Selasa, May 20, 2008

PEDOMEN MENULIS FEATURE (VI)

Pengantar

Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian VI (keenam).



Lead Deskriptif

Lead
deskriptif bisa menciptakan gambaran dalam pikiran pembaca tentang seorang tokoh atau tempat kejadian. Lead ini cocok untuk berbagai feature dan digemari reporter yang menulis profil pribadi.


Lead yang bercerita meletakkan pembaca di tengah adegan atau kejadian dalam cerita, sedangkan lead deskriptif menempatkan pembaca beberapa meter di luarnya: dalam posisi menonton, mendengar, dan mencium baunya.


Pemakaian ajektif (kata sifat) yang tepat adalah kunci untuk lead deskriptif. Seorang reporter yang baik bisa membuat tokohnya “hidup”, seolah-olah muncul di tengah-tengah barang cetakan yang dipegang pembaca.


Reporter sering mencoba memusatkan perhatiannya pada satu unsur yang paling mencolok dari sosok dan penampilan tokohnya untuk diilustrasikan.


* Wajah Syaiful Rozi bin Kahar sama sekali tak mengesankan bahwa ia seorang bajak laut. Ia berpembawaan halus, sopan, dan ramah (TEMPO, 28 Agustus 1993, Perompak yang Halus dan Ramah).


Untuk kebanyakan pembaca, lead itu mendebarkan. Pembaca seolah-olah terpaksa menerima kehadiran seseorang yang berperangai halus, padahal ia bajak laut yang ganas.


Tokoh untuk lead tidak harus manusia. Obyek tidak berjiwa pun bisa mempunyai personalitas yang bisa ditangkap secara efektif oleh pembaca dari sebuah lead deskriptif yang baik.


* Laksana tarian peri langit, asap membubung di atas Hotel Bali Beach yang membara terpanggang api (TEMPO, 30 Januari 1993, Akhir Legenda dan Sejumlah Misteri Bali).


Lead deskriptif bisa menjadi karikatur yang efektif, seperti sketsa bagi seorang pelukis, yang menekankan pada ciri pokok dan mengabaikan perincian yang tidak menarik.


Lead deskriptif juga bisa menampilkan seorang tokoh dalam perwatakan yang menarik, dengan cara menggambarkan latar yang tepat.


* Bola mata Juani berkaca-kaca ketika mengintip kemenakannya, Soleka, yang sedang mandi sore itu. Dari balik pagar sumur yang jarang, ia melihat kain basahan Soleka sering tersibak (TEMPO, 2 Januari 1993, Kasmaran Maut di Sarang Elang).


Menyadari bahwa selalu ada kemungkinan untuk membuat lead deskriptif, tidak mengherankan bila banyak reporter yang terpikat oleh lead jenis ini.

Lead Kutipan

Kutipan yang dalam dan ringkas bisa membuat lead menarik, terutama bila yang dikutip orang yang terkenal. Kutipan harus bisa memberikan tinjauan ke dalam watak si pembicara.


Ingat, lead harus menyiapkan pentas bagi bagian berikutnya dari cerita kita, sehingga kutipannya pun harus memusatkan diri pada sifat cerita itu.


Contoh lead kutipan:

* “Tangkap hidup atau mati.” (TEMPO, 29 Januari 1994, Hidup atau Mati: Gendut Dicari).


Kutipan keras itu diucapkan oleh Kapolri Letnan Jenderal Banurusman. Umumnya pembaca akan langsung tergaet, ingin tahu bagaimana nasib orang yang sudah dipastikan harus ditangkap hidup atau mati itu.


Kerugian lead semacam ini ialah, kutipan yang dipilih bisa keluar dari kerangka cerita jika tekanan pokok diletakkan pada kutipan itu saja.


Misalnya Anda mewawancarai seorang tukang ojek tentang rencana pembangunan kawasan kota Jakarta Pusat. Mungkin ia mengeluh, tentang rencana yang bakal menutup rezekinya dengan berkata, “Kawasan Kota mau ditutup sampai Pelabuhan Sunda Kelapa? Wuih...” (TEMPO, 26 Juni 1994, Menyulap Kawasan Kota).


Kutipan itu bisa menarik perhatian, sehingga seorang reporter mungkin memakainya sebagai lead. Tapi, kutipan itu tidak secara tepat menggambarkan perasaan si tukang ojek secara keseluruhan. Bila wartawan tidak bisa memberikan penjelasan kepada pembaca kapan kutipan itu keluar dan dalam kondisi bagaimana, jangan-jangan kutipan itu memang tak ada kaitannya secara langsung dengan cerita.


(Bersambung)


Posted by BSH at 02:00:09 | Permanent Link | Comments (0) |

Selasa, May 06, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (V)


Catatan:
Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian V (kelima).

 

Wartawan jarang menyadari, bagaimana lead terbaik yang hendak dipakainya. Untuk memudahkan memilih lead, perlu diketahui berbagai macam lead, seperti di bawah ini.

