Rabu, Oktober 31, 2007

Bahan Pelatihan Menulis (IV)

DI kalangan para wartawan TEMPO di tahun 1970-an, ada sebuah peringatan yang mula-mula dianggap agak "lucu" dan "aneh" yaitu: "Mau selamat? Buatlah outline terlebih dulu!" Maksudnya tiada lain, sebelum menulis berita, laporan, reportase, wawancara, feature, susunlah dulu sebuah outline, rancangan atau kerangka tulisan.
 

          Pada umumnya, sebuah outline terdiri dari tiga bagian besar: lead, body, ending. Lead bisa dianggap sebagai pengantar atau pembuka sebuah tulisan. Lead yang baik ialah yang mampu menarik minat pembaca, menimbulkan keinginan tahu mereka, sehingga pembaca semakin penasaran dan meneruskan membaca. Ada beberapa macam lead, di antaranya: (1) lead sebagai kesimpulan dari tulisan, tapi lead begini kurang menarik; (2) lead yang menggambarkan profil tokoh yang menjadi tokoh sentral tulisan, dengan syarat profilnya menarik; (3) lead berupa reportase deskriptif mengenai situasi di sekitar rumah, kantor, kamar sang tokoh, atau suatu kejadian yang tragis, dramatis, memilukan, atau mungkin lucu.


          Begitu selesai menulis lead, yang panjangnya maksimal dua alinea, kita langsung menulis body tulisan. Tentu saja harus ada kesinambungan maalah dan logika antara kalimat terakhir lead dan kalimat pertama body. Dalam hal ini satu hal harus diingat, bahwa kalimat pertama dan kedua dari body tulisan harus langsung dapat mengacu pada masalah pokok yang kita tulis, yang biasa disebut angle, sudut pandang tulisan. Apa angle tulisan kita? Misalnya mengenai pengalaman ruhani Hughes yang gelisah mencari kebenaran dan akhirnya menemukan Islam sebagai kebenaran sejati. Nah, kita harus setia dengan angle, tulisan harus selalu terfokus pada angle.


Bahan bejibun!

          Bahwa ada variasi pikiran dan kejadian, namun semuanya harus kembali atau dikaitkan dengan angle. Kalau ada ucapan atau quotation, juga tetap harus diusahakan setia mengacu kepada angle. Masalah, kejadian, ucapan yang terekam dalam tape recorder atau tercatat dalam block note – tapi tak ada kaitannya dengan angle persoalan yang kita tulis – harap lupakan saja!


          Bingung menghadapi bahan bejibun? Gampang! Dengarkan hasil rekaman dari awal sampai akhir, catat hal-hal yang penting yang mungkin bisa dimanfaatkan dalam tulisan, tapi sesuaikan dengan outline. Baca pula semua bahan, baik catatan di block note maupun bahan dari kliping, lalu beri nomor urut, berdasarkan masalahnya. Masalah di lembar 5 mungkin kita kasih nomor 1 karena bisa dijadikan lead. Hasil wawancara di tengah-tengah wawancara mungkin bisa dikasih nomor 10 (misalnya) karena bisa dijadikan ending. Nah, nomor urut itu memudahkan kita "menjahit" bahan mentah hasil "belanjaan" ketika kita melakukan reportase dan wawancara menjadi tulisan yang kompak dan setia kepada angle.


Eye catching

          Itulah siasat yang sederhana tapi memudahkan kerja kita. Nah, gampang, kan? Tinggallah kini kita memikirkan apa dan bagaimana ending-nya. Seperti halnya menulis lead, mencari dan menulis ending juga tidak gampang. Tapi kalau kita bisa mensiasatinya dengan taktik "menjahit" tadi, maka kita tinggal "memasang" saja beberapa hal (masalah, kejadian, ucapan) yang sudah kita beri nomor tadi sesuai dengan urutan nomornya.

Jadi, bagaimana ending-nya? Carilah nomor terakhir, mungkin nomor 10 atau 15. Atau mau bikin ending yang lain? Bisa saja. Misalnya satu dua kalimat berupa sedikit opini yang merupakan kesimpulan dari kehidupan tokoh kita. Buatlah kalimat yang bagus, agak berbau sastra, mengharukan, atau bernilai hikmah.


