lagi. Tapi bila korbannya 25 orang (apalagi yang satu di antaranya seorang menteri) barulah layak berita.
c.     Menyangkut public figure. Menteri, selebriti, ulama, dan sebagainya. Ingat : name makes news. Artinya, yang menjadi pelaku berita atau pelaku dalam cerita adalah tokoh yang terkenal di masyarakat. Artis terkenal, negarawan terkenal, apalagi bila kasusnya kontroversial.
d.     Pertama kali. Peristiwanya baru pertama kali terjadi. Kalau sudah dua tiga kali terjadi, ya bukan lagi berita.
e.      Menyangkut kepentingan banyak orang. Rapat Koperasi RT 012 Jatibening II hanya “layak berita” untuk dimuat dalam news letter di kalangan warga setempat yang terbatas. Tapi kebakaran Pasar Anyar di Bogor yang keberadaannya sangat dibutuhkan masyarakat – apalagi korbannya banyak, dan kasusnya kontroversial – sangatlah layak berita.
f.       Sesuai dengan segmen pembaca. Kalau segmen pembaca sebuah majalah, misalnya majalah remaja, tentu saja yang kita usulkan ialah berita atau artikel yang berkaitan dengan masalah remaja.
Catatan :
Masih ada beberapa kriteria lagi, tapi buat sementara cukup yang ini dulu.

B.  
Pedoman Kedua: MENEMBUS SUMBER
1.     Cari nama, alamat, nomor telepon sumber berita di mana saja. Coba kontak dulu via telepon. Yakinkan pentingnya wawancara ini, jelaskan bahwa wartawan bekerja dengan deadline. Bicaralah secara baik-baik, jelaskan wawancara mengenai apa.
2.     Kalau yang menerima telepon bukan sumber berita (isteri, suami, adik, anak, sekretaris pribadi, pembantu rumahtangga), lakukan hal yang sama, kemudian pesankan secara baik dan sopan permohonan untuk wawancara. Jelaskan wawancara mengenai apa dan apa manfaatnya bagi sumber berita dan pembaca.
3.     Kalau sumber berita menyediakan waktu setelah deadline, sekali lagi yakinkan pentingnya wawancara ini, dan jelaskan bahwa pada hari yang ditentukan itu deadline sudah lewat (kalau gagal juga, cari sumber berita lain yang setara sebagai alternatif).
4.     Kalau sumber berita minta surat permohonan wawancara, tawar dulu secara sopan dan baik-baik. Kalau gagal, apa boleh buat : buatkan surat permohonan resmi yang baik dan sopan, sertakan pula daftar pertanyaan sekalian cantumkan tanggal deadlinenya.
5.     Baik dengan atau tanpa surat, hari “H” wawancara harus dicek lagi. Jangan menunggu dan jangan menyerah. Sekali lagi : jangan menyerah dan jangan menyerah!

C.
Pedoman Ketiga: WAWANCARA
6.     Terlebih dulu pikirkan apa yang menjadi masalah pokok dalam wawancara ini. Selain itu, angle atau “sudut pandang”-nya yang khas, apa? Misalnya wawancara dengan Oma Irama, bisa banyak hal yang kita tanyakan. Tapi “sudut padang” atau angle yang sudah kita sepakati dalam Rapat Perencaan, tentang apa? Tentang keluarganya, karirnya sebagai musisi, atau tentang seni dan dakwah?
7.     Tuliskan sekitar 7 sampai 10 pertanyaan pokok yang ada kaitannya dengan angle persoalan yang hendak kita persoalkan.
8.     Ketika kita memulai wawancara, sebaiknya jangan pertanyaan pokok yang pertama kali kita lontarkan. Tapi “basa-basi” dulu mengenai beberapa hal yang ringan-ringan. Bisa masalah pribadi, bisa masalah-masalah yang sedang jadi pembicaraan umum. Tapi usahakan masih ada kaitannya dengan pertanyaan pokok. Tujuannya supaya suasana menjadi cair (tidak terkesan resmi).
9.     Jangan malu menanyakan hal-hal yang kurang jelas. Baik menyangkut materi persoalan, maupun menyangkut nama dan ejaan sebuah istilah dalam bahasa asing (Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Arab). Kalau sumber berita menyebut nama orang asing, catat namanya dengan benar dan apa keahliannya. Begitu pula kalau ia menyebut nama atau judul sebuah buku, catat dengan baik pengarangnya, tahun terbitnya, penerbitnya, dan seterusnya.
10. Ini penting. Jangan sekali-kali “hanyut” oleh omongan sumber berita yang ngelantur. Sebab kitalah pemandunya, BUKAN DIA. Kalau dia mulai melenceng dari pokok persoalan, jangan segan-segan memotongnya, tapi tentu saja dengan sopan. Kalau ada keterangan yang kurang jelas, tanyakan kembali. Kalau Anda ragu dan tidak sependapat, debatlah (dengan sopan), sampai jelas betul persoalannya.
11. Kalau Anda menggunakan alat perekam, cek dulu apakah baterainya bagus, apakah kasetnya bagus, apakah alat perekam itu berfungsi. Dan selain merekam, ada baiknya Anda juga mencatat hal-hal yang Anda anggap penting. Siapa tahu rekamannya buruk, atau hilang.

