Bahan Pelatihan Menulis (II)
Sebelum menulis, seorang wartawan (dan redaktur) harus mencermati beberapa hal sebagai berikut:
1. Perencanaan. Berbeda dengan kerja jurnalisme di masa silam, di masa modern ini perusahaan pers lazim menerapkan perencanaan. Baik di majalah, jurnal, akan tetapi terlebih-lebih lagi di koran harian. Rapat perencanaan pagi hari, sekitar jam 10:00, disebut rapat proyeksi atau perencanaan (sebelum atau selama reporter terjun ke lapangan), sedangkan rapat sore atau malam hari disebut rapat budgeting (lebih pada pembagian jatah halaman), atau rapat checking – lebih pada pengecekan bobot berita, layak berita. Tentu saja bisa terjadi dua-duanya dilakukan sekaligus. Dan itu sangat lazim.
2. Layak muat. Dalam rapat perencanaan didiskusikan, apakah suatu berita atau kasus layak muat atau tidak, bobotnya seberapa, sangat istimewa, atau didrop saja. Dalam rapat perencanaan, sangat dianjurkan agar semua redaksi dan wartawan berbicara mengemukakan pendapat dan argumentasi untuk mempertahankan atau mengkritik atau menguji suatu berita atau artikel yang direncanakan akan dimuat.
3. Kriteria layak muat. Kriteria layak muat, banyak. Antara lain: peristiwanya aktual, menyangkut sebuah nama penting (public figure, selebritas), menyangkut prestasi yang hebat, termasuk kejadian langka, menyangkut publik dalam jumlah (sangat) besar, dan seterusnya. Pendeknya: luar biasa, spesial. Sebagaimana filosofi berita yang sangat klasik: Anjing menggingit orang, itu berita biasa, bahkan bukan lagi berita. Tapi orang menggigit anjing, itu berita luar biasa, angat layak muat.
4. Angle. Sebuah berita menyangkut seorang artis beken tentu akan dimuat oleh banyak media. Nah, bagaimana agar berita yang kita muat berbeda dengan berita di media lain, apalagi media saingan kita? Pilihlah angle (sudut pandang) yang berbeda, yang menarik. Bukan hanya itu, lakukan wawancara langsung, lontarkan pertanyaan strategis, tulis dan gambarkan profil selengkapnya, dengan reportase yang dalam (in depth reporting), dengan deskripsi yang “basah”, tidak kering. Itu belum cukup. Jepret dia dengan pose yang pas (sesuai dengan kejadiannya), dengan teknik fotografi yang profesional!
5. Assignment. Agar supaya tulisan kita sesuai dengan yang dikehendaki dalam rapat perencanaan, buatlah assignment alias penugasan. Lembar Penugasan, selain memuat nama rubrik, masalahnya, nama narasumber, dan angle, tentu saja juga memuat daftar pertanyaan. Dan jangan lupa: foto apa dan bagaimana yang dikehendaki. Sangat dianjurkan kepada redaktur yang menugasi untuk (selalu) berdiskusi dengan wartawan yang ditugasi. Sebelum kolom pertanyaan, harus ada kolom mengenai reportase – apa yang harus digambarkan oleh si wartawan. Dalam hal pertanyaan, sekali lagi tuliskan pertanyaan yang strategis – bukan pertanyaan yang biasa-biasa saja. Dan jangan lupa, si wartawan harus mengembangkan assignment – tidak hanya membebek kaku pada penugasan mati itu.
6. Reportase. Reportase tidak hanya berlaku ketika kita meliput sepakbola, nonton pergelaran musik, meliput kebakaran sebuah gedung. Ketika kita mewawancarai seorang publik figure, jangan lupa lakukan pula reportase. Bagaimana suasana rumahnya, ada hiasan apa saja, dia pakai parfum apa, merokok merk apa, bagaimana gaya bicaranya, sepatu atau arlojinya merk apa. Pendeknya: pemotretan atau penggambaran yang descriptif. Reportase dan deskripsi adalah darah segar sebuah berita (dalam hal ini feature – bukan hard news atau straight news).
7. Wawancara. Sebelum wawancara, sangat dianjurkan kita sudah memiliki bahan mengenai siapa narasumber yang akan kita temui, kejadiannya bagaimana, dan seterusnya. Sehingga ketika kita wawancara tidak kelihatan bego-bego amat. Selain itu, lontarkan pertanyaan-pertanyaan strategis – yang tidak ditanyakan oleh wartawan lain. Jangan sekali-kali bertanya, misalnya, “Bagaimana perasaan Anda ketika…..” atau “Mengapa terjadi hal seperti itu?” Ini pertanyaan wartawan dungu! Sekali lagi, kita sudah harus punya bahan (kalau bisa, lengkap), dan lontarkan pertanyaan yang strategis.
8. Jangan malu bertanya. Jangan malu bertanya! Kalau memang tidak tahu bagaimana ejaan namanya, atau ejaan sebuah istilah asing, jangan malu bertanya. Dan jangan sungkan untuk minta kepada narasumber untuk menuliskan nama atau istilah itu. Begitu pula ketika sebuah keterangan (ternyata) tidak jelas di telinga Anda, jangan sungkan-sungkan bertanya lagi. Demikian pula jika ada penjelasan yang tak masuk akal, jangan sungkan untuk berdiskusi. Semua itu, tentu saja, lakukanlah dengan cukup sopan tapi bermartabat – tanpa merendah-rendahkan diri!
9. Tape recorder. Sangat wajar jika seorang wartawan membawa alat perekam ketika wawancara. Tapi, Anda sebaiknya juga tetap mencatat hal-hal penting di buku saku. Dan (ini penting!) setelah kembali ke kantor, sebaiknya (sebaiknya!) Anda tidak melakukan transkripsi – yang biasanya mengganggu teman-teman sekantor itu. Untuk menulis kembali hasil wawancara, andalkanlah ingatan dan catatan di buku saku Anda, sementara kaset perekam hanyalah sebagai alat pengecekan saja. Karena itu: jangan sekali-kali menunda untuk menuliskan kembali hasil wawancara Anda, hasil reportase Anda, “belanjaan” Anda di lapangan sebagai reporter. Mumpung masih hangat di memory Anda, tulislah!
***