          Selesai menulis ending tidak berarti tugas kita selesai. Kita masih harus membaca lagi (dengan teliti) tulisan kita, dan jangan lupa menulis apa yang disebut eye catching. Yang dimaksud dengan eye catching ialah dua-tiga kalimat yang merupakan kesimpulan dari tulisan kita. Sekali mata (eye) kita melihat, membaca, menangkap (to catch) dua-tiga kalimat tersebut, mafhumlah pembaca kita apa yang kita tulis. Setelah itu buatlah judul, yang menggambarkan atau mewakili isi atau makna tulisan. Judul yang baik ditulis dengan kalimat yang bagus, dan sedapat mungkin hanya terdiri dari (maksimal) empat kata.



***



Posted by BSH at 20:42:44 | Permanent Link | Comments (0) |

Sabtu, Oktober 27, 2007

Bahan Pelatihan Menulis (III)

Banyak wartawan pemula yang bingung bagaimana memulai menulis berita atau artikel. Satu-satunya kunci sebagai jalan selamat ialah menyusun outline. Nah, perhatikan beberapa petunjuk praktis di bawah ini:

1. Outline. "Jika mau selamat, susunlah outline!" Outline, disebut juga kerangka tulisan, memang bisa "menyelamatkan" seorang penulis dari kerancuan logika, dari sistematika yang awut-awutan, sebab outline merupakan pedoman atau tuntunan bagi kita untuk menulis.
2. Lead. Sebuah tulisan (baik berita biasa maupun feature) selalu diawali dengan lead, yaitu satu atau dua kalimat (mungkin juga sebuah alinea) yang menarik – sehingga pembaca tertarik untuk membaca tulisan kita. Lead bisa berupa sebuah "keterangan" mengenai hal-hal yang aktual (misalnya berkenaan dengan HUT kota Jakarta, 22 Juni 2006), atau profil seorang public figure (Hari-hari ini, Nyonya Halimah masih nampak gundah gulana. Di benaknya seakan terbayang wajah Mayangsari yang sumringah tapi setengah menyeringai sinis....).


3. Body text. Setelah lead, kita masuk ke body text, yaitu persoalan sebenarnya yang akan kita tulis. Ingat, persoalan sebenarnya, atau inti persoalan. Jangan melebar kemana-mana. Kalaupun di dalamnya kita sertakan quotations, hendaknya yang relevan dengan persoalan yang kita tulis. Dan, hindari kata-kata seperti: terangnya, jelasnya, akunya, dan sebagainya.


4. Populer. Usahakan gaya kita dalam menulis cukup populer, mudah dipahami, hindari kata-kata asing (yang tidak perlu). Gaya menulis yang baik ialah gaya bertutur, bercerita, berkisah, dan sekali lagi deskriptif. Sebab, berita atau feature adalah a story about fact, not fiction. Jadi, story, cerita, kisah. Tapi, kisah yang menyangkut fakta. Sedangkan kisah yang menyangkut fiksi bukanlah berita atau feature, melainkan karya sastra.


5. Ending. Sebuah tulisan akan berakhir dengan enak dan pas jika kita mengakhirinya dengan ending yang bagus. Misalnya, ...akhirnya Mayangsari mengalah, pulang ke rumah orangtuanya di Surabaya. Itu hanya misal. Banyak ending lain yang bagus, tapi tak mudah menemukannya!


6. Judul. Bagaimana dengan judul? Baik judul maupun eye catching (jangan sebut: catcher atau tai kucing!) sebaiknya dibuat ketika berita, artikel, feature kita sudah rampung. Tapi ingat, dengan selesainya sebuah tulisan tak berarti tugas Anda usai pula. Sangat dianjurkan agar Anda kembali dan kembali membacanya ulang, satu dua tiga kali lagi. Siapa tahu ada hal-hal yang kurang atau salah ketik. Malas? Kalau gitu jangan jadi wartawan!