C.   Pedoman Keempat: BAHASA SEBAGAI SENJATA
1.     Senjata seorang petani adalah cangkul, senjata prajurit adalah bedil. Dan senjata wartawan adalah bahasa (dan persyaratan layak berita). Karena itu, penguasaan Bahasa Indonesia (dan beberapa persyaratan layak berita) adalah mutlak. Jadi, seorang wartawan (apalagi jika kita menulis features) harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ada beberapa buku mengenai hal itu yang bisa dibeli dan dipelajari sendiri. Tapi secara ringkas yang harus diperhatikan antara lain :
a.      Kalimat harus sempurna. Ada pokok kalimat, predikat, obyek, pelengkap, keterangan. Kalimat harus masuk akal, berdasarkan kenyataan peliputan. Bisa berdasarkan ucapan sumber, tapi jangan sekali-kali “mengarang”, apalagi mengada-ada.
b.     Sebuah kalimat sebaiknya pendek, tak lebih dari 10 kata. Hindari anak-anak kalimat. Meskipun mungkin menyalahi aturan tatabahasa, sebuah anak kalimat dapat berdiri sendiri sebagai kalimat tersendiri.
c.     Satu alenia sedapat mungkin tak lebih dari 10 baris, agar napas pembaca tidak tersengal-sengal karena capai membaca. Apalagi kalau masalahnya tidak menarik.
d.     Hindari istilah asing yang tidak perlu, cari padanannya dalam Bahasa Indonesia. Kalaupun terpaksa menggunakan istilah asing, tulislah dengan ejaan yang benar dan lengkap dengan artinya sekaligus. Jangan malas mencari kata atau istilah (terutama dalam hal bahasa asing non Inggris), di kamus atau ensiklopedia.
e.      Tulis nama orang selengkapnya dengan ejaan yang benar. Munawir Sjadzali, misalnya, jangan ditulis Munawir Sajali, atau Munawir Syazali. Kalau nama sumber berita, misalnya, Vera Ernawati, jangan keliru ditulis Verra Ermawaty. Tanya kepada sumber berita, bagaimana ejaan nama yang benar. f.       Profil orang harus lengkap (nama, umur, alamat, profesi, jumlah anak; kalau perlu hobi atau kebiasaan lain). Demikian pula data suatu masalah. Misalnya, sekolah elit Islam (nama, alamat, luas tanah, jumlah gedung, biaya pembangunan, SPP perbulan, jumlah guru, jumlah murid, prestasi sekolah, prestasi guru, prestasi murid, kurikulum, metode pengajaran, bagaimana labnya, perpustakaan, sarana olahraga, dan seterusnya).

D.  
Pedoman Kelima: MENULIS LAPORAN
1.     Tuliskan data profil selengkap mungkin, berikut keterangan yang relevan dengan data yang bersangkutan.
2.     Gambarkan suasana pada waktu wwancara. Apa pentingnya wawancara tersebut, misalnya sehubungan dengan seringnya masalah itu dibicarakan karena menyangkut tokoh yang kita wawancarai.
3.     Tulis hasil wawancara dalam bentuk tanya-jawab. Kalimat pertanyaan jangan persis seperti yang kita ucapkan. Kalimat itu harus dipersingkat dan diedit hingga menjadi kalimat yang bagus. Begitu pula jawabannya tidak harus persis sama dengan kalimat yang diucapkan oleh sumber berita. Kalau kalimat sumber berita bagus, ya boleh saja kita kutip. Tapi kalau kalimatnya ngaco harus kita edit, tapi tidak mengubah substansinya.
4.     Cara menuliskan hasil wawancara juga tidak harus urut seperti urutan pertanyaan ketika kita sedang wawancara. Pertanyaan dan jawaban disusun (kembali) sedemikian rupa, mulai dari hal-hal yang umum menuju ke hal yang khusus. Pertanyaan berikutnya, sebaiknya masih berkaitan dengan pertanyaan sebelumnya. Jangan tiba-tiba meloncat ke masalah yang sama sekali tidak berkaitan dengan persoalan yang ditanyakan sebelumnya.
5.     Pertanyaan terakhir sebaiknya ialah persoalan yang akan dijawab oleh sumber berita dengan jawaban yang aneh, lucu, unik, dan menarik – meskipun pertanyaan itu kita ajukan di tengah wawancara.
Catatan :
Banyak wartawan Indonesia yang lupa akan salah satu soko guru berita, yaitu 5W 1-H. Who, siapa yang menjadi tokoh kita, bagaimana profilnya; What, kejadian apa yang menjadi berita; Where, dimana kejadian itu berlangsung; When, kapan terjadinya peristiwa itu; Why, mengapa tokoh kita itu melakukan hal itu atau mengalami kejadian itu; How, bagaimana si tokoh itu melakukannya, bagaimana kejadian itu berlangsung. Dan akhirnya ingat baik-baik, bahwa unsur why dan how sangatlah penting, sebab kedua unsur inilah yang memberi bobot hingga berita menjadi “dalam” atau depth. “Bagaimana” dan “Mengapa”-nya bisa panjang-lebar.

