Jumat, Juni 20, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (VII)


Pengantar

Berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 bagian. Berikut Bagian VII.


Lead
Pertanyaan
Lead ini efektif bila berhasil menantang pengetahuan atau rasa ingin tahu pembaca. Sering kali, lead ini dipakai oleh wartawan yang tidak berhasil menemukan lead yang imajinatif. Lead ini gampang ditulis, tapi jarang membuahkan hasil terbaik.


Dalam banyak hal, lead ini cuma taktik. Wartawan yang menggunakan lead ini tahu, bahwa ada pembaca yang sudah mengetahui jawabannya, ada pula pembaca yang belum tahu. Yang ingin ditimbulkan oleh lead ini ialah rasa ingin tahu pembaca: yang belum tahu, mestinya terus ingin membaca; sedangkan yang sudah tahu dibuat ragu-ragu apakah pengetahuannya cocok dengan informasi si wartawan.


Banyak editor enggan memakai lead ini, karena pembaca sering dibuat kesal oleh jebakannya. Biasanya lead bercerita atau deskriptif lebih disukai. Meskipun demikian, tidak berarti lead pertanyaan lebih rendah mutunya dari yang lain. Kadang-kadang ada cerita yang bisa diberi lead pertanyaan secara wajar.

Seorang wartawan Sekretariat Negara yang menulis feature tentang kenaikan gaji pejabat tinggi bisa menulis begini:
* Berapa gaji Presiden Soeharto sekarang? (TEMPO, 23 Januari 1993, Presiden Naik, DPR Naik).

Seperti juga lead-lead yang lain, lead pertanyaan hanya bisa efektif bila materinya memang secara wajar bisa diberi lead pertanyaan. 
Contoh lain:

* Apa yang membuat sekelompok orang ngotot, menolak pindah, meski gubuk tempat mereka tinggal terus dirayapi oleh air yang menggenang? (TEMPO, 27 April 1991, Kedungombo).

Lead
Menuding
Bila reporter berkomunikasi langsung dengan pembaca, ini disebut lead menunjuk langsung. Ciri-ciri lead ini ialah ditemukannya kata Anda yang disisipkan pada paragraf pertama atau di tempat lain.

Keuntungannya jelas. Pembaca -- kadang-kadang tidak secara sukarela -- menjadi bagian cerita. Penyusunan kata-katanya melibatkan Anda secara pribadi dalam cerita itu. Misalnya, seorang reporter yang mangkal di kantor imigrasi dan menemukan adanya kesalahan cekal terhadap seseorang yang tidak bersalah, mungkin membuat lead sebagai berikut:.
* Bila Anda punya nama kodian, harap hati-hati. Salah-salah Anda kena cekal, tak boleh ke luar negeri (TEMPO, 30 Januari 1993, Gara-gara Nama Sama).

Lead
seperti itu langsung melibatkan pembaca secara pribadi. Rasa ingin tahu mereka disinggung: jangan-jangan namanya, atau nama keluarga dekat, atau teman dekatnya, tergolong nama kodian itu. Menggunakan lead seperti ini memang terasa sebagai taktik untuk memikat.

Ada
contoh lain. Lead ini secara langsung menyeret pembaca ke dalam persoalan dan membawanya untuk membaca tulisan secara keseluruhan.
* Bila harus memilih antara diet kolesterol dan penyakit jantung, tentu Anda memilih yang pertama (TEMPO, 5 Februari 1994, Para Eksekutif, kolesterol dan Jantung).

Yang perlu diingat, membuat lead yang menuding langsung seperti contoh tersebut memerlukan imajinasi yang kuat. Sebab, di sini ada bahayanya. Salah-salah, Anda membuat lead yang cenderung kedengaran sok dan amatir. Misalnya:
* Kalau (Anda) mau hidup enak dan terhormat, jadilah eksekutif di perusahaan konglomerat (TEMPO, 6 Februari 1993, Eksekutif Jutaan Rupiah).

Berbeda dengan lead sebelumnya, meski tetap punya daya tarik (hidup enak dan terhormat tentunya
diminati umumnya orang), lead yang ini terasa kurang memikat. Soalnya, tak semua orang punya kesempatan menjadi eksekutif, apalagi di perusahaan konglomerat. Dengan kata lain, lead ini kurang melibatkan banyak pembaca secara pribadi.

(Bersambung)
Posted by BSH at 22:55:54 | Permanent Link | Comments (0) |