Thursday, March 27, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (IV)

Pengantar:
Berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan Saya Wartawan TEMPO. Buku pedoman para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 bagian, berikut ini bagian ke-IV.


MENANGKAP KESALAHAN

          Untuk menangkap kesalahan, baik ejaan, gaya , maupun pemakaian kata, memang hanya ada satu cara. Yakni, membaca dan membaca naskah Anda kembali. Mereka yang dikaruniai kepandaian mungkin hanya sekali baca sudah bisa melihat suatu kesalahan. Tapi, wartawan lain memerlukan waktu berkali-kali untuk membaca dan membuka kamus untuk mengecek pekerjaannya.
          Berikut ini salah satu cara mencari kesalahan dalam naskah Anda, tanpa banyak merugikan kelancaran menulis.
          Jangan mengecek ejaan, atau pemakaian kata, ketika menulis cerita. Berkali-kali membuka kamus atau buku pedoman di tengah Anda menulis akan menghambat kelancaran kreativitas, dan itu memakan waktu.
          Tapi, segera setelah cerita selesai ditulis, perhatikan naskah Anda kata demi kata. Pelototilah setiap kata seolah-olah mereka adalah “musuh” Anda yang akan menyabot cerita Anda. Kalau ada kemungkinan salah, walau sekecil apapun, ceklah kata tersebut sampai Anda yakin bahwa kata itu sudah benar, atau Anda harus menggantinya.
          Bila waktu memungkinkan, lakukanlah pengecekan ulang sekali lagi. Sering mata Anda terlena pada satu baris atau paragraf, ketika Anda mengecek cerita Anda. Maka pengecekan ulang akan mengurangi kesalahan.
          Untuk beberapa jenis feature, mungkin Anda perlu bekerja selama beberapa hari, kemudian mengendapkan cerita itu barang sehari atau dua setelah pengecekan secara sistematis. Kemudian, sebelum menyerahkan cerita tersebut, saringlah lagi kesalahan yang mungkin masih ada. Dengan pandangan yang segar, kesalahan sering tampak lebih nyata.
          Bila Anda menemukan kata yang salah eja atau salah pakai, catatlah di buku catatan khusus. Beberapa reporter menyimpan daftar kata yang membingungkannya, agar ia selalu bisa mengecek mana yang salah dan mana yang benar dengan cepat. Belajar mengeja kata-kata, tentulah akan sangat membantu.
          Jika Anda didesak oleh deadline, sementara Anda ragu arti sebuah kata yang hendak Anda gunakan, pakai saja sinonim atau padanannya.

MENGAIL DENGAN LEAD
          Kunci untuk penulisan feature yang baik terletak pada paragraf pertama, yang disebut lead. Mencoba menangkap minat pembaca tanpa lead yang baik, sama dengan mengail ikan tanpa umpan.
          Setiap wartawan seharusnya selalu sadar akan perlunya lead. Keranjang sampah penuh dengan lead yang tak bermutu, karena wartawan memakai lead yang itu-itu juga dalam usahanya menarik minat pembaca.
          Lead untuk feature mempunyai dua tujuan utama.
Pertama, untuk menarik pembaca agar selalu mengikuti cerita; kedua membuat jalan agar supaya alur cerita bisa lancar.
           Banyak pilihan lead; sebagian untuk menyentak pembaca, sebagian untuk menggelitik rasa ingin tahu pembaca, dan yang lain untuk mengaduk imajinasi pembaca. Masih ada yang lain, seperti lead untuk memberi tahu pembaca tentang cerita yang bersangkutan secara ringkas.

(Bersambung)

Posted by BSH at 08:55:09 | Permalink | No Comments »

Monday, March 3, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (III)

Pengantar: 

Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian III (ketiga).


EJAAN KATA

“Kata-kata adalah alat pokok dalam pekerjaan ini. Bila engkau tidak bisa mengeja dengan tepat, atau tidak bisa memakai kata-kata dengan efektif dan akurat, engkau tidak tepat untuk masuk dalam percaturan surat kabar.”


Teguran itu dikatakan oleh seorang editor yang marah, karena menemukan beberapa kata yang salah tulis dalam naskah seorang reporter. Reporter itu memegang teguh teguran tersebut dan, sejak saat itu, ia memakai kamus secara serius.

Ejaan bukan hanya latihan akademis untuk menakut-nakuti mahasiswa. Ejaan adalah sebuah keharusan bagi kelangsungan hidup dunia pers yang penuh persaingan.

Tak banyak reporter yang bisa dengan gampang mengingat ejaan, memang. Tapi, kebanyakan kita tentunya bisa membaca kamus. Dan sekadar membalik-balik kamus tentulah bisa dilakukan, bahkan ketika sedang diuber deadline.

Beribu-ribu kata diproses setiap hari di meja editor. Memang, editor bertanggung jawab untuk menyaring kesalahan dalam naskah. Tapi, secara manusiawi, tidaklah mungkin ia bisa menyaring setiap kata. Karena itu seorang editor, mau tak mau, dituntut untuk selalu awas ketika memeriksa naskah. Ia harus selalu curiga bahwa naskah yang ia baca mengandung salah ejaan.

Bila salah ejaan sudah tercetak, banyak hal bisa terjadi — dan tidak satu pun yang baik: kepercayaan orang pada media itu rontok. Salah cetak mengurangi citra profesional sebuah media, dan membuat muatannya selalu dicurigai para pembaca yang cerdik pandai. Bila koran ceroboh terhadap kata-kata, bagaimana fakta-fakta di dalamnya bisa dipercaya?

Kepercayaan orang pada reporter bersangkutan juga luluh. Bila seorang reporter terlalu sering melakukan kesalahan ejaan, bisa jadi ia memang tak cakap, tak cocok menjadi reporter. Maka sang editor bisa memindahkannya ke bagian lain, atau mendepaknya.

Kesalahan pemakaian kata bisa berakibat serupa. Banyak orang salah memilih kata-kata dalam percakapan sehari-hari, karena mereka memungut suatu kata tanpa mengetahui persis apa artinya. Kesalahan dalam percakapan bisa dimaafkan dan dimaklumi, tapi segala maaf habis bila seorang reporter salah menerapkan kata dalam medianya.

Editor yang menginginkan standar profesional yang tinggi mungkin akan terlalu njlimet pada hal-hal sampai sekecil-kecilnya.
Kata-kata yang dipakai secara salah bisa mengubah arti suatu cerita. Dalam sebuah tulisan yang membahas soal utang dan piutang perusahaan, misalnya, penutupnya berbunyi demikian: “Seorang direktur perusahaan tekstil mengatakan, di akhir tahun anggaran nanti perusahaannya akan memiliki piutang yang jauh lebih besar daripada utangnya. Hal itu karena tiadanya kontrol penagihan.”

Andai saja kata piutang dan utang tertukar tempatnya, bisa saja sejumlah pemegang saham perusahaan tekstil itu akan buru-buru menjual sahamnya karena perusahaan itu rugi. Padahal, yang terjadi adalah sebaliknya, meski keuntungan itu masih berupa piutang. Jelas, perbedaan antara kedua kata itu berpengaruh besar pada sikap para pemegang saham.

Akibat kesalahan pemilihan kata, bisa fatal. Nama baik surat kabar merosot. Nama baik reporter juga rusak. Dalam rapat pemegang saham perusahaan tekstil tersebut, baik direksi maupun pemegang saham tak lagi punya respek terhadap si wartawan . Akibatnya, wartawan ini kehilangan sumber informasi.


BUKU PEDOMAN

Untuk mempertahankan citra keprofesionalan, surat kabar memerlukan buku pedoman penulisan. Baik reporter, penulis, dan redaktur seharusnya menaati aturan yang tertulis dalam buku pedoman itu. Buku semacam ini menggolong-golongkan bagaimana kata, gelar, dan tanggal harus dipakai untuk agar seragam.

Ada
beberapa alasan mengapa buku pedoman ini perlu:
1. Pemakaian yang seragam kelihatan lebih profesional.
2. Bila sebuah kata ditulis dalam berbagai bentuk, meskipun semuanya benar, terbuka peluang bagi pembaca untuk mengambil kesimpulan yang salah: bahwa hanya satu kata yang benar. Misalnya kata persen, prosen, atau %.
3. Keseragaman menghemat waktu. Seorang wartawan yang mempelajari buku pedoman tidak perlu ragu-ragu memilih istilah yang harus dipakainya. Bila ia sedang diuber deadline, karena keraguan bisa berakibat mahal.

Manfaat buku pedoman, seperti juga kamus, ialah untuk mengurangi kesalahan, mengurangi hal-hal yang bisa menurunkan citra keprofesionalan Anda.


(Bersambung)
 

Posted by BSH at 06:15:01 | Permalink | No Comments »