Bahan Pelatihan Menulis (V)
Delapan Pedoman Praktis
A. Pedoman Pertama: LAYAK BERITA
Mengusulkan sebuah rencana penulisan artikel (berita, laporan atau wawancara) dalam Rapat Perencanaan harus disertai dengan berbagai argumentasi. Jangan asal mengusulkan, atau bilang “ini menarik”, tanpa dasar atau alasan yang kuat. Menarik dari segi apa dan siapa? Berikut ini beberapa persyaratan “layak berita” :
1. Ingat kredo lama yang sangat terkenal : Anjing menggigit orang itu biasa. Tapi orang menggigit anjing itu baru berita. Artinya, kejadian yang “biasa-biasa saja” (anjing menggigit orang) tidak layak berita, karena hampir setiap hari bisa dijumpai. Tapi “kejadian yang aneh, unik dan lucu” (orang menggigit anjing) barulah berita. Sebab, sangat jarang bahkan hampir tak pernah terjadi. Jadi tidak semua peristiwa, kejadian, kasus, bisa menjadi berita atau bisa kita kategorikan sebagai berita.
2. Mungkin suatu kejadian kita anggap “penting” atau “menarik”. Tapi di mana letak penting dan menariknya? Bila kita uji peristiwa itu dengan beberapa kriteria, dan memenuhi kriteria, luluskah ia menyandang “layak berita”? Karena itu suatu peristiwa yang “layak berita” harus memenuhi beberapa kriteria. Antara lain :
a. Hangat. Terjadi tidak lebih dari satu minggu (terutama bagi majalah berita mingguan). Bagi mereka, mungkin kehangatan itu berlaku dua minggu.
b. Magnitude atau bobotnya besar. Zaman sekarang korupsi Rp 500 juta sudah bukan berita lagi. Tapi bila jumlah uang yang dikorup 50 milyar (apalagi koruptornya orang yang punya nama), barulah ia layak berita. Korban kecelakaan yang jumlahnya lima orang, untuk Indonesia sudah bukan berita lagi. Tapi bila korbannya 25 orang (apalagi yang satu di antaranya seorang menteri) barulah layak berita.
c. Menyangkut public figure. Menteri, selebriti, ulama, dan sebagainya. Ingat : name makes news. Artinya, yang menjadi pelaku berita atau pelaku dalam cerita adalah tokoh yang terkenal di masyarakat. Artis terkenal, negarawan terkenal, apalagi bila kasusnya kontroversial.
d. Pertama kali. Peristiwanya baru pertama kali terjadi. Kalau sudah dua tiga kali terjadi, ya bukan lagi berita.
e. Menyangkut kepentingan banyak orang. Rapat Koperasi RT 012 Jatibening II hanya “layak berita” untuk dimuat dalam news letter di kalangan warga setempat yang terbatas. Tapi kebakaran Pasar Anyar di Bogor yang keberadaannya sangat dibutuhkan masyarakat – apalagi korbannya banyak, dan kasusnya kontroversial – sangatlah layak berita.
f. Sesuai dengan segmen pembaca. Kalau segmen pembaca sebuah majalah, misalnya majalah remaja, tentu saja yang kita usulkan ialah berita atau artikel yang berkaitan dengan masalah remaja.
Catatan :
Masih ada beberapa kriteria lagi, tapi buat sementara cukup yang ini dulu.
B. Pedoman Kedua: MENEMBUS SUMBER
1. Cari nama, alamat, nomor telepon sumber berita di mana saja. Coba kontak dulu via telepon. Yakinkan pentingnya wawancara ini, jelaskan bahwa wartawan bekerja dengan deadline. Bicaralah secara baik-baik, jelaskan wawancara mengenai apa.
2. Kalau yang menerima telepon bukan sumber berita (isteri, suami, adik, anak, sekretaris pribadi, pembantu rumahtangga), lakukan hal yang sama, kemudian pesankan secara baik dan sopan permohonan untuk wawancara. Jelaskan wawancara mengenai apa dan apa manfaatnya bagi sumber berita dan pembaca.
3. Kalau sumber berita menyediakan waktu setelah deadline, sekali lagi yakinkan pentingnya wawancara ini, dan jelaskan bahwa pada hari yang ditentukan itu deadline sudah lewat (kalau gagal juga, cari sumber berita lain yang setara sebagai alternatif).
4. Kalau sumber berita minta surat permohonan wawancara, tawar dulu secara sopan dan baik-baik. Kalau gagal, apa boleh buat : buatkan surat permohonan resmi yang baik dan sopan, sertakan pula daftar pertanyaan sekalian cantumkan tanggal deadlinenya.
5. Baik dengan atau tanpa surat, hari “H” wawancara harus dicek lagi. Jangan menunggu dan jangan menyerah. Sekali lagi : jangan menyerah dan jangan menyerah!
