Friday, August 8, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (VIII)

Catatan:

Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian VIII (kedelapan).


Lead Menggoda
Lead menggoda ialah cara untuk “mengelabui” pembaca dengan cara bergurau. Tujuan utamanya ialah menggaet perhatian pembaca dan menuntunnya supaya mereka membaca seluruh cerita.

Lead jenis ini biasanya pendek dan ringan. Umumnya memakai teka-teki, dan biasanya hanya memberikan sedikit, atau sama sekali tidak, tanda-tanda bagaimana cerita selanjutnya. Contoh: Angka yang ditunggu-tunggu itu keluar juga: sekitar 50 (TEMPO, 4 Januari 1992, Angka Misterius Santa Cruz)

Dari kalimat itu pembaca belum tahu secara pasti kunci cerita tentang angka 50 itu. Justru karena itu keingin-tahuannya dibangkitkan, dan untuk memenuhi keingin-tahuannya itu, mau tak mau, ia akan membaca kelanjutan kalimat tersebut sampai tahu apa yang dimaksud dengan “angka 50” itu. Setelah pembaca tahu teka-teki “angka 50” itu (yaitu tentang jumlah korban kekerasan militer di kuburan Santa Cruz , Dili, pada 1991), tergantung pada cerita itu sendiri apakah cukup menawarkan daya tarik untuk diikuti terus atau tidak.

Cara lain untuk menampilkan lead jenis ini ialah dengan mengiming-imingkan (memamerkan) potongan fakta kepada pembaca supaya terpancing terus membaca. Contoh: Pendatang baru itu tampak misterius dan agak menakutkan. Namanya memang bagus, Chlamydia Pneumoniae, tapi wataknya merepotkan para peneliti (TEMPO, 19 Februari 1994, Chlamydia yang Mempersulit Diagnosa).

Pembaca yang tak tahu apa atau siapa nama itu, tentu bisa punya asosiasi macam-macam ketika membaca lead  tersebut: apakah itu nama seseorang, atau nama benda? Barulah pada kalimat-kalimat berikutnya diceritakan yang sebenarnya: “Itulah kuman penyebab penyakit radang paru-paru, yang bukan tergolong jenis bakteri, tapi juga bukan virus. Para ahli mengatakan, kuman itu membawa sebagian sifat bakteri, sebagian lagi sifat virus.”

Pembaca yang sudah tahu tentang kuman itu pun diharapkan tetap ingin membaca artikel tersebut, karena diiming-iming dengan kata “misterius” dan “menakutkan”. Benarkah si Chlamydia semisterius dan semenakutkan sebagaimana ia ketahui, atau kurang dari itu, atau lebih menakutkan?

Lead Nyentrik
Reporter yang imajinatif — meskipun tidak puitis — bisa mencoba lead seperti di baah ini pada saat menulis cerita tentang kenaikan harga. Lead ini memikat dan informatif. Gayanya yang khas dan tak kenal kompromi bisa menarik pembaca, hingga ceritanya bisa laku. Contoh:

Hijau sayuran
Putihlah susu
Naik harga makanan
Ke langit biru

Lead tersebut paling ekstrem dalam bertingkah. Tapi kekurang-ajarannya bisa menggaet pembaca bila reporter bisa mengikuti langkah pertamanya itu dengan cerita yang lincah dan hidup. Tapi nada lead ini susah dijaga di sepanjang keseluruhan cerita.

Beberapa koran enggan memakai lead seperti itu. Memang ada bahayanya. Karena wartawan hidup dalam dunia kata-kata, lead nyentrik membuka peluang wartawan untuk mengobral permainan kata hingga memualkan. Hanya kebijaksanaan tegas yang bisa mencegah banjirnya permainan kata itu. Lead nyentrik bisa juga hanya melukiskan suara bunyi-bunyian. Misalnya: Tak dududuktak. Duk.” (TEMPO, 5 Januari 1985, Mereka Bergerak, Selebihnya Silakan Lihat).

Lead Gabungan
Di surat kabar sering ditemukan lead yang merupakan gabungan dari dua atau tiga lead, dengan mengambil unsur terbaik dari masing-masing lead. Lead kutipan, misalnya, sering digabungkan dengan lead deskriptif. Contoh: “Bukan salahku bahwa aku belum mati sekarang,” kata Fidel Castro dengan senyum lucu (TEMPO, 7 Mei 1994, Castro, Revolusioner yang Belum Pensiun).

Jika lead menggoda digabung dengan lead kutipan, jadilah sebuah lead yang sangat menarik.

(Bersambung)

 

Posted by BSH at 10:22:44 | Permalink | No Comments »