Sabtu, Desember 15, 2007

BAHAN PELATIHAN MENULIS (VI)


Catatan
:
               Berikut ini saya turunkan bahan pelatihan menulis bagian terakhir. Saya minta maaf, mungkin ada beberapa bagian dari naskah yang tumpang tindih (over lapping) dengan naskah-naskah sebelumnya. Maklum, gara-gara beberapa kesibukan, saya tidak sempat lagi memeriksa dan menelitinya kembali. Tapi, kalaupun ada bagian-bagian yang tumpang tindih, anggap saja sebagai “ulangan pelajaran”. Segera setelah Bahan Pelatihan Menulis (VI) ini, saya akan menurunkan 13 seri kutipan dari buku Andaikan Saya Wartawan TEMPO. Selamat membaca dan belajar.


TULISAN untuk majalah bukanlah berita -- dalam artikata hard news atau straight news (berita pendek, padat, singkat yang mementingkan aktualitas) -- melainkan feature yang juga lazim disebut laporan atau artikel. Dalam hal ini tak berarti kita boleh menafikan persyaratan jurnalisme yang klasik, yaitu 5-W (who, what, when, where, why) dan 1-H (how).

          Dalam menulis feature, walaupun who, what, when, where diperlukan, unsur why (mengapa) dan how (bagaimana) lebih dipentingkan: mengapa dan bagaimana seorang tokoh melakukan sesuatu. Salah satu unsur penting dalam menulis feature ialah gaya. Setiap penulis mempunyai gaya masing-masing. Tapi, secara umum, gaya seorang penulis feature yang baik ialah gaya bertutur atau bercerita, dengan deskripsi yang jelas, rinci, sehingga “hidup”.
       
         
Sekedar mengingatkan, yang dimaksud dengan majalah atau jurnal, bukanlah majalah atau jurnal ilmiah, melainkan majalah umum atau majalah berita, yang laporannya ditulis dalam bentuk feature dengan gaya bercerita, berkisah.

          Oleh karena itu, dalam menulis hendaknya kita menggunakan gaya berkisah dengan bahasa yang mudah, yang populer. Ketika kita menulis, bayangkanlah siapa yang membaca tulisan kita.

          Dan oleh karena jenis pembaca sangat variatif, usahakanlah agar pembaca kita yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang becak atau guru tidak merasa dicekoki; sebaliknya pembaca yang dosen, kolonel atau pengusaha, tidak merasa digurui. Gunakanlah bahasa yang populer, mudah dimengerti, dan tak perlu sok-ilmiah.

          Tapi, juga tak berarti kita boleh mengabaikan logika. Justru logika, sebab akibat, berperan penting dalam sebuah laporan. Sebab, bagian-bagian laporan yang tidak logis bisa membingungkan pembaca.

          Feature
bukanlah dongeng yang tidak logis, melainkan cerita mengenai fakta. Berita, atau feature, is a story about facts not about fiction. Sementara karangan (sastra) lebih merupakan a story about fiction. Oleh karena itu, feature haruslah ditulis dengan cermat, teliti, terutama menyangkut nama, tanggal, gelar, jabatan, istilah, ejaan asing.

          Jika Anda memang tidak tahu, janganlah segan-segan bertanya kepada narasumber, bagaimana menulis nama, gelar, jabatan, istilah, atau ejaan sebuah kata atau istilah dalam bahasa asing.
 
Wawancara
          Seorang wartawan yang berhati-hati selalu membawa tape recorder (alat perekam) untuk mewawancarai narasumber. Maksudnya, agar semua omongan narasumber dapat dikam; sementara jika kelak ada komplain dari narasumber, sang wartawan punya pegangan kata-kata narasumber yang sudah terekam.

          Tapi, dalam menulis berita atau feature, tidak semua omongan narasumber dapat kita tulis. Tugas jurnalis ialah: menceritakan kembali hasil wawancara dengan bahasa sendiri. Mengapa? Karena kita bukanlah corong narasumber, atau his master’s voice. Bahkan, sebaiknya kita tidak usah membuat transkrip dari hasil wawancara – yang menghabiskan waktu dan energi.

          Wartawan yang baik ialah yang memiliki daya ingat tajam dan catatan singkat yang akurat. Adapun alat perekam hanyalah sekedar sebagai pendukung untuk mengecek kembali akurasi mengenai data atau persisnya suatu ucapan.

Outline
           Mau “selamat” menulis feature? Sebelum menulis susunlah dulu outline atau rancangan atau kerangka tulisan. Mulai dari lead (pembukaan), body tulisan (reportase suatu keadaan, profil seorang tokoh, cerita mengenai tokoh) sampai dengan ending tulisan. Cara menyusun outline sudah dijelaskan dalam bab tersendiri.

          Jika Anda sudah selesai menulis sebuah feature, janganlah buru-buru menyerahkannya kepada redaktur. Bersabar dan istirahatlah barang sebentar, kemudian bacalah kembali tulisan Anda. Membaca ulang sebuah tulisan bukanlah suatu aib, tapi justru karena didorong oleh rasa tanggung jawab.