C. Pedoman Ketiga: WAWANCARA
6. Terlebih dulu pikirkan apa yang menjadi masalah pokok dalam wawancara ini. Selain itu, angle atau “sudut pandang”-nya yang khas, apa? Misalnya wawancara dengan Oma Irama, bisa banyak hal yang kita tanyakan. Tapi “sudut padang” atau angle yang sudah kita sepakati dalam Rapat Perencaan, tentang apa? Tentang keluarganya, karirnya sebagai musisi, atau tentang seni dan dakwah?
7. Tuliskan sekitar 7 sampai 10 pertanyaan pokok yang ada kaitannya dengan angle persoalan yang hendak kita persoalkan.
8. Ketika kita memulai wawancara, sebaiknya jangan pertanyaan pokok yang pertama kali kita lontarkan. Tapi “basa-basi” dulu mengenai beberapa hal yang ringan-ringan. Bisa masalah pribadi, bisa masalah-masalah yang sedang jadi pembicaraan umum. Tapi usahakan masih ada kaitannya dengan pertanyaan pokok. Tujuannya supaya suasana menjadi cair (tidak terkesan resmi).
9. Jangan malu menanyakan hal-hal yang kurang jelas. Baik menyangkut materi persoalan, maupun menyangkut nama dan ejaan sebuah istilah dalam bahasa asing (Inggris, Belanda, Prancis, Jerman, Arab). Kalau sumber berita menyebut nama orang asing, catat namanya dengan benar dan apa keahliannya. Begitu pula kalau ia menyebut nama atau judul sebuah buku, catat dengan baik pengarangnya, tahun terbitnya, penerbitnya, dan seterusnya.
10. Ini penting. Jangan sekali-kali “hanyut” oleh omongan sumber berita yang ngelantur. Sebab kitalah pemandunya, BUKAN DIA. Kalau dia mulai melenceng dari pokok persoalan, jangan segan-segan memotongnya, tapi tentu saja dengan sopan. Kalau ada keterangan yang kurang jelas, tanyakan kembali. Kalau Anda ragu dan tidak sependapat, debatlah (dengan sopan), sampai jelas betul persoalannya.
11. Kalau Anda menggunakan alat perekam, cek dulu apakah baterainya bagus, apakah kasetnya bagus, apakah alat perekam itu berfungsi. Dan selain merekam, ada baiknya Anda juga mencatat hal-hal yang Anda anggap penting. Siapa tahu rekamannya buruk, atau hilang.
C. Pedoman Keempat: BAHASA SEBAGAI SENJATA
1. Senjata seorang petani adalah cangkul, senjata prajurit adalah bedil. Dan senjata wartawan adalah bahasa (dan persyaratan layak berita). Karena itu, penguasaan Bahasa Indonesia (dan beberapa persyaratan layak berita) adalah mutlak. Jadi, seorang wartawan (apalagi jika kita menulis features) harus menggunakan bahasa Indonesia yang baik dan benar. Ada beberapa buku mengenai hal itu yang bisa dibeli dan dipelajari sendiri. Tapi secara ringkas yang harus diperhatikan antara lain :
a. Kalimat harus sempurna. Ada pokok kalimat, predikat, obyek, pelengkap, keterangan. Kalimat harus masuk akal, berdasarkan kenyataan peliputan. Bisa berdasarkan ucapan sumber, tapi jangan sekali-kali “mengarang”, apalagi mengada-ada.
b. Sebuah kalimat sebaiknya pendek, tak lebih dari 10 kata. Hindari anak-anak kalimat. Meskipun mungkin menyalahi aturan tatabahasa, sebuah anak kalimat dapat berdiri sendiri sebagai kalimat tersendiri.
c. Satu alenia sedapat mungkin tak lebih dari 10 baris, agar napas pembaca tidak tersengal-sengal karena capai membaca. Apalagi kalau masalahnya tidak menarik.
d. Hindari istilah asing yang tidak perlu, cari padanannya dalam Bahasa Indonesia. Kalaupun terpaksa menggunakan istilah asing, tulislah dengan ejaan yang benar dan lengkap dengan artinya sekaligus. Jangan malas mencari kata atau istilah (terutama dalam hal bahasa asing non Inggris), di kamus atau ensiklopedia.
e. Tulis nama orang selengkapnya dengan ejaan yang benar. Munawir Sjadzali, misalnya, jangan ditulis Munawir Sajali, atau Munawir Syazali. Kalau nama sumber berita, misalnya, Vera Ernawati, jangan keliru ditulis Verra Ermawaty. Tanya kepada sumber berita, bagaimana ejaan nama yang benar. f. Profil orang harus lengkap (nama, umur, alamat, profesi, jumlah anak; kalau perlu hobi atau kebiasaan lain). Demikian pula data suatu masalah. Misalnya, sekolah elit Islam (nama, alamat, luas tanah, jumlah gedung, biaya pembangunan, SPP perbulan, jumlah guru, jumlah murid, prestasi sekolah, prestasi guru, prestasi murid, kurikulum, metode pengajaran, bagaimana labnya, perpustakaan, sarana olahraga, dan seterusnya).