***

Posted by BSH at 02:00:20 | Permanent Link | Comments (0) |

Bahan Pelatihan Menulis (II)


Sebelum menulis, seorang wartawan (dan redaktur) harus mencermati beberapa hal sebagai berikut:


1. Perencanaan
. Berbeda dengan kerja jurnalisme di masa silam, di masa modern ini perusahaan pers lazim menerapkan perencanaan. Baik di majalah, jurnal, akan tetapi terlebih-lebih lagi di koran harian. Rapat perencanaan pagi hari, sekitar jam 10:00, disebut rapat proyeksi atau perencanaan (sebelum atau selama reporter terjun ke lapangan), sedangkan rapat sore atau malam hari disebut rapat budgeting (lebih pada pembagian jatah halaman), atau rapat checking – lebih pada pengecekan bobot berita, layak berita. Tentu saja bisa terjadi dua-duanya dilakukan sekaligus. Dan itu sangat lazim.

2. Layak muat
. Dalam rapat perencanaan didiskusikan, apakah suatu berita atau kasus layak muat atau tidak, bobotnya seberapa, sangat istimewa, atau didrop saja. Dalam rapat perencanaan, sangat dianjurkan agar semua redaksi dan wartawan berbicara mengemukakan pendapat dan argumentasi untuk mempertahankan atau mengkritik atau menguji suatu berita atau artikel yang direncanakan akan dimuat.

3. Kriteria layak muat
. Kriteria layak muat, banyak. Antara lain: peristiwanya aktual, menyangkut sebuah nama penting (public figure, selebritas), menyangkut prestasi yang hebat, termasuk kejadian langka, menyangkut publik dalam jumlah (sangat) besar, dan seterusnya. Pendeknya: luar biasa, spesial. Sebagaimana filosofi berita yang sangat klasik: Anjing menggingit orang, itu berita biasa, bahkan bukan lagi berita. Tapi orang menggigit anjing, itu berita luar biasa, angat layak muat.

4. Angle
. Sebuah berita menyangkut seorang artis beken tentu akan dimuat oleh banyak media. Nah, bagaimana agar berita yang kita muat berbeda dengan berita di media lain, apalagi media saingan kita? Pilihlah angle (sudut pandang) yang berbeda, yang menarik. Bukan hanya itu, lakukan wawancara langsung, lontarkan pertanyaan strategis, tulis dan gambarkan profil selengkapnya, dengan reportase yang dalam (in depth reporting), dengan deskripsi yang "basah", tidak kering. Itu belum cukup. Jepret dia dengan pose yang pas (sesuai dengan kejadiannya), dengan teknik fotografi yang profesional!

5. Assignment
. Agar supaya tulisan kita sesuai dengan yang dikehendaki dalam rapat perencanaan, buatlah assignment alias penugasan. Lembar Penugasan, selain memuat nama rubrik, masalahnya, nama narasumber, dan angle, tentu saja juga memuat daftar pertanyaan. Dan jangan lupa: foto apa dan bagaimana yang dikehendaki. Sangat dianjurkan kepada redaktur yang menugasi untuk (selalu) berdiskusi dengan wartawan yang ditugasi. Sebelum kolom pertanyaan, harus ada kolom mengenai reportase – apa yang harus digambarkan oleh si wartawan. Dalam hal pertanyaan, sekali lagi tuliskan pertanyaan yang strategis – bukan pertanyaan yang biasa-biasa saja. Dan jangan lupa, si wartawan harus mengembangkan assignment – tidak hanya membebek kaku pada penugasan mati itu.

6. Reportase
. Reportase tidak hanya berlaku ketika kita meliput sepakbola, nonton pergelaran musik, meliput kebakaran sebuah gedung. Ketika kita mewawancarai seorang publik figure, jangan lupa lakukan pula reportase. Bagaimana suasana rumahnya, ada hiasan apa saja, dia pakai parfum apa, merokok merk apa, bagaimana gaya bicaranya, sepatu atau arlojinya merk apa. Pendeknya: pemotretan atau penggambaran yang descriptif. Reportase dan deskripsi adalah darah segar sebuah berita (dalam hal ini feature – bukan hard news atau straight news).

7. Wawancara
. Sebelum wawancara, sangat dianjurkan kita sudah memiliki bahan mengenai siapa narasumber yang akan kita temui, kejadiannya bagaimana, dan seterusnya. Sehingga ketika kita wawancara tidak kelihatan bego-bego amat. Selain itu, lontarkan pertanyaan-pertanyaan strategis – yang tidak ditanyakan oleh wartawan lain. Jangan sekali-kali bertanya, misalnya, "Bagaimana perasaan Anda ketika....." atau "Mengapa terjadi hal seperti itu?" Ini pertanyaan wartawan dungu! Sekali lagi, kita sudah harus punya bahan (kalau bisa, lengkap), dan lontarkan pertanyaan yang strategis.