           Seorang wartawan profesional ialah yang mampu menghasilkan karya yang sempurna, dengan struktur yang pas, dengan data yang akurat, dengan bahasa yang bagus. Alias, menggunakan bahasa yang baik dan benar.
Setelah itu hitung panjang tulisan Anda di layar komputer dengan cara sederhana, untuk menentukan subjudul. Contoh: andai panjang tulisan itu 25 layar, bagilah menjadi lima subjudul – setiap subjudul lima layar. Panjang subjudul maksimal tiga kata, tapi lebih baik dua kata.

          Subjudul bukanlah judul, karena itu tidak harus mencerminkan isi atau pikiran yang terungkap dalam alinea-alinea di bawahnya. Subjudul lebih berfungsi sebagai semacam “terminal sementara” bagi pembaca untuk bernafas sebelum melanjutkan membaca aline-alinea berikutnya.

          Setelah semuanya oke, jangan lupa merekam (men-save). Perekaman bahkan sangat dianjurkan dilakukan setiap kali selesai menulis lima atau enam alinea, sehingga jika suatu saat lampu padam, naskah kita sudah terselamatkan. Tapi, sebelum kita merekam, buatlah nama file.

Foto
          Pada umumnya foto merupakan ilustrasi, dan seharusnya mewakili isi cerita dalam sebuah feature. Agar tidak menjemukan, foto hendaknya variatif, jangan sampai ada pengulangan. Foto tentang seseorang atau suasana (satu obyek), biarpun dipotret dari berbagai sudut ya tetap saja satu obyek. Dan dianggap sebagai satu foto.

          Secara umum, foto terdiri dari dua bagian besar: profil dan suasana. Profil bisa berupa seorang tokoh (close up), sedang asyik membaca, sedang tekun memperbaiki sesuatu, sedang menjelaskan sesuatu dengan mimik ekspresif. Sementara foto suasana bisa ditampilkan dengan berbagai (sekali lagi: berbagai!) latar belakang.

          Bagaimana dengan keterangan foto (caption)? Keterangan foto sebaiknya hanya terdiri dari dua kalimat, masing-masing maksimal tiga atau empat kata. Antara dua kalimat ditaruh titik, tapi di belakang kalimat kedua tak ada titik.

Kutipan
          Dalam menulis keterangan mengenai kutipan (quotation), jangan sekali-kali (bukan sekali-sekali!) menggunakan akunya, terangnya, jelasnya, ungkapnya, batinnya. Ketiga keterangan kutipan berikut ini salah. “Sayalah yang mencuri HP itu,” akunya. “Memang, dia adalah kemenakan pak menteri,” jelasnya. “Wah, kalau dia datang, akan terbongkar rahasia saya,” batinnya.

          Saya lebih menganjurkan agar Anda menggunakan katanya, ujarnya, tuturnya, ceritanya, kisahnya, jawabnya. Bisa juga kita menulis: katanya menjelaskan, ujarnya menerangkan, katanya mengaku, katanya menuturkan kisah sedih itu.


          Keterangan kutipan seperti tuturnya, ceritanya, kenangnya, hanya untuk quotation yang benar-benar bercerita. “Memang, waktu masih remaja saya nakal, sering bertengkar dengan kakak dan adik, bahkan juga dengan para pemuda di sekitar rumah,” tuturnya.


          Kalimat kutipan berikut ini bagus. “Di masa kecil, saya sangat disayang oleh nenek. Kini beliau wafat. Saya sangat sedih dan kehilangan,” kenangnya sembari menghapus airmatanya yang meleleh di pipinya yang memerah.

Kalimat
          Ini kalimat salah: Dia adalah anak pertama (mestinya anak sulung). Saya anak terakhir dari 10 bersaudara (mestinya anak bungsu). Fatimah adalah adik dari suami Nyonya Endang (seharusnya adik ipar Nyonya Endang). Pak Amat adalah bapak dari isteri Pak Hardi (seharusnya mertua Pak Hardi).

          Kalimat ini juga salah: Nama baptis Hughes adalah nama pahlawan perempuan Prancis yang dibakar hidup-hidup, yaitu Joan of Arc. Seharusnya: Nama baptis Hughes adalah Jeanne d’Arc. Mengapa Jeanne d’Arc, bukan Joan of Arc? Karena ada kata “Prancis” dalam kalimat tersebut, sementara Joan of Arc adalah ejaan Inggris untuk nama sang pahlawan.

          Kalimat yang memuat data yang lengkap dapat memperjelas posisi seorang tokoh. Kalimat berikut ini kurang lengkap: Kakek Aisjah Girindra adalah seorang ulama yang berperan dalam pemberontakan melawan penjajah Belanda di Cilegon, Banten.

          Seharusnya: Kakek Aisjah Girindra adalah Syaikh Nawawi al-Bantani, seorang ulama terkenal yang berperan dalam pemberontakan yang terkenal melawan penjajah Belanda di Cilegon, Banten, pada awal abad ke-19.

***

Posted by BSH at 20:15:50 | Permanent Link | Comments (0) |