D. Pedoman Kelima: MENULIS LAPORAN
1. Tuliskan data profil selengkap mungkin, berikut keterangan yang relevan dengan data yang bersangkutan.
2. Gambarkan suasana pada waktu wwancara. Apa pentingnya wawancara tersebut, misalnya sehubungan dengan seringnya masalah itu dibicarakan karena menyangkut tokoh yang kita wawancarai.
3. Tulis hasil wawancara dalam bentuk tanya-jawab. Kalimat pertanyaan jangan persis seperti yang kita ucapkan. Kalimat itu harus dipersingkat dan diedit hingga menjadi kalimat yang bagus. Begitu pula jawabannya tidak harus persis sama dengan kalimat yang diucapkan oleh sumber berita. Kalau kalimat sumber berita bagus, ya boleh saja kita kutip. Tapi kalau kalimatnya ngaco harus kita edit, tapi tidak mengubah substansinya.
4. Cara menuliskan hasil wawancara juga tidak harus urut seperti urutan pertanyaan ketika kita sedang wawancara. Pertanyaan dan jawaban disusun (kembali) sedemikian rupa, mulai dari hal-hal yang umum menuju ke hal yang khusus. Pertanyaan berikutnya, sebaiknya masih berkaitan dengan pertanyaan sebelumnya. Jangan tiba-tiba meloncat ke masalah yang sama sekali tidak berkaitan dengan persoalan yang ditanyakan sebelumnya.
5. Pertanyaan terakhir sebaiknya ialah persoalan yang akan dijawab oleh sumber berita dengan jawaban yang aneh, lucu, unik, dan menarik – meskipun pertanyaan itu kita ajukan di tengah wawancara.
Catatan :
Banyak wartawan Indonesia yang lupa akan salah satu soko guru berita, yaitu 5W 1-H. Who, siapa yang menjadi tokoh kita, bagaimana profilnya; What, kejadian apa yang menjadi berita; Where, dimana kejadian itu berlangsung; When, kapan terjadinya peristiwa itu; Why, mengapa tokoh kita itu melakukan hal itu atau mengalami kejadian itu; How, bagaimana si tokoh itu melakukannya, bagaimana kejadian itu berlangsung. Dan akhirnya ingat baik-baik, bahwa unsur why dan how sangatlah penting, sebab kedua unsur inilah yang memberi bobot hingga berita menjadi “dalam” atau depth. “Bagaimana” dan “Mengapa”-nya bisa panjang-lebar.
E. Pedoman Keenam: MENULIS REPORTASE
1. Alenia pertama dari sebuah laporan jurnalistik disebut lead, yang bisa terdiri dari beberapa kalimat. Lead harus menarik, hingga pembaca tertarik untuk melanjutkan membaca. Kalau lead tidak menarik, apalagi bahasannya buruk, pembaca akan membuang majalah kita ke keranjang sampah.
2. Ada beberapa jenis lead. Misalnya, lead suasana, profil, ucapan, masalah.
a. Lead suasana bisa menarik. Misalnya, untuk tulisan mengenai sekolah elit Islam itu, begini. Gedung mewah bertingkat tiga itu tampak megah berdiri dengan arsitektur mutakhir. Halamannya luas, teduh. Rerumputan menghijau terhampar, diseling beberapa pohon angsana yang rindang. Anak-anak...(dan seterusnya).
b. Lead profil juga menarik. Misalnya mengenai guru sekolah elit Islam yang bertitel doktor dan berprestasi sebagai ilmuwan. Ia menjadi andalan dan kebanggaan sekolah itu, bukan hanya karena prestasinya tapi juga lantaran ia ganteng. Begini. Perawakan dan tampangnya layak menjadi bintang film. Bukan hanya fisiknya, prestasinya pun boleh dibanggakan. Lelaki itu, Muttaqien, memang menjadi andalan Sekolah Elit Islam “Al-Multazam”, dan dibanggakan oleh anak didiknya. Dan seterusnya.
c. Lead ucapan, agak kurang menarik. Begini. “Ah, sekolah kami kan biasa-biasa saja”, kata Prof. Muttaqien. Padahal, sekolah yang terletak di kawasan Cempaka Putih, Jakarta Timur itu, banyak meraih prestasi. Beberapa muridnya sering menggondol berbagai kejuaraan. Dan seterusnya.
d. Lead masalah. Ini sangat umum dan lazim digunakan, dan biasanya kurang “berseni”. Hampir semua orang bisa menuliskannya, dan kurang menarik. Misalnya begini. Sekolah elit banyak berdiri di Jakarta. Dulu, sekolah mewah dengan bayaran mahal itu banyak didirikan oleh kalangan sebuah lembaga pendidikan. Tapi kini “sekolah elit” seperti itu juga sudah banyak diselenggarakan oleh banyak kalangan. Dan seterusnya.