E.   Pedoman Keenam: MENULIS REPORTASE
1.     Alenia pertama dari sebuah laporan jurnalistik disebut lead, yang bisa terdiri dari beberapa kalimat. Lead harus menarik, hingga pembaca tertarik untuk melanjutkan membaca. Kalau lead tidak menarik, apalagi bahasannya buruk, pembaca akan membuang majalah kita ke keranjang sampah.
2.     Ada beberapa jenis lead. Misalnya, lead suasana, profil, ucapan, masalah.
a.      Lead suasana bisa menarik. Misalnya, untuk tulisan mengenai sekolah elit Islam itu, begini. Gedung mewah bertingkat tiga itu tampak megah berdiri dengan arsitektur mutakhir. Halamannya luas, teduh. Rerumputan menghijau terhampar, diseling beberapa pohon angsana yang rindang. Anak-anak…(dan seterusnya).
b.     Lead profil juga menarik. Misalnya mengenai guru sekolah elit Islam yang bertitel doktor dan berprestasi sebagai ilmuwan. Ia menjadi andalan dan kebanggaan sekolah itu, bukan hanya karena prestasinya tapi juga lantaran ia ganteng. Begini. Perawakan dan tampangnya layak menjadi bintang film. Bukan hanya fisiknya, prestasinya pun boleh dibanggakan. Lelaki itu, Muttaqien, memang menjadi andalan Sekolah Elit Islam “Al-Multazam”, dan dibanggakan oleh anak didiknya. Dan seterusnya.
c.     Lead ucapan, agak kurang menarik. Begini. “Ah, sekolah kami kan biasa-biasa saja”, kata Prof. Muttaqien. Padahal, sekolah yang terletak di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Timur itu, banyak meraih prestasi. Beberapa muridnya sering menggondol berbagai kejuaraan. Dan seterusnya.
d.     Lead masalah. Ini sangat umum dan lazim digunakan, dan biasanya kurang “berseni”. Hampir semua orang bisa menuliskannya, dan kurang menarik. Misalnya begini. Sekolah elit banyak berdiri di Jakarta. Dulu, sekolah mewah dengan bayaran mahal itu banyak didirikan oleh kalangan sebuah lembaga pendidikan. Tapi kini “sekolah elit” seperti itu juga sudah banyak diselenggarakan oleh banyak kalangan. Dan seterusnya.
3.     Setelah lead, mulai masuk ke masalah. Masalah ini harus disusun sesuai dengan urutannya, jangan meloncat-loncat. Dan di tengah-tengahnya, seperti biasa, kita cantumkan ucapan (quotation) untuk memperkuat bahan.
4.     Dan akhirnya pilihlah ending yang juga menarik. Misalnya ucapan yang lucu atau mengagetkan, bisa pula masalah lain yang menarik sebagai kesimpulan.

F.    Pedoman Ketujuh: MENULIS JADI
1.     Baik dalam menulis laporan wawancara, reportase atau tulisan jadi, ada baiknya terlebih dahulu kita menulis outline atau rancangan, sebagai resume dari apa yang tergambar dalam pikiran kita, berdasarkan bahan yang kita dapat. Outline sangat membantu dan memudahkan kita menulis.
2.     Begitu kita akan menulis, pikirkanlah apa kira-kira lead-nya, apa kira-kira ending-nya, dan apa saja kira-kira urutan masalahnya.
3.     Siapkan diri dan mental untuk menulis, tapi ingat panjangnya berapa karakter. Tambahkan beberapa ratus karakter lagi agar redaktur bisa lebih leluasa mengeditnya.
4.     Nah, bagaimana dengan eye catching (kita singkat saja menjadi “taicing”)? “Taicing” terdiri dari 3 – 4 kalimat pendek, ditaruh di antara judul dan lead. Isinya semacam kesimpulan dari tulisan kita. Pilihlah kalimat-kalimat yang menarik, hingga dengan membaca selintas saja, pembaca jadi tertarik untuk membaca features kita sampai selesai.
5.     Dan akhirnya wartawan jangan sekali-kali menggurui. Tapi juga jangan sekali-kali punya anggapan bahwa semua orang “sudah tahu”. Karena itu, tulisan kita harus populer, bahasanya mudah, lucu, ringan, enak, tapi penting bagi pembaca. Juga jangan “menulis untuk diri sendiri”. Artinya, kita harus membayangkan bahwa tulisan kita akan dibaca oleh berbagai kalangan, mulai dari tukang becak sampai profesor, mulai dari pembantu rumah tangga sampai Ibu Negara. Membaca tulisan kita, si tukang becak tidak merasa digurui, sementara sang Ibu Negara tidak menilai kita terlalu bodoh.

