Friday, February 22, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (II)


PENGANTAR
Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian, berikut Bagian II (kedua).


——————————————–

AKURAT, BUNG!


          Penulis feature tentu membutuhkan imajinasi yang baik untuk “menjahit” kata-kata dan rangkaian kata menjadi cerita yang menarik. Tapi, seperti juga bentuk-bentuk jurnalisme yang lain, imajinasi penulis tidak boleh mewarnai fakta dalam ceritanya. Artinya, cerita khayalan tidak boleh ada dalam sebuah feature.

          Seorang wartawan profesional tidak akan menipu pembaca, walaupun sedikit, karena ia sadar terhadap etika dan bahaya yang bakal mengancamnya. Etika menyebutkan, bahwa opini dan fiksi tidak boleh ada, kecuali pada bagian tertentu dari sebuah suratkabar. Misalnya, tajuk rencana, sebagai rubrik untuk mengutarakan pendapat redaksi. Selain itu edisi Minggu suratkabar biasanya menampung fiksi, misalnya cerita pendek.

          Jadi, feature
tidak boleh berupa fiksi, dan setiap “pewarnaan” terhadap fakta tidak boleh menipu pembaca. Jika penipuan seperti itu terungkap, kepercayaan publik kepada penulis feature akan hancur. Inilah bahaya yang bisa mengancam penulis feature..

          Ada
beberapa derajat “kefiktifan” yang bisasanya menjadi “bumbu” dalam menulis feature. Yang paling mencolok ialah, jika seorang penulis membuat cerita dengan bahan yang sama sekali bikin-bikinan, alias khayalan. Tapi syukurlah, selama ini hampir tidak ada reporter yang segila itu.

          Godaan yang paling sering terjadi ialah, ketika penulis hampir menyelesaikan tulisan yang baik, tapi ada beberapa unsur yang tertinggal. Ia mungkin mencoba untuk memperoleh unsur-unsur itu dengan mengajak narasumber untuk membuat cerita menjadi lebih ramai. Dalam kasus begini, tokoh yang diwawancarai dianggap telah bersekongkol dalam menjual cerita yang cenderung palsu.

           Satu hal yang tidak terpuji dalam menulis feature ialah menaruh sebuah kalimat (sebagai kutipan, quotation) ke mulut orang yang diwawancarai. Caranya, wartawan mengawali kutipan yang sudah diarahkan dengan bertanya, “Apakah Anda….?”, dan si wartawan menunggu anggukan narasumber sebagai tanda setuju — entah anggukan sungguhan atau khayalan.

          Wartawan-wartawan yang tidak etis seperti itu memang ada dalam dunia pers. Dan seperti lazimnya pembohong, mereka hidup dalam ketakutan jika suatu saat kelak rahasianya terbongkar. Untuk kepentingannya sendiri, seorang wartawan harus tahu bahwa nama baiknya adalah taruhan bagi sukses profesinya. Wartawan yang ceroboh terhadap fakta akan segera kehabisan sumber berita yang bisa memberi informasi yang baik.


MENGUMPULKAN INFORMASI


           Ketidak-akuratan atau kesalahan dalam penerbitan, kebanyakan disebabkan oleh kelalaian atau kesembronoan yang tidak disengaja. Seorang reporter mungkin tidak menggunakan waktu secukupnya untuk mengecek informasi sebelum menulis. Kemudian ternyata ia salah menulis nama sumber berita.

          Seorang wartawan kawakan akan mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghindari kesalahan fakta seperti itu. Langkah-langkah itu tentu juga bisa Anda lakukan:

          1. Bila Anda mewawancarai seseorang, tanyakan nama, umur, alamat, dan nomor teleponnya. Setelah mengumpulkan informasi, ejalah namanya dan bacakanlah alamat dan nomor teleponnya, sehingga sumber berita bisa mengoreksinya. Nomor telepon tidak ditulis dalam cerita, tapi reporter harus memilikinya, untuk kapan-kapan, mengontaknya kembali jika ia memerlukan check and cross check.

          2. Jika nama, umur, dan alamat narasumber tersebut Anda peroleh dari tangan kedua, haraplah dicek lagi di buku telepon. Jika Anda menyebut umurnya, tanyakan kepada sumber berita untuk membetulkan atau mengoreksinya.

