Bahan Pelatihan Menulis (IV)
DI kalangan para wartawan TEMPO di tahun 1970-an, ada sebuah peringatan yang mula-mula dianggap agak "lucu" dan "aneh" yaitu: "Mau selamat? Buatlah outline terlebih dulu!" Maksudnya tiada lain, sebelum menulis berita, laporan, reportase, wawancara, feature, susunlah dulu sebuah outline, rancangan atau kerangka tulisan.
Pada umumnya, sebuah outline terdiri dari tiga bagian besar: lead, body, ending. Lead bisa dianggap sebagai pengantar atau pembuka sebuah tulisan. Lead yang baik ialah yang mampu menarik minat pembaca, menimbulkan keinginan tahu mereka, sehingga pembaca semakin penasaran dan meneruskan membaca. Ada beberapa macam lead, di antaranya: (1) lead sebagai kesimpulan dari tulisan, tapi lead begini kurang menarik; (2) lead yang menggambarkan profil tokoh yang menjadi tokoh sentral tulisan, dengan syarat profilnya menarik; (3) lead berupa reportase deskriptif mengenai situasi di sekitar rumah, kantor, kamar sang tokoh, atau suatu kejadian yang tragis, dramatis, memilukan, atau mungkin lucu.
Begitu selesai menulis lead, yang panjangnya maksimal dua alinea, kita langsung menulis body tulisan. Tentu saja harus ada kesinambungan maalah dan logika antara kalimat terakhir lead dan kalimat pertama body. Dalam hal ini satu hal harus diingat, bahwa kalimat pertama dan kedua dari body tulisan harus langsung dapat mengacu pada masalah pokok yang kita tulis, yang biasa disebut angle, sudut pandang tulisan. Apa angle tulisan kita? Misalnya mengenai pengalaman ruhani Hughes yang gelisah mencari kebenaran dan akhirnya menemukan Islam sebagai kebenaran sejati. Nah, kita harus setia dengan angle, tulisan harus selalu terfokus pada angle.
Bahan bejibun!
Bahwa ada variasi pikiran dan kejadian, namun semuanya harus kembali atau dikaitkan dengan angle. Kalau ada ucapan atau quotation, juga tetap harus diusahakan setia mengacu kepada angle. Masalah, kejadian, ucapan yang terekam dalam tape recorder atau tercatat dalam block note – tapi tak ada kaitannya dengan angle persoalan yang kita tulis – harap lupakan saja!
Bingung menghadapi bahan bejibun? Gampang! Dengarkan hasil rekaman dari awal sampai akhir, catat hal-hal yang penting yang mungkin bisa dimanfaatkan dalam tulisan, tapi sesuaikan dengan outline. Baca pula semua bahan, baik catatan di block note maupun bahan dari kliping, lalu beri nomor urut, berdasarkan masalahnya. Masalah di lembar 5 mungkin kita kasih nomor 1 karena bisa dijadikan lead. Hasil wawancara di tengah-tengah wawancara mungkin bisa dikasih nomor 10 (misalnya) karena bisa dijadikan ending. Nah, nomor urut itu memudahkan kita "menjahit" bahan mentah hasil "belanjaan" ketika kita melakukan reportase dan wawancara menjadi tulisan yang kompak dan setia kepada angle.
Eye catching
Itulah siasat yang sederhana tapi memudahkan kerja kita. Nah, gampang, kan? Tinggallah kini kita memikirkan apa dan bagaimana ending-nya. Seperti halnya menulis lead, mencari dan menulis ending juga tidak gampang. Tapi kalau kita bisa mensiasatinya dengan taktik "menjahit" tadi, maka kita tinggal "memasang" saja beberapa hal (masalah, kejadian, ucapan) yang sudah kita beri nomor tadi sesuai dengan urutan nomornya.
Jadi, bagaimana ending-nya? Carilah nomor terakhir, mungkin nomor 10 atau 15. Atau mau bikin ending yang lain? Bisa saja. Misalnya satu dua kalimat berupa sedikit opini yang merupakan kesimpulan dari kehidupan tokoh kita. Buatlah kalimat yang bagus, agak berbau sastra, mengharukan, atau bernilai hikmah.
Selesai menulis ending tidak berarti tugas kita selesai. Kita masih harus membaca lagi (dengan teliti) tulisan kita, dan jangan lupa menulis apa yang disebut eye catching. Yang dimaksud dengan eye catching ialah dua-tiga kalimat yang merupakan kesimpulan dari tulisan kita. Sekali mata (eye) kita melihat, membaca, menangkap (to catch) dua-tiga kalimat tersebut, mafhumlah pembaca kita apa yang kita tulis. Setelah itu buatlah judul, yang menggambarkan atau mewakili isi atau makna tulisan. Judul yang baik ditulis dengan kalimat yang bagus, dan sedapat mungkin hanya terdiri dari (maksimal) empat kata.
***


Komentar terakhir
Selamat atas bl
Saya berbahagia bisa berken
Tibake ono Haryanto loro, kabeh so
Senang sekali berkenalan dengan
pagi ini aku gogling karena ndak ad
terimakasih atas kunjungan anda. ah, ini
kangen sa
Wonogirinya di mana? Saya asli