G. 
Pedoman Kedelapan: TENTANG JUDUL
1.     Judul bukan hanya berfungsi sebagai “kepala”, atau ringkasan dari berita atau cerita, tapi juga sebagai upaya agar pembaca tertarik membacanya.
2.     Judul merupakan ringkasan atau kesimpulan dari berita atau cerita. Dan sebagai kesimpulan, judul harus singkat padat dan mencerminkan isi. Bahkan dalam Kode Etik Wartawan Indonesia (sudah baca belum?) disebutkan, bahwa wartawan Indonesia dilarang menulis judul (istilahnya “kepala berita”) yang tidak sesuai dengan isi berita.
3.     Judul jangan dibikin sembarangan. Meskipun sudah berfungsi sebagai “kepala” dan “kesimpulan”, usahakan agar “enak dibaca dan didengar”.
4.     Judul, selain sebagai kesimpulan atau ringkasan, bukan tak mungkin juga merupakan salah satu ucapan seseorang yang menjadi tokoh berita, atau sekedar “mewakili” salah satu kalimat yang khas atau lucu.
5.     Judul dibuat dengan membaca seluruh berita atau cerita, lalu menyimpulkannya, atau mengutip ucapan tokoh, atau mengambil potongan kalimat dalam berita. Kemudian diendapkan, dipikir-pikir, dicari beberapa altenatif, dipilih satu yang pas. Dan jitu.

Nah, selamat menulis dan terus menulis, karena dunia kita adalah dunia tulis-menulis!

***

Posted by BSH at 06:19:12 | Permalink | No Comments »

Wednesday, October 31, 2007

Bahan Pelatihan Menulis (IV)

DI kalangan para wartawan TEMPO di tahun 1970-an, ada sebuah peringatan yang mula-mula dianggap agak “lucu” dan “aneh” yaitu: “Mau selamat? Buatlah outline terlebih dulu!” Maksudnya tiada lain, sebelum menulis berita, laporan, reportase, wawancara, feature, susunlah dulu sebuah outline, rancangan atau kerangka tulisan.
 

          Pada umumnya, sebuah outline terdiri dari tiga bagian besar: lead, body, ending. Lead bisa dianggap sebagai pengantar atau pembuka sebuah tulisan. Lead yang baik ialah yang mampu menarik minat pembaca, menimbulkan keinginan tahu mereka, sehingga pembaca semakin penasaran dan meneruskan membaca. Ada beberapa macam lead, di antaranya: (1) lead sebagai kesimpulan dari tulisan, tapi lead begini kurang menarik; (2) lead yang menggambarkan profil tokoh yang menjadi tokoh sentral tulisan, dengan syarat profilnya menarik; (3) lead berupa reportase deskriptif mengenai situasi di sekitar rumah, kantor, kamar sang tokoh, atau suatu kejadian yang tragis, dramatis, memilukan, atau mungkin lucu.


          Begitu selesai menulis lead, yang panjangnya maksimal dua alinea, kita langsung menulis body tulisan. Tentu saja harus ada kesinambungan maalah dan logika antara kalimat terakhir lead dan kalimat pertama body. Dalam hal ini satu hal harus diingat, bahwa kalimat pertama dan kedua dari body tulisan harus langsung dapat mengacu pada masalah pokok yang kita tulis, yang biasa disebut angle, sudut pandang tulisan. Apa angle tulisan kita? Misalnya mengenai pengalaman ruhani Hughes yang gelisah mencari kebenaran dan akhirnya menemukan Islam sebagai kebenaran sejati. Nah, kita harus setia dengan angle, tulisan harus selalu terfokus pada angle.


Bahan bejibun!

          Bahwa ada variasi pikiran dan kejadian, namun semuanya harus kembali atau dikaitkan dengan angle. Kalau ada ucapan atau quotation, juga tetap harus diusahakan setia mengacu kepada angle. Masalah, kejadian, ucapan yang terekam dalam tape recorder atau tercatat dalam block note – tapi tak ada kaitannya dengan angle persoalan yang kita tulis – harap lupakan saja!

          Bingung menghadapi bahan bejibun? Gampang! Dengarkan hasil rekaman dari awal sampai akhir, catat hal-hal yang penting yang mungkin bisa dimanfaatkan dalam tulisan, tapi sesuaikan dengan outline. Baca pula semua bahan, baik catatan di block note maupun bahan dari kliping, lalu beri nomor urut, berdasarkan masalahnya. Masalah di lembar 5 mungkin kita kasih nomor 1 karena bisa dijadikan lead. Hasil wawancara di tengah-tengah wawancara mungkin bisa dikasih nomor 10 (misalnya) karena bisa dijadikan ending. Nah, nomor urut itu memudahkan kita “menjahit” bahan mentah hasil “belanjaan” ketika kita melakukan reportase dan wawancara menjadi tulisan yang kompak dan setia kepada angle.