 

Lead Ringkasan

Lead ini sama dengan yang dipakai dalam penulisan hard news. Yang ditulis hanya inti ceritanya, dan kemudian terserah pembaca apakah masih cukup berminat untuk mengikuti kelanjutannya atau tidak.

 

Lead ringkasan ini sering dipakai bila reporter mempunyai persoalan yang kuat dan menarik, yang otomatis akan laku dibaca. Karena lead ini sangat gampang ditulis, banyak reporter yang langsung memilihnya jika ia diuber deadline, atau jika ia bingung mencari lead yang lebih baik.

 

Beberapa contoh lead ringkasan:

 

* Ini satu lagi kasus peninggalan bekas Gubernur DKI Jaya Wiyogo Atmodarminto: Pasar Regional Jatinegara (TEMPO, 30 Januari 1993, Komisi di  Jatinegara).

 

* Ada orang ketiga di rumah tangga, kalau bukan bikin sewot istri, ya, bikin melotot suami (TEMPO, 1 Januari 1994, Two in One Versi Tuban).

 

Dari setiap contoh tersebut, jelas bahwa yang akan diceritakan sudah tertulis dalam lead. Pembaca tahu intisari cerita setelah membaca lead. Kata kasus dalam contoh pertama menunjukkan, bahwa cerita yang akan disampaikan ialah tentang ketidak-beresan di Pasar Regional Jatinegara yang dibangun di zaman Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto. Sedangkan pada lead kedua, sudah bisa dibaca bahwa yang akan diceritakan ialah tentang hadirnya orang ketiga yang menimbulkan keributan di sebuah rumah tangga.

 

Kedua cerita itu umumnya dianggap cukup kuat untuk menarik minat pembaca. Yang pertama, masalah ketidak-beresan sebuah proyek tempat masyarakat bertemu; yang kedua, masalah yang bisa menimpa hampir setiap rumahtangga: kehadiran orang ketiga.

 

Lead Bercerita
Lead ini, yang digemari oleh penulis fiksi (novel atau cerita pendek), cukup menarik pembaca. Tekniknya: menciptakan suasana, dan membiarkan pembaca menjadi tokoh utama, entah dengan cara membuat “kekosongan” yang kemudian secara mental bisa diisi oleh pembaca, atau dengan membiarkan pembaca mengidentifikasikan diri di tengah kejadian yang berlangsung.

 

Hasilnya berupa teknik sebagaimana yang dibuat dalam sebuah film yang baik. Apakah Anda pernah merasa haus ketika menyaksikan seorang pahlawan (dalam film) kehausan di tengah padang pasir? Apakah Anda gemetar di tempat duduk ketika menyaksikan film horor?

 

Lead semacam ini sangat efektif untuk cerita petualangan. Misalnya seorang wartawan yang melaporkan suasana di sudut sebuah rumah di Bosnia Herzegovina yang lagi dilanda perang saudara.

 

* Kami makan anggur kematian, dan anggur itu lezat. Berair, biru kehitaman, manis dan asam. Mereka menggantungkan setandan anggur masak di beranda belakang rumah milik muslim yang istrinya belum lama tewas oleh bom seorang Serbia . Ini senja di Bosnia , langit sama biru tuanya dengan anggur-anggur itu (TEMPO, 27 Maret 1993, Potret Berdarah dari Dalam).

 

Wartawan rubrik kriminalitas sering memakai lead bercerita dalam cerita feature untuk melaporkan peristiwa kejahatan.

 

* Hari itu, ada lima mayat yang hangus terpanggang. Sesosok mayat laki-laki dewasa dan tiga anaknya berserakan di sana-sini dengan tubuh rusak bekas dibantai. Pemandangan itu ditemukan penduduk di puing sebuah gubuk yang hangus terbakar (TEMPO, 25 Januari 1992, Tragedi di Kebun Karet).

 

Lead untuk sebuah feature yang lain bisa begini:

 

* Toha gelagapan. Ia seperti menghirup ruang hampa. Sebisanya ia mengisap corong udara di hidungnya. Tapi sia-sia. Tabung oksigen di punggungnya ternyata sudah kosong. Ia panik. Permukaan laut masih puluhan depa di atasnya (TEMPO, 16 November 1993, Suka Duka Sang Penyelam).

 

Lead tersebut mempunyai keuntungan, karena bisa menggaet pembaca lebih efektif daripada lead lain. Begitu pembaca mengidentifikasikan diri dengan atau menjadi tokoh ceritanya, ia pasti sudah tergaet.

 

Tetapi ada kerugiannya: tak semua cerita bisa cocok diberi lead seperti itu. Reporter yang mencoba memaksakan lead macam ini akan menghasilkan lead yang tidak wajar, atau lead seperti itu justru akan merusak cerita.

 

(Bersambung)

 

Posted by BSH at 01:18:31 | Permanent Link | Comments (0) |