8. Jangan malu bertanya
. Jangan malu bertanya! Kalau memang tidak tahu bagaimana ejaan namanya, atau ejaan sebuah istilah asing, jangan malu bertanya. Dan jangan sungkan untuk minta kepada narasumber untuk menuliskan nama atau istilah itu. Begitu pula ketika sebuah keterangan (ternyata) tidak jelas di telinga Anda, jangan sungkan-sungkan bertanya lagi. Demikian pula jika ada penjelasan yang tak masuk akal, jangan sungkan untuk berdiskusi. Semua itu, tentu saja, lakukanlah dengan cukup sopan tapi bermartabat – tanpa merendah-rendahkan diri!

9. Tape recorder
. Sangat wajar jika seorang wartawan membawa alat perekam ketika wawancara. Tapi, Anda sebaiknya juga tetap mencatat hal-hal penting di buku saku. Dan (ini penting!) setelah kembali ke kantor, sebaiknya (sebaiknya!) Anda tidak melakukan transkripsi – yang biasanya mengganggu teman-teman sekantor itu. Untuk menulis kembali hasil wawancara, andalkanlah ingatan dan catatan di buku saku Anda, sementara kaset perekam hanyalah sebagai alat pengecekan saja. Karena itu: jangan sekali-kali menunda untuk menuliskan kembali hasil wawancara Anda, hasil reportase Anda, "belanjaan" Anda di lapangan sebagai reporter. Mumpung masih hangat di memory Anda, tulislah!

***

Posted by BSH at 01:45:55 | Permanent Link | Comments (0) |

Bahan Pelatihan Menulis (I)

Di bawah ini saya sampaikan beberapa hal yang harus diketahui oleh para calon wartawan pemula:

1.   Profesional. Istilah "profesional" bukanlah sekedar penamaan gagah-gagahan. You are a professional journalist, it means you are a real journalist. Wartawan yang profesional ialah wartawan yang sebenar-benar wartawan, bukan wartawan yang tidak mengerti posisi dan perannya, bukan wartawan yang tidak mengerti hakikat tugasnya, bukan wartawan yang tidak tahu tanggung jawabnya, bukan wartawan gadungan. Ia sadar sebagai "penyambung lidah" publik, masyarakat as a silence majority. Ia mengetahui betul apa yang terkandung dalam UU Nomor 40/1999 tentang Pers, ia memahami betul makna Kode Etik Jurnalistik (yang baru, Maret 2006). Ia tahu makna 5 W 1 H, ia mengerti apa artinya menepati dead line, ia tahu bahwa karyanya harus bagus, mendekati sempurna, akurat, cepat, dan menggunakan bahasa Indonesia yang baku, baik dan benar. Wartawan yang profesional ialah wartawan yang tidak bodoh, tidak dungu, selalu peduli, dan mengikuti perkembangan.


2.   The nose of news. Wartawan yang baik, yang profesional, tak harus lulusan Jurusan Publisistik, Jurnalistik atau kursus-kursus pelatihan jurnalisme. Namun, profesionalisme memang membutuhkan waktu, membutuhkan jam terbang yang tinggi, lama. Namun, itu tak berarti untuk menjadi wartawan yang baik dan profesional tidak bisa dipelajari. Cuma Anda harus memenuhi syarat mutlak, yakni: niat yang mantap, ketetapan hati untuk mengambil jurnalisme sebagai profesi sampai mati, mempelajari dan memahami hakikat jurnalisme, terus menerus belajar, membaca dan menulis. Pendeknya, tiada hari tanpa membaca dan menulis. Selain itu, ia pantang barkata, "ah, tidak bisa, tidak sempat, sulit ditembus, sulit ditemui." Jika semua itu lebih dimantapkan lagi dengan berbagai pengalaman dan latihan terus-menerus, bukan tak mungkin Anda akan memiliki apa yang disebut the nose of news, kemampuan untuk mengendus berita – