Selasa, Februari 12, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (I)

Pengantar. Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh (alm) Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, dan 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut ini bagian I (pertama).

-------------------------------------------------------------------
              
Dalam menulis berita di suratkabar, yang diutamakan ialah pengaturan fakta-fakta. Tapi, dalam penulisan di majalah berita, bentuk penulisan cenderung bergaya feature, mengisahkan sebuah cerita.

              
Penulis feature pada hakikatnya seorang yang berkisah. Ia melukis gambar dengan kata-kata, menghidupkan imajinasi pembaca, menarik pembaca agar masuk ke dalam cerita dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama.

              
Jika seorang wartawan (yang bertugas di) balai kota menggambarkan wali kota dengan sepatunya yang gemerlapan dan kumisnya yang keputih-putihan dalam berita, redaktur kota akan marah, karena tulisan itu bertele-tele. Tapi, sebaliknya, jika sang reporter melupakan gambaran sang wali kota pada saat ia menulis feature, redaktur kota mungkin akan berkata, “Orangnya seperti apa? Saya tidak bisa membayangkannya.”

              
Penulis feature, untuk sebagian besar, tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar. Sebab ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi, jika ada aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan tersebut.

              
Doktrin klasik dalam menulis (struktur) berita yang disebut “piramida terbalik” (susunan tulisan yang meletakkan informasi pokok di bagian atas dan informasi yang tidak begitu penting di bagian bawah, hingga mudah dibuang jika tulisan itu perlu diperpendek) sering ditinggalkan. Terutama jika urutan peristiwa sudah dengan sendirinya membentuk cerita yang baik. Feature yang singkat dan lucu, yang biasanya ditemukan di halaman pertama suratkabar, sering ditulis sesuai dengan urutan waktu.

Contoh:
               Brury, seorang petugas patroli, punya pengalaman paling sial Jumat malam lalu. Pukul 16.30 sore ia lapor ke kantor. Lima menit kemudian, selama berpatroli dengan mengenakan pakaian seragam, lampu senternya jatuh. Ketika membungkuk untuk memungutnya kembali, celananya sobek di bagian pantat.

               
Pukul 17.15 sore, ia mencoba menolong seekor anjing yang menggonggong. Sejam kemudian ia dirawat karena kakinya digigit anjing.

              
Segera setelah pukul 19.00 malam ia kesenggol mobil yang ngebut. Pengemudinya seorang detektif narkotik yang sedang nguber padagang heroin.

              
Pukul 21.50 ia dipanggil ke sebuah bar untuk melerai pertengkaran. Setengah jam kemudian, ia dirawat karena luka-luka di kepalanya akibat pukulan botol wiski. Perawatan dilakukan di pusat kesehatan masyarakat setempat.

              
Brury kembali lagi ke rumah sakit pukul 23.40 malam, setelah menguber tersangka perampokan. Kaki kanannya terkena kaca ketika ia jatuh.

              
Setelah meninggalkan rumah sakit, ia kembali ke kantor polisi pukul 24.05 dinihari untuk mengakhiri tugasnya. Tapi, waktu itu seorang pengendara motor menabrak dari belakang mobil dinasnya di perempatan lampu lalulintas. Sekali ini, ia tidak terluka.

              
Akhirnya pukul 24.30 ia pulang, Ketika sampai di tempat parkir, ia menerima sebuah laporan polisi lagi. Dicuri: sebuah sepeda motor Honda, STNK nomor B 1995 GK. Pemiliknya: Brury, umur 31 tahun, tinggal di Gang Kenari 27.

              
Reporter yang menulis cerita Brury sebagai feature, dan tidak menuliskannya sebagai berita, memperoleh hasil yang baik dari bahan yang tersedia. Feature itu pantas dimuat di halaman pertama, sedangkan sebagai berita sedikit sekali nilainya. Bila dibuat berita, bentuknya seperti ini:

              
Brury, seorang petugas patroli, dirawat karena luka-luka ringan pada tiga insiden terpisah Jumat malam. Polisi itu juga mengalami kecelakaan ringan akibat ditabrak mobil.

              
Brury, 31 tahun, digigit anjing pada pukul 17.15 sore, kepalanya terkena botol wiski di bar pada pukul 21.50 malam, dan kakinya luka karena pecahan kaca ketika jatuh dalam suatu pengejaran penjahat pada pukul 23.27. Ia dirawat dan kemudian dibolehkan pulang dari pusat kesehatan masyarakat setempat.

              
Suleman, 38 tahun, penghuni Jalan Kebyar nomor 19, ditangkap dan dituduh menyerang polisi dalam sebuah pertengkaran di bar.

              
Mobil dinas Brury sedikit rusak ketika ditabrak dari belakang oleh mobil yang dikemudikan oleh Ny. Aminah di persimpangan Jalan Kuningan pada pukul 12.05 hari ini. Tak ada seorang pun yang luka.

              
Perhatikan: berita itu lebih banyak menyampaikan informasi mengenai kecelakaan, dan tidak menyebut-nyebut materi yang tidak punya nilai berita, tapi penting, seperti celana yang sobek. Reporter berita bisa dengan mudah mengambil keputusan untuk meninggalkan cerita tentang pencurian sepeda motor. Sebab, hal itu terpisah, tidak langsung berhubungan dengan cerita tentang luka ringan yang dialami seorang polisi.

               Cerita mana yang lebih menarik? Cerita mana yang lebih informatif? Cerita mana yang lebih enak ditulis?

(Bersambung)

Posted by BSH at 00:46:22 | Permanent Link | Comments (0) |
Komentar