3. Setelah lead, mulai masuk ke masalah. Masalah ini harus disusun sesuai dengan urutannya, jangan meloncat-loncat. Dan di tengah-tengahnya, seperti biasa, kita cantumkan ucapan (quotation) untuk memperkuat bahan.
4. Dan akhirnya pilihlah ending yang juga menarik. Misalnya ucapan yang lucu atau mengagetkan, bisa pula masalah lain yang menarik sebagai kesimpulan.
F. Pedoman Ketujuh: MENULIS JADI
1. Baik dalam menulis laporan wawancara, reportase atau tulisan jadi, ada baiknya terlebih dahulu kita menulis outline atau rancangan, sebagai resume dari apa yang tergambar dalam pikiran kita, berdasarkan bahan yang kita dapat. Outline sangat membantu dan memudahkan kita menulis.
2. Begitu kita akan menulis, pikirkanlah apa kira-kira lead-nya, apa kira-kira ending-nya, dan apa saja kira-kira urutan masalahnya.
3. Siapkan diri dan mental untuk menulis, tapi ingat panjangnya berapa karakter. Tambahkan beberapa ratus karakter lagi agar redaktur bisa lebih leluasa mengeditnya.
4. Nah, bagaimana dengan eye catching (kita singkat saja menjadi “taicing”)? “Taicing” terdiri dari 3 – 4 kalimat pendek, ditaruh di antara judul dan lead. Isinya semacam kesimpulan dari tulisan kita. Pilihlah kalimat-kalimat yang menarik, hingga dengan membaca selintas saja, pembaca jadi tertarik untuk membaca features kita sampai selesai.
5. Dan akhirnya wartawan jangan sekali-kali menggurui. Tapi juga jangan sekali-kali punya anggapan bahwa semua orang “sudah tahu”. Karena itu, tulisan kita harus populer, bahasanya mudah, lucu, ringan, enak, tapi penting bagi pembaca. Juga jangan “menulis untuk diri sendiri”. Artinya, kita harus membayangkan bahwa tulisan kita akan dibaca oleh berbagai kalangan, mulai dari tukang becak sampai profesor, mulai dari pembantu rumah tangga sampai Ibu Negara. Membaca tulisan kita, si tukang becak tidak merasa digurui, sementara sang Ibu Negara tidak menilai kita terlalu bodoh.
G. Pedoman Kedelapan: TENTANG JUDUL
1. Judul bukan hanya berfungsi sebagai “kepala”, atau ringkasan dari berita atau cerita, tapi juga sebagai upaya agar pembaca tertarik membacanya.
2. Judul merupakan ringkasan atau kesimpulan dari berita atau cerita. Dan sebagai kesimpulan, judul harus singkat padat dan mencerminkan isi. Bahkan dalam Kode Etik Wartawan Indonesia (sudah baca belum?) disebutkan, bahwa wartawan Indonesia dilarang menulis judul (istilahnya “kepala berita”) yang tidak sesuai dengan isi berita.
3. Judul jangan dibikin sembarangan. Meskipun sudah berfungsi sebagai “kepala” dan “kesimpulan”, usahakan agar “enak dibaca dan didengar”.
4. Judul, selain sebagai kesimpulan atau ringkasan, bukan tak mungkin juga merupakan salah satu ucapan seseorang yang menjadi tokoh berita, atau sekedar “mewakili” salah satu kalimat yang khas atau lucu.
5. Judul dibuat dengan membaca seluruh berita atau cerita, lalu menyimpulkannya, atau mengutip ucapan tokoh, atau mengambil potongan kalimat dalam berita. Kemudian diendapkan, dipikir-pikir, dicari beberapa altenatif, dipilih satu yang pas. Dan jitu.
Nah, selamat menulis dan terus menulis, karena dunia kita adalah dunia tulis-menulis!
***


Komentar terakhir
Selamat atas bl
Saya berbahagia bisa berken
Tibake ono Haryanto loro, kabeh so
Senang sekali berkenalan dengan
pagi ini aku gogling karena ndak ad
terimakasih atas kunjungan anda. ah, ini
kangen sa
Wonogirinya di mana? Saya asli