Selasa, May 06, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (V)


Catatan:
Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian V (kelima).

 

Wartawan jarang menyadari, bagaimana lead terbaik yang hendak dipakainya. Untuk memudahkan memilih lead, perlu diketahui berbagai macam lead, seperti di bawah ini.

 

Lead Ringkasan

Lead ini sama dengan yang dipakai dalam penulisan hard news. Yang ditulis hanya inti ceritanya, dan kemudian terserah pembaca apakah masih cukup berminat untuk mengikuti kelanjutannya atau tidak.

 

Lead ringkasan ini sering dipakai bila reporter mempunyai persoalan yang kuat dan menarik, yang otomatis akan laku dibaca. Karena lead ini sangat gampang ditulis, banyak reporter yang langsung memilihnya jika ia diuber deadline, atau jika ia bingung mencari lead yang lebih baik.

 

Beberapa contoh lead ringkasan:

 

* Ini satu lagi kasus peninggalan bekas Gubernur DKI Jaya Wiyogo Atmodarminto: Pasar Regional Jatinegara (TEMPO, 30 Januari 1993, Komisi di  Jatinegara).

 

* Ada orang ketiga di rumah tangga, kalau bukan bikin sewot istri, ya, bikin melotot suami (TEMPO, 1 Januari 1994, Two in One Versi Tuban).

 

Dari setiap contoh tersebut, jelas bahwa yang akan diceritakan sudah tertulis dalam lead. Pembaca tahu intisari cerita setelah membaca lead. Kata kasus dalam contoh pertama menunjukkan, bahwa cerita yang akan disampaikan ialah tentang ketidak-beresan di Pasar Regional Jatinegara yang dibangun di zaman Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto. Sedangkan pada lead kedua, sudah bisa dibaca bahwa yang akan diceritakan ialah tentang hadirnya orang ketiga yang menimbulkan keributan di sebuah rumah tangga.

 

Kedua cerita itu umumnya dianggap cukup kuat untuk menarik minat pembaca. Yang pertama, masalah ketidak-beresan sebuah proyek tempat masyarakat bertemu; yang kedua, masalah yang bisa menimpa hampir setiap rumahtangga: kehadiran orang ketiga.

 

Lead Bercerita
Lead ini, yang digemari oleh penulis fiksi (novel atau cerita pendek), cukup menarik pembaca. Tekniknya: menciptakan suasana, dan membiarkan pembaca menjadi tokoh utama, entah dengan cara membuat “kekosongan” yang kemudian secara mental bisa diisi oleh pembaca, atau dengan membiarkan pembaca mengidentifikasikan diri di tengah kejadian yang berlangsung.

 

Hasilnya berupa teknik sebagaimana yang dibuat dalam sebuah film yang baik. Apakah Anda pernah merasa haus ketika menyaksikan seorang pahlawan (dalam film) kehausan di tengah padang pasir? Apakah Anda gemetar di tempat duduk ketika menyaksikan film horor?

 

Lead semacam ini sangat efektif untuk cerita petualangan. Misalnya seorang wartawan yang melaporkan suasana di sudut sebuah rumah di Bosnia Herzegovina yang lagi dilanda perang saudara.

 

* Kami makan anggur kematian, dan anggur itu lezat. Berair, biru kehitaman, manis dan asam. Mereka menggantungkan setandan anggur masak di beranda belakang rumah milik muslim yang istrinya belum lama tewas oleh bom seorang Serbia . Ini senja di Bosnia , langit sama biru tuanya dengan anggur-anggur itu (TEMPO, 27 Maret 1993, Potret Berdarah dari Dalam).

 

Wartawan rubrik kriminalitas sering memakai lead bercerita dalam cerita feature untuk melaporkan peristiwa kejahatan.

 

* Hari itu, ada lima mayat yang hangus terpanggang. Sesosok mayat laki-laki dewasa dan tiga anaknya berserakan di sana-sini dengan tubuh rusak bekas dibantai. Pemandangan itu ditemukan penduduk di puing sebuah gubuk yang hangus terbakar (TEMPO, 25 Januari 1992, Tragedi di Kebun Karet).

 

Lead untuk sebuah feature yang lain bisa begini:

 

* Toha gelagapan. Ia seperti menghirup ruang hampa. Sebisanya ia mengisap corong udara di hidungnya. Tapi sia-sia. Tabung oksigen di punggungnya ternyata sudah kosong. Ia panik. Permukaan laut masih puluhan depa di atasnya (TEMPO, 16 November 1993, Suka Duka Sang Penyelam).

 

Lead tersebut mempunyai keuntungan, karena bisa menggaet pembaca lebih efektif daripada lead lain. Begitu pembaca mengidentifikasikan diri dengan atau menjadi tokoh ceritanya, ia pasti sudah tergaet.

 

Tetapi ada kerugiannya: tak semua cerita bisa cocok diberi lead seperti itu. Reporter yang mencoba memaksakan lead macam ini akan menghasilkan lead yang tidak wajar, atau lead seperti itu justru akan merusak cerita.

 

(Bersambung)

 

Posted by BSH at 01:18:31 | Permanent Link | Comments (0) |
Komentar