PEDOMAN MENULIS FEATURE (II)
PENGANTAR
Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian, berikut Bagian II (kedua).
--------------------------------------------
AKURAT, BUNG!
Penulis feature tentu membutuhkan imajinasi yang baik untuk “menjahit” kata-kata dan rangkaian kata menjadi cerita yang menarik. Tapi, seperti juga bentuk-bentuk jurnalisme yang lain, imajinasi penulis tidak boleh mewarnai fakta dalam ceritanya. Artinya, cerita khayalan tidak boleh ada dalam sebuah feature.
Seorang wartawan profesional tidak akan menipu pembaca, walaupun sedikit, karena ia sadar terhadap etika dan bahaya yang bakal mengancamnya. Etika menyebutkan, bahwa opini dan fiksi tidak boleh ada, kecuali pada bagian tertentu dari sebuah suratkabar. Misalnya, tajuk rencana, sebagai rubrik untuk mengutarakan pendapat redaksi. Selain itu edisi Minggu suratkabar biasanya menampung fiksi, misalnya cerita pendek.
Jadi, feature tidak boleh berupa fiksi, dan setiap “pewarnaan” terhadap fakta tidak boleh menipu pembaca. Jika penipuan seperti itu terungkap, kepercayaan publik kepada penulis feature akan hancur. Inilah bahaya yang bisa mengancam penulis feature..
Ada beberapa derajat “kefiktifan” yang bisasanya menjadi “bumbu” dalam menulis feature. Yang paling mencolok ialah, jika seorang penulis membuat cerita dengan bahan yang sama sekali bikin-bikinan, alias khayalan. Tapi syukurlah, selama ini hampir tidak ada reporter yang segila itu.
Godaan yang paling sering terjadi ialah, ketika penulis hampir menyelesaikan tulisan yang baik, tapi ada beberapa unsur yang tertinggal. Ia mungkin mencoba untuk memperoleh unsur-unsur itu dengan mengajak narasumber untuk membuat cerita menjadi lebih ramai. Dalam kasus begini, tokoh yang diwawancarai dianggap telah bersekongkol dalam menjual cerita yang cenderung palsu.
Satu hal yang tidak terpuji dalam menulis feature ialah menaruh sebuah kalimat (sebagai kutipan, quotation) ke mulut orang yang diwawancarai. Caranya, wartawan mengawali kutipan yang sudah diarahkan dengan bertanya, “Apakah Anda....?”, dan si wartawan menunggu anggukan narasumber sebagai tanda setuju -- entah anggukan sungguhan atau khayalan.
Wartawan-wartawan yang tidak etis seperti itu memang ada dalam dunia pers. Dan seperti lazimnya pembohong, mereka hidup dalam ketakutan jika suatu saat kelak rahasianya terbongkar. Untuk kepentingannya sendiri, seorang wartawan harus tahu bahwa nama baiknya adalah taruhan bagi sukses profesinya. Wartawan yang ceroboh terhadap fakta akan segera kehabisan sumber berita yang bisa memberi informasi yang baik.
MENGUMPULKAN INFORMASI
Ketidak-akuratan atau kesalahan dalam penerbitan, kebanyakan disebabkan oleh kelalaian atau kesembronoan yang tidak disengaja. Seorang reporter mungkin tidak menggunakan waktu secukupnya untuk mengecek informasi sebelum menulis. Kemudian ternyata ia salah menulis nama sumber berita.
Seorang wartawan kawakan akan mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghindari kesalahan fakta seperti itu. Langkah-langkah itu tentu juga bisa Anda lakukan:
1. Bila Anda mewawancarai seseorang, tanyakan nama, umur, alamat, dan nomor teleponnya. Setelah mengumpulkan informasi, ejalah namanya dan bacakanlah alamat dan nomor teleponnya, sehingga sumber berita bisa mengoreksinya. Nomor telepon tidak ditulis dalam cerita, tapi reporter harus memilikinya, untuk kapan-kapan, mengontaknya kembali jika ia memerlukan check and cross check.
2. Jika nama, umur, dan alamat narasumber tersebut Anda peroleh dari tangan kedua, haraplah dicek lagi di buku telepon. Jika Anda menyebut umurnya, tanyakan kepada sumber berita untuk membetulkan atau mengoreksinya.
3. Jangan sekali-kali beranggapan, bahwa Anda mengetahui semuanya. Anda harus selalu mengecek ulang setiap informasi yang penting. Misalnya, seorang reporter balai kota mungkin mengira, bahwa ia tahu gelar atau jabatan resmi seorang pejabat. Tapi, jika tidak yakin, ia harus menghubungi pejabat tersebut atau sekretarisnya untuk mencocokkannya.
4. Jika tulisan Anda menyangkut materi yang rumit, pastikanlah terlebih dahulu, bahwa Anda memahaminya dengan baik. Seorang reporter sering menulis tentang suatu istilah teknis, sedangkan ia tidak tahu sama sekali, atau tidak punya latar belakang mengenai istilah teknis tersebut.
Suatu hari, mungkin seorang wartawan polisi membuat feature mengenai perlengkapan radar yang dipasang pada lampu lalu-lintas. Seorang kapten polisi mungkin dengan lancar menerangkan istilah teknis tentang radar, tapi reporter itu harus bisa memberi informasi yang gamblang kepada pembaca. Maka, wartawan yang berpengalaman akan sering menghentikan penjelasan si kapten untuk mencari terjemahan dari istilah-istilah teknis tersebut yang mudah diterima oleh pembaca yang awam. Pada umumnya, wartawan mengambil peran sebagai pembaca awam, dan mengajukan pertanyaan sesuai dengan posisinya itu.
5. Jika menggunakan statistik atau data matematis, reporter harus mengecek angka-angkanya, dan kalau perlu menghitung. Banyak wartawan yang berdalih macam-macam bila seorang pembaca yang kritis mengirim surat ke redaksi dan menunjukkan perhitungan yang keliru dalam tulisan wartawan tersebut.
Statistik harus benar-benar dicermati dengan penuh kecurigaan. Anda bisa membuktikan apa saja dengan statistik, tergantung bagaimana cara Anda menyajikannya, dan apa saja yang Anda masukkan atau tinggalkan. Tanyakanlah kepada nara sumber secara cermat untuk meyakinkan kebenaran angka-angka tersebut.
Misalnya, statistik kejahatan yang dikemukakan oleh polisi, harus benar-benar dicek sebelum digunakan sebagai petunjuk mengenai tingkat kejahatan. Sebab, pada kenyataannya, banyak peristiwa kejahatan yang tidak dilaporkan kepada polisi, dan karena itu tidak tercatat dalam statistik.
Seorang reporter tidak boleh membiarkan dirinya menjadi alat untuk “menipu” masyarakat. Kekritisan dan pengecekan yang teliti sering bisa menghindarkan hal itu terjadi.
(Bersambung)


Komentar terakhir
Selamat atas bl
Saya berbahagia bisa berken
Tibake ono Haryanto loro, kabeh so
Senang sekali berkenalan dengan
pagi ini aku gogling karena ndak ad
terimakasih atas kunjungan anda. ah, ini
kangen sa
Wonogirinya di mana? Saya asli