Eye catching

          Itulah siasat yang sederhana tapi memudahkan kerja kita. Nah, gampang, kan? Tinggallah kini kita memikirkan apa dan bagaimana ending-nya. Seperti halnya menulis lead, mencari dan menulis ending juga tidak gampang. Tapi kalau kita bisa mensiasatinya dengan taktik “menjahit” tadi, maka kita tinggal “memasang” saja beberapa hal (masalah, kejadian, ucapan) yang sudah kita beri nomor tadi sesuai dengan urutan nomornya.

Jadi, bagaimana ending-nya? Carilah nomor terakhir, mungkin nomor 10 atau 15. Atau mau bikin ending yang lain? Bisa saja. Misalnya satu dua kalimat berupa sedikit opini yang merupakan kesimpulan dari kehidupan tokoh kita. Buatlah kalimat yang bagus, agak berbau sastra, mengharukan, atau bernilai hikmah.

          Selesai menulis ending tidak berarti tugas kita selesai. Kita masih harus membaca lagi (dengan teliti) tulisan kita, dan jangan lupa menulis apa yang disebut eye catching. Yang dimaksud dengan eye catching ialah dua-tiga kalimat yang merupakan kesimpulan dari tulisan kita. Sekali mata (eye) kita melihat, membaca, menangkap (to catch) dua-tiga kalimat tersebut, mafhumlah pembaca kita apa yang kita tulis. Setelah itu buatlah judul, yang menggambarkan atau mewakili isi atau makna tulisan. Judul yang baik ditulis dengan kalimat yang bagus, dan sedapat mungkin hanya terdiri dari (maksimal) empat kata.

***

Posted by BSH at 06:42:44 | Permalink | No Comments »

Friday, October 26, 2007

Bahan Pelatihan Menulis (III)

Banyak wartawan pemula yang bingung bagaimana memulai menulis berita atau artikel. Satu-satunya kunci sebagai jalan selamat ialah menyusun outline. Nah, perhatikan beberapa petunjuk praktis di bawah ini:

1. Outline. “Jika mau selamat, susunlah outline!” Outline, disebut juga kerangka tulisan, memang bisa “menyelamatkan” seorang penulis dari kerancuan logika, dari sistematika yang awut-awutan, sebab outline merupakan pedoman atau tuntunan bagi kita untuk menulis.
2. Lead. Sebuah tulisan (baik berita biasa maupun feature) selalu diawali dengan lead, yaitu satu atau dua kalimat (mungkin juga sebuah alinea) yang menarik – sehingga pembaca tertarik untuk membaca tulisan kita. Lead bisa berupa sebuah “keterangan” mengenai hal-hal yang aktual (misalnya berkenaan dengan HUT kota Jakarta, 22 Juni 2006), atau profil seorang public figure (Hari-hari ini, Nyonya Halimah masih nampak gundah gulana. Di benaknya seakan terbayang wajah Mayangsari yang sumringah tapi setengah menyeringai sinis….).

3. Body text. Setelah lead, kita masuk ke body text, yaitu persoalan sebenarnya yang akan kita tulis. Ingat, persoalan sebenarnya, atau inti persoalan. Jangan melebar kemana-mana. Kalaupun di dalamnya kita sertakan quotations, hendaknya yang relevan dengan persoalan yang kita tulis. Dan, hindari kata-kata seperti: terangnya, jelasnya, akunya, dan sebagainya.

4. Populer. Usahakan gaya kita dalam menulis cukup populer, mudah dipahami, hindari kata-kata asing (yang tidak perlu). Gaya menulis yang baik ialah gaya bertutur, bercerita, berkisah, dan sekali lagi deskriptif. Sebab, berita atau feature adalah a story about fact, not fiction. Jadi, story, cerita, kisah. Tapi, kisah yang menyangkut fakta. Sedangkan kisah yang menyangkut fiksi bukanlah berita atau feature, melainkan karya sastra.

5. Ending. Sebuah tulisan akan berakhir dengan enak dan pas jika kita mengakhirinya dengan ending yang bagus. Misalnya, …akhirnya Mayangsari mengalah, pulang ke rumah orangtuanya di Surabaya. Itu hanya misal. Banyak ending lain yang bagus, tapi tak mudah menemukannya!

6. Judul. Bagaimana dengan judul? Baik judul maupun eye catching (jangan sebut: catcher atau tai kucing!) sebaiknya dibuat ketika berita, artikel, feature kita sudah rampung. Tapi ingat, dengan selesainya sebuah tulisan tak berarti tugas Anda usai pula. Sangat dianjurkan agar Anda kembali dan kembali membacanya ulang, satu dua tiga kali lagi. Siapa tahu ada hal-hal yang kurang atau salah ketik. Malas? Kalau gitu jangan jadi wartawan!