          3. Jangan sekali-kali beranggapan, bahwa Anda mengetahui semuanya. Anda harus selalu mengecek ulang setiap informasi yang penting. Misalnya, seorang reporter balai kota mungkin mengira, bahwa ia tahu gelar atau jabatan resmi seorang pejabat. Tapi, jika tidak yakin, ia harus menghubungi pejabat tersebut atau sekretarisnya untuk mencocokkannya.

          4. Jika tulisan Anda menyangkut materi yang rumit, pastikanlah terlebih dahulu, bahwa Anda memahaminya dengan baik. Seorang reporter sering menulis tentang suatu istilah teknis, sedangkan ia tidak tahu sama sekali, atau tidak punya latar belakang mengenai istilah teknis tersebut.

          Suatu hari, mungkin seorang wartawan polisi membuat feature mengenai perlengkapan radar yang dipasang pada lampu lalu-lintas. Seorang kapten polisi mungkin dengan lancar menerangkan istilah teknis tentang radar, tapi reporter itu harus bisa memberi informasi yang gamblang kepada pembaca. Maka, wartawan yang berpengalaman akan sering menghentikan penjelasan si kapten untuk mencari terjemahan dari istilah-istilah teknis tersebut yang mudah diterima oleh pembaca yang awam. Pada umumnya, wartawan mengambil peran sebagai pembaca awam, dan mengajukan pertanyaan sesuai dengan posisinya itu.

          5. Jika menggunakan statistik atau data matematis, reporter harus mengecek angka-angkanya, dan kalau perlu menghitung. Banyak wartawan yang berdalih macam-macam bila seorang pembaca yang kritis mengirim surat ke redaksi dan menunjukkan perhitungan yang keliru dalam tulisan wartawan tersebut.

          Statistik harus benar-benar dicermati dengan penuh kecurigaan. Anda bisa membuktikan apa saja dengan statistik, tergantung bagaimana cara Anda menyajikannya, dan apa saja yang Anda masukkan atau tinggalkan. Tanyakanlah kepada nara sumber secara cermat untuk meyakinkan kebenaran angka-angka tersebut.

          Misalnya, statistik kejahatan yang dikemukakan oleh polisi, harus benar-benar dicek sebelum digunakan sebagai petunjuk mengenai tingkat kejahatan. Sebab, pada kenyataannya, banyak peristiwa kejahatan yang tidak dilaporkan kepada polisi, dan karena itu tidak tercatat dalam statistik.

          Seorang reporter tidak boleh membiarkan dirinya menjadi alat untuk “menipu” masyarakat. Kekritisan dan pengecekan yang teliti sering bisa menghindarkan hal itu terjadi.

        
(Bersambung)


Posted by BSH at 10:30:50 | Permalink | No Comments »

Monday, February 11, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (I)

Pengantar. Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh (alm) Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, dan 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut ini bagian I (pertama).

——————————————————————-
              
Dalam menulis berita di suratkabar, yang diutamakan ialah pengaturan fakta-fakta. Tapi, dalam penulisan di majalah berita, bentuk penulisan cenderung bergaya feature, mengisahkan sebuah cerita.

              
Penulis feature pada hakikatnya seorang yang berkisah. Ia melukis gambar dengan kata-kata, menghidupkan imajinasi pembaca, menarik pembaca agar masuk ke dalam cerita dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama.

              
Jika seorang wartawan (yang bertugas di) balai kota menggambarkan wali kota dengan sepatunya yang gemerlapan dan kumisnya yang keputih-putihan dalam berita, redaktur kota akan marah, karena tulisan itu bertele-tele. Tapi, sebaliknya, jika sang reporter melupakan gambaran sang wali kota pada saat ia menulis feature, redaktur kota mungkin akan berkata, “Orangnya seperti apa? Saya tidak bisa membayangkannya.”

              
Penulis feature, untuk sebagian besar, tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar. Sebab ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi, jika ada aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan tersebut.

