Monday, January 19, 2009

PEDOMAN MENULIS FEATURE ( X )

Kawan-kawan
          Berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan Saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian ke-X (sepuluh).
 
TUBUH DAN EKOR
          Misalkan Anda sudah punya lead yang hidup dan menarik, problem Anda berikutnya (yang kadang-kadang paling sulit) adalah menyusun materinya sehingga bisa memikat pembaca untuk mengikuti dari awal sampai akhir. Dalam penulisan berita hal ilu lebih gampang, karena setiap cerita ditulis dalam bentuk yang sama: piramida terbalik. Banyak feature yang menganut bentuk ini. Tapi sebenarnya tidak ada patokan bentuk feature yang tegas. Ini membuat penulisan feature lebih sulit dalam beberapa hal. Tapi juga memungkinkan kreativitas dan kecakapan.

          Apakah “piramida terbalik” itu dan apa manfaat praktisnya? Dalam “piramida terbalik”, bahan tulisan (informasi) disusun sedemikian rupa sehingga pembaca memperoleh bagian terpentingnya segera pada awal tulisan. Materi disusun sesuai dengan urutan pentingnya: informasi makin ke bawah makin kurang penting, lebih banyak detail, sementara pokoknya sudah dimuat di atas. Dalam dunia pers yang terburu-buru, “piramida terbalik” mempunyai dua fungsi.

          Pertama, bentuk “piramida terbalik” itu memungkinkan editor memotong naskah dari bawah. Karena berita disusun sesuai dengan nilai pentingnya maka editor bisa dengan cepat memotong dari belakang sesuai dengan halaman yang tersedia. Ini sangat menolong, terutama bila naskah diserahkan menjelang dealline. Editor tidak perlu membaca terlalu teliti Kedua, bentuk penulisan tersebut memungkinkan diketahui dengan cepat apakah berita itu layak dimuat atau tidak: editor cukup membaca leadnya saja. Editor tahu bahwa unsur terpenting cerita itu mesti ada pada lead. Apa hubungan antara hal itu dan feature?
 
          Bentuk paling umum suatu feature juga piramida terbalik, tapi ada satu tambahan: ending, atau penutup tulisan. Sebuah feature memerlukan — bahkan mungkin harus — ending karena dua sebab: Pertama, menghadapi feature hampir tak ada alasan untuk terburu-buru dari segi proses redaksionalnya. Editor tidak lagi harus asal memotong dari bawah. Ia punya waktu cukup untuk membaca naskah secara cermat dan meringkasnya sesuai dengan ruangan yang tersedia. Bahkan feature yang dibatasi deadline diperbaiki dengan sangat hati-hati oleh editor, karena ia sadar bahwa kebanyakan feature tak bisa asal dipotong dari bawah. Feature mempunyai penutup (ending) yang ikut menjadikan tulisan itu menarik.
 
          Kedua, ending bukan muncul tiba-tiba, tapi lazimnya merupakan hasil proses penuturan di atasnya yang mengalir. Ingat bahwa seorang penulis feature pada prinsipnya adalah tukang cerita. Ia dengan hati-hati mengatur kata-katanya secara efektif untuk mengkomunikasikan ceritanya. Umumnya, sebuah cerita mendorong untuk terciptanya suatu “penyelesaian” atau klimaks. Penutup tidak sekadar layak, tapi mutlak perlu bagi banyak feature. Karena itu memotong bagian akhir sebuah feature, akan membuat tulisan tersebut terasa belum selesai.
 
BEBERAPA JENIS ENDING
          1. Ending ringkasan. Penutup ini bersifat ikhtisar, hanya mengikat ujung-ujung bagian cerita yang lepas-lepas dan menunjuk kembali ke lead.
          2. Ending penyengat. Penutup yang mengagetkan bisa membuat pembaca seolah-olah terlonjak. Penulis hanya menggunakan tubuh cerita untuk menyiapkan pembaca pada kesimpulan yang tidak terduga-duga. Penutup seperti ini mirip dengan kecenderungan film modern yang menutup cerita dengan mengalahkan orang “yang baik-baik” oleh “orang jahat”.
           3. Ending sebagai klimaks. Penutup ini sering ditemukan pada cerita yang ditulis secara kronologis. Ini seperti sastra tradisional. Hanya saja dalam feature, penulis berhenti bila penyelesaian cerita sudah jelas, dan tidak menambah bagian setelah klimaks seperti cerita tradisional.
           4. Ending yang bisa jadi bukan merupakan suatu penyelesaian. Penulis dengan sengaja mengakhiri cerita dengan menekankan pada sebuah pertanyaan pokok yang tidak terjawab. Selesai membaca, pembaca tetap tidak jelas apakah tokoh cerita menang atau kalah. Ia menyelesaikan cerita sebelum tercapai klimaks, karena penyelesaiannya memang belum diketahui, atau karena penulisnya sengaja ingin membuat pembaca tergantung-gantung.

          Seorang penulis harus dengan hati-hati dalam menilai ending-nya, menimbang~nimbangnya apakah penutup itu merupakan akhir yang logis bagi cerita itu. Bila merasakan bahwa ending-nya lemah atau tidak wajar, ia cukup melihat beberapa paragraf sebelumnya, untuk mendapat penutup yang sempurna dan masuk akal. Menulis ending atau penutup feature sebenarnya termasuk gampang. Kembalilah kepada peranan “tukang cerita” dan biarkanlah cerita Anda mengakhiri dirinya sendiri, secara wajar. Seorang wartawan profesional selalu berusaha bercerita dengan lancar, masuk akal, dan tidak dibikin-bikin.
 
(Bersambung)
 

Posted by BSH at 06:33:28 | Permalink | No Comments »