***

Posted by BSH at 12:00:20 | Permalink | No Comments »

Bahan Pelatihan Menulis (II)


Sebelum menulis, seorang wartawan (dan redaktur) harus mencermati beberapa hal sebagai berikut:


1. Perencanaan
. Berbeda dengan kerja jurnalisme di masa silam, di masa modern ini perusahaan pers lazim menerapkan perencanaan. Baik di majalah, jurnal, akan tetapi terlebih-lebih lagi di koran harian. Rapat perencanaan pagi hari, sekitar jam 10:00, disebut rapat proyeksi atau perencanaan (sebelum atau selama reporter terjun ke lapangan), sedangkan rapat sore atau malam hari disebut rapat budgeting (lebih pada pembagian jatah halaman), atau rapat checking – lebih pada pengecekan bobot berita, layak berita. Tentu saja bisa terjadi dua-duanya dilakukan sekaligus. Dan itu sangat lazim.

2. Layak muat
. Dalam rapat perencanaan didiskusikan, apakah suatu berita atau kasus layak muat atau tidak, bobotnya seberapa, sangat istimewa, atau didrop saja. Dalam rapat perencanaan, sangat dianjurkan agar semua redaksi dan wartawan berbicara mengemukakan pendapat dan argumentasi untuk mempertahankan atau mengkritik atau menguji suatu berita atau artikel yang direncanakan akan dimuat.

3. Kriteria layak muat
. Kriteria layak muat, banyak. Antara lain: peristiwanya aktual, menyangkut sebuah nama penting (public figure, selebritas), menyangkut prestasi yang hebat, termasuk kejadian langka, menyangkut publik dalam jumlah (sangat) besar, dan seterusnya. Pendeknya: luar biasa, spesial. Sebagaimana filosofi berita yang sangat klasik: Anjing menggingit orang, itu berita biasa, bahkan bukan lagi berita. Tapi orang menggigit anjing, itu berita luar biasa, angat layak muat.

4. Angle
. Sebuah berita menyangkut seorang artis beken tentu akan dimuat oleh banyak media. Nah, bagaimana agar berita yang kita muat berbeda dengan berita di media lain, apalagi media saingan kita? Pilihlah angle (sudut pandang) yang berbeda, yang menarik. Bukan hanya itu, lakukan wawancara langsung, lontarkan pertanyaan strategis, tulis dan gambarkan profil selengkapnya, dengan reportase yang dalam (in depth reporting), dengan deskripsi yang “basah”, tidak kering. Itu belum cukup. Jepret dia dengan pose yang pas (sesuai dengan kejadiannya), dengan teknik fotografi yang profesional!

5. Assignment
. Agar supaya tulisan kita sesuai dengan yang dikehendaki dalam rapat perencanaan, buatlah assignment alias penugasan. Lembar Penugasan, selain memuat nama rubrik, masalahnya, nama narasumber, dan angle, tentu saja juga memuat daftar pertanyaan. Dan jangan lupa: foto apa dan bagaimana yang dikehendaki. Sangat dianjurkan kepada redaktur yang menugasi untuk (selalu) berdiskusi dengan wartawan yang ditugasi. Sebelum kolom pertanyaan, harus ada kolom mengenai reportase – apa yang harus digambarkan oleh si wartawan. Dalam hal pertanyaan, sekali lagi tuliskan pertanyaan yang strategis – bukan pertanyaan yang biasa-biasa saja. Dan jangan lupa, si wartawan harus mengembangkan assignment – tidak hanya membebek kaku pada penugasan mati itu.

6. Reportase
. Reportase tidak hanya berlaku ketika kita meliput sepakbola, nonton pergelaran musik, meliput kebakaran sebuah gedung. Ketika kita mewawancarai seorang publik figure, jangan lupa lakukan pula reportase. Bagaimana suasana rumahnya, ada hiasan apa saja, dia pakai parfum apa, merokok merk apa, bagaimana gaya bicaranya, sepatu atau arlojinya merk apa. Pendeknya: pemotretan atau penggambaran yang descriptif. Reportase dan deskripsi adalah darah segar sebuah berita (dalam hal ini feature – bukan hard news atau straight news).

7. Wawancara
. Sebelum wawancara, sangat dianjurkan kita sudah memiliki bahan mengenai siapa narasumber yang akan kita temui, kejadiannya bagaimana, dan seterusnya. Sehingga ketika kita wawancara tidak kelihatan bego-bego amat. Selain itu, lontarkan pertanyaan-pertanyaan strategis – yang tidak ditanyakan oleh wartawan lain. Jangan sekali-kali bertanya, misalnya, “Bagaimana perasaan Anda ketika…..” atau “Mengapa terjadi hal seperti itu?” Ini pertanyaan wartawan dungu! Sekali lagi, kita sudah harus punya bahan (kalau bisa, lengkap), dan lontarkan pertanyaan yang strategis.