              
Doktrin klasik dalam menulis (struktur) berita yang disebut “piramida terbalik” (susunan tulisan yang meletakkan informasi pokok di bagian atas dan informasi yang tidak begitu penting di bagian bawah, hingga mudah dibuang jika tulisan itu perlu diperpendek) sering ditinggalkan. Terutama jika urutan peristiwa sudah dengan sendirinya membentuk cerita yang baik. Feature yang singkat dan lucu, yang biasanya ditemukan di halaman pertama suratkabar, sering ditulis sesuai dengan urutan waktu.

Contoh:
               Brury, seorang petugas patroli, punya pengalaman paling sial Jumat malam lalu. Pukul 16.30 sore ia lapor ke kantor. Lima menit kemudian, selama berpatroli dengan mengenakan pakaian seragam, lampu senternya jatuh. Ketika membungkuk untuk memungutnya kembali, celananya sobek di bagian pantat.

               
Pukul 17.15 sore, ia mencoba menolong seekor anjing yang menggonggong. Sejam kemudian ia dirawat karena kakinya digigit anjing.

              
Segera setelah pukul 19.00 malam ia kesenggol mobil yang ngebut. Pengemudinya seorang detektif narkotik yang sedang nguber padagang heroin.

              
Pukul 21.50 ia dipanggil ke sebuah bar untuk melerai pertengkaran. Setengah jam kemudian, ia dirawat karena luka-luka di kepalanya akibat pukulan botol wiski. Perawatan dilakukan di pusat kesehatan masyarakat setempat.

              
Brury kembali lagi ke rumah sakit pukul 23.40 malam, setelah menguber tersangka perampokan. Kaki kanannya terkena kaca ketika ia jatuh.

              
Setelah meninggalkan rumah sakit, ia kembali ke kantor polisi pukul 24.05 dinihari untuk mengakhiri tugasnya. Tapi, waktu itu seorang pengendara motor menabrak dari belakang mobil dinasnya di perempatan lampu lalulintas. Sekali ini, ia tidak terluka.

              
Akhirnya pukul 24.30 ia pulang, Ketika sampai di tempat parkir, ia menerima sebuah laporan polisi lagi. Dicuri: sebuah sepeda motor Honda, STNK nomor B 1995 GK. Pemiliknya: Brury, umur 31 tahun, tinggal di Gang Kenari 27.

              
Reporter yang menulis cerita Brury sebagai feature, dan tidak menuliskannya sebagai berita, memperoleh hasil yang baik dari bahan yang tersedia. Feature itu pantas dimuat di halaman pertama, sedangkan sebagai berita sedikit sekali nilainya. Bila dibuat berita, bentuknya seperti ini:

              
Brury, seorang petugas patroli, dirawat karena luka-luka ringan pada tiga insiden terpisah Jumat malam. Polisi itu juga mengalami kecelakaan ringan akibat ditabrak mobil.

              
Brury, 31 tahun, digigit anjing pada pukul 17.15 sore, kepalanya terkena botol wiski di bar pada pukul 21.50 malam, dan kakinya luka karena pecahan kaca ketika jatuh dalam suatu pengejaran penjahat pada pukul 23.27. Ia dirawat dan kemudian dibolehkan pulang dari pusat kesehatan masyarakat setempat.

              
Suleman, 38 tahun, penghuni Jalan Kebyar nomor 19, ditangkap dan dituduh menyerang polisi dalam sebuah pertengkaran di bar.

              
Mobil dinas Brury sedikit rusak ketika ditabrak dari belakang oleh mobil yang dikemudikan oleh Ny. Aminah di persimpangan Jalan Kuningan pada pukul 12.05 hari ini. Tak ada seorang pun yang luka.

              
Perhatikan: berita itu lebih banyak menyampaikan informasi mengenai kecelakaan, dan tidak menyebut-nyebut materi yang tidak punya nilai berita, tapi penting, seperti celana yang sobek. Reporter berita bisa dengan mudah mengambil keputusan untuk meninggalkan cerita tentang pencurian sepeda motor. Sebab, hal itu terpisah, tidak langsung berhubungan dengan cerita tentang luka ringan yang dialami seorang polisi.

               Cerita mana yang lebih menarik? Cerita mana yang lebih informatif? Cerita mana yang lebih enak ditulis?

(Bersambung)

Posted by BSH at 10:46:22 | Permalink | No Comments »