PEDOMAN MENULIS FEATURE (IV)
Pengantar:
Berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan Saya Wartawan TEMPO. Buku pedoman para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 bagian, berikut ini bagian ke-IV.
MENANGKAP KESALAHAN
Untuk menangkap kesalahan, baik ejaan, gaya , maupun pemakaian kata, memang hanya ada satu cara. Yakni, membaca dan membaca naskah Anda kembali. Mereka yang dikaruniai kepandaian mungkin hanya sekali baca sudah bisa melihat suatu kesalahan. Tapi, wartawan lain memerlukan waktu berkali-kali untuk membaca dan membuka kamus untuk mengecek pekerjaannya.Berikut ini salah satu cara mencari kesalahan dalam naskah Anda, tanpa banyak merugikan kelancaran menulis.
Jangan mengecek ejaan, atau pemakaian kata, ketika menulis cerita. Berkali-kali membuka kamus atau buku pedoman di tengah Anda menulis akan menghambat kelancaran kreativitas, dan itu memakan waktu.
Tapi, segera setelah cerita selesai ditulis, perhatikan naskah Anda kata demi kata. Pelototilah setiap kata seolah-olah mereka adalah “musuh” Anda yang akan menyabot cerita Anda. Kalau ada kemungkinan salah, walau sekecil apapun, ceklah kata tersebut sampai Anda yakin bahwa kata itu sudah benar, atau Anda harus menggantinya.
Bila waktu memungkinkan, lakukanlah pengecekan ulang sekali lagi. Sering mata Anda terlena pada satu baris atau paragraf, ketika Anda mengecek cerita Anda. Maka pengecekan ulang akan mengurangi kesalahan.
Untuk beberapa jenis feature, mungkin Anda perlu bekerja selama beberapa hari, kemudian mengendapkan cerita itu barang sehari atau dua setelah pengecekan secara sistematis. Kemudian, sebelum menyerahkan cerita tersebut, saringlah lagi kesalahan yang mungkin masih ada. Dengan pandangan yang segar, kesalahan sering tampak lebih nyata.
Bila Anda menemukan kata yang salah eja atau salah pakai, catatlah di buku catatan khusus. Beberapa reporter menyimpan daftar kata yang membingungkannya, agar ia selalu bisa mengecek mana yang salah dan mana yang benar dengan cepat. Belajar mengeja kata-kata, tentulah akan sangat membantu.
Jika Anda didesak oleh deadline, sementara Anda ragu arti sebuah kata yang hendak Anda gunakan, pakai saja sinonim atau padanannya.
MENGAIL DENGAN LEAD
Kunci untuk penulisan feature yang baik terletak pada paragraf pertama, yang disebut lead. Mencoba menangkap minat pembaca tanpa lead yang baik, sama dengan mengail ikan tanpa umpan.
Setiap wartawan seharusnya selalu sadar akan perlunya lead. Keranjang sampah penuh dengan lead yang tak bermutu, karena wartawan memakai lead yang itu-itu juga dalam usahanya menarik minat pembaca.
Lead untuk feature mempunyai dua tujuan utama.
Pertama, untuk menarik pembaca agar selalu mengikuti cerita; kedua membuat jalan agar supaya alur cerita bisa lancar.
Banyak pilihan lead; sebagian untuk menyentak pembaca, sebagian untuk menggelitik rasa ingin tahu pembaca, dan yang lain untuk mengaduk imajinasi pembaca. Masih ada yang lain, seperti lead untuk memberi tahu pembaca tentang cerita yang bersangkutan secara ringkas.
(Bersambung)