8. Jangan malu bertanya
. Jangan malu bertanya! Kalau memang tidak tahu bagaimana ejaan namanya, atau ejaan sebuah istilah asing, jangan malu bertanya. Dan jangan sungkan untuk minta kepada narasumber untuk menuliskan nama atau istilah itu. Begitu pula ketika sebuah keterangan (ternyata) tidak jelas di telinga Anda, jangan sungkan-sungkan bertanya lagi. Demikian pula jika ada penjelasan yang tak masuk akal, jangan sungkan untuk berdiskusi. Semua itu, tentu saja, lakukanlah dengan cukup sopan tapi bermartabat – tanpa merendah-rendahkan diri!

9. Tape recorder
. Sangat wajar jika seorang wartawan membawa alat perekam ketika wawancara. Tapi, Anda sebaiknya juga tetap mencatat hal-hal penting di buku saku. Dan (ini penting!) setelah kembali ke kantor, sebaiknya (sebaiknya!) Anda tidak melakukan transkripsi – yang biasanya mengganggu teman-teman sekantor itu. Untuk menulis kembali hasil wawancara, andalkanlah ingatan dan catatan di buku saku Anda, sementara kaset perekam hanyalah sebagai alat pengecekan saja. Karena itu: jangan sekali-kali menunda untuk menuliskan kembali hasil wawancara Anda, hasil reportase Anda, “belanjaan” Anda di lapangan sebagai reporter. Mumpung masih hangat di memory Anda, tulislah!

***

Posted by BSH at 11:45:55 | Permalink | No Comments »

Bahan Pelatihan Menulis (I)

Di bawah ini saya sampaikan beberapa hal yang harus diketahui oleh para calon wartawan pemula:

1.   Profesional. Istilah “profesional” bukanlah sekedar penamaan gagah-gagahan. You are a professional journalist, it means you are a real journalist. Wartawan yang profesional ialah wartawan yang sebenar-benar wartawan, bukan wartawan yang tidak mengerti posisi dan perannya, bukan wartawan yang tidak mengerti hakikat tugasnya, bukan wartawan yang tidak tahu tanggung jawabnya, bukan wartawan gadungan. Ia sadar sebagai “penyambung lidah” publik, masyarakat as a silence majority. Ia mengetahui betul apa yang terkandung dalam UU Nomor 40/1999 tentang Pers, ia memahami betul makna Kode Etik Jurnalistik (yang baru, Maret 2006). Ia tahu makna 5 W 1 H, ia mengerti apa artinya menepati dead line, ia tahu bahwa karyanya harus bagus, mendekati sempurna, akurat, cepat, dan menggunakan bahasa Indonesia yang baku, baik dan benar. Wartawan yang profesional ialah wartawan yang tidak bodoh, tidak dungu, selalu peduli, dan mengikuti perkembangan.


2.   The nose of news. Wartawan yang baik, yang profesional, tak harus lulusan Jurusan Publisistik, Jurnalistik atau kursus-kursus pelatihan jurnalisme. Namun, profesionalisme memang membutuhkan waktu, membutuhkan jam terbang yang tinggi, lama. Namun, itu tak berarti untuk menjadi wartawan yang baik dan profesional tidak bisa dipelajari. Cuma Anda harus memenuhi syarat mutlak, yakni: niat yang mantap, ketetapan hati untuk mengambil jurnalisme sebagai profesi sampai mati, mempelajari dan memahami hakikat jurnalisme, terus menerus belajar, membaca dan menulis. Pendeknya, tiada hari tanpa membaca dan menulis. Selain itu, ia pantang barkata, “ah, tidak bisa, tidak sempat, sulit ditembus, sulit ditemui.” Jika semua itu lebih dimantapkan lagi dengan berbagai pengalaman dan latihan terus-menerus, bukan tak mungkin Anda akan memiliki apa yang disebut the nose of news, kemampuan untuk mengendus berita – berita mana yang layak dan menarik, berita mana yang cuma sampah.


3.   Jalan selamat. Jika Anda pengin “selamat”, lakukan hal-hal berikut: (1). Mantapkan profesionalisme, jangan pernah puas, selalu chek and recheck; (2). Lihat sekeliling, pertajam the nose of news; (3). Bekerjalah penuh kegembiraan dan tanggung jawab; (4). Susun assignment dan outline, kerangka pikiran untuk meliput, wawancara, menulis; (5). Perlakukan sebuah karya jurnalisme sepenuh cinta, sebaik dan sesempurna mungkin, baca ulang secara kritis.

Posted by BSH at 11:39:08 | Permalink | No Comments »

Sunday, September 17, 2006

Sedikit tentang Basic Journalism (5)

/ Budiman S. Hartoyo

 

BENARKAH sekarang ini pers sudah meninggalkan obyektivitas? Banyak orang bukan saja meragukan, bahkan melihat kenyataan seperti itu. Apalagi, dalam jurnalisme sastra yang tampaknya mulai menjadi kecenderungan pers saat ini, salah satu cirinya konon meninggalkan obyektivitas. Dari sini tampak bahwa sebenarnya orang masih percaya bahwa menurut teori, pers harus obyektif. Tapi melihat kinerja (performance) pers masa kini, orang lantas menggugat obyektivitas itu.
 Saya melihat ada lima kesalahan sekaligus.

 

            Kesalahan pertama, mengukur pers dari kinerjanya, bukan berdasarkan teori jurnalisme yang baku. Orang mengakui, bahkan sudah takluk pada kenyataan bahwa pers sudah tidak obyektif lagi. Kesalahan kedua, orang menggunakan hasil pengamatan (yang belum tentu benar) tersebut untuk memvonis kinerja pers secara keseluruhan. Kesalahan ketiga, orang tidak menyertakan data untuk memperkuat argumentasi. Kesalahan keempat, orang mengikut-sertakan jurnalisme sastra untuk memperkuat tolok ukur bagi pers yang tidak lagi obyektif. Kesalahan kelima, salah persepsi terhadap jurnalisme sastra. Bahwa pers atau jurnalisme harus obyektif, harus mengemukakan fakta tanpa opini, harus berimbang, harus akurat, harus aktual — merupakan teori baku yang menurut saya sampai kapan pun tak terbantahkan.

 

           Kalau pun kinerja pers masa kini (atau kapan pun juga) dinilai tidak lagi memenuhi teori baku tersebut, tidak berarti sudah muncul teori baru, atau ada lompatan kemajuan di dunia pers. Justru sebaliknya harus dikatakan, bahwa pers yang tidak obyektif (dan sebagainya) sesungguhnya bukanlah pers. Ada yang melihat pers masa kini tidak lagi obyektif, tapi tanpa memberikan data.

 

           Kalau pun ada data mengenai hal itu, adakah hal itu merupakan kecenderungan mainstream? Mungkin memang ada pers yang tidak obyektif, juga pers yang tampil sebagai yellow papers; tapi hal itu hanya kecenderungan sebagian sangat kecil, bukan kecenderungan mainstream pers kita. Saya juga tak punya data yang cukup komprehensif, tapi saya kira sulit membantah bahwa koran atau majalah-majalah berikut ini telah meninggalkan teori jurnalisme yang baku: Kompas, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Media Indonesia, Republika, Koran TEMPO, Neraca, Bisnis Indonesia, Jawa Pos, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Serambi Indonesia, Riau Pos, Waspada, Haluan, Lampung Post, Fajar, Bali Pos, Majalah TEMPO, Forum Keadilan, Gatra, Pantau.

 

         Memang ada sebagian kecil pers kita yang kalau ditilik-tilik memang telah dengan sembrono melangar teori jurnalisme yang baku. Lihatlah, misalnya, Rakyat Merdeka, Pos Kota, sebagian penerbitan di bawah payung Jawa Pos Group, juga beberapa penerbitan kecil di beberapa daerah. Jadi, kalau pun ada data bahwa pers, atau sebagian kecil pers kita saat ini, tidak lagi obyektif – ya itu jelas pers yang melakukan kesalahan besar. Bukan lantas justru kita membenarkan data lapangan tersebut. Apalagi data tersebut  belum tentu benar, karena bukan merupakan kecenderungan mainstream.

 

           Jurnalisme sastra tidak obyektif? Siapa bilang? Dari mana teori semacam itu? Saat ini jurnalisme sastra merupakan kecenderungan sebagian sangat kecil pers kita, sementara sebagian terbesar dari mereka belum mengerti apa itu jurnalisme sastra. Jurnalisme sastra tetaplah merupakan karya jurnalisme, dan sama sekali bukan karya sastra. Jika yang dimaksud dengan “jurnalisme sastra” adalah “karya sastra”, itu salah besar. Tapi, karya sastra memang tak mungkin obyektif; karya sastra selalu subyektif.

          Adapun jurnalisme sastra (sebagai karya jurnalisme) adalah the story about facts, not fiction. Sebaliknya, karya sastra adalah the story about fiction, non facts. Yang ditulis dengan gaya jurnalisme sastra tetaplah fakta, fakta dan fakta, dan sama sekali bukan fiksi. Jurnalisme sastra sama sekali bukan cerita rekaan, tapi cerita sebenarnya mengenai suatu kejadian atau peristiwa yang nyata dan benar-benar terjadi, yang tiada lain adalah fakta.

          Jurnalisme sastra pertama-tama adalah jurnalisme, dan sama sekali bukan dibalik menjadi “sastra jurnalisme” – suatu gaya yang jelas musykil. Bahwa pendekatan gaya penulisan jurnalisme sastra adalah sastra, memang sesuai dengan namanya. Tapi gaya penulisan jurnalisme yang “bersastra-sastra” haruslah sama sekali tidak mengorbankan hakikat jurnalisme yang menceritakan fakta. Gaya penulisan sastra hanyalah sekedar gaya, sementara hakikat jurnalisme tetaplah jurnalisme dengan kaidah-kaidah jurnalisme yang faktual.***   

Posted by BSH at 04:56:43 | Permalink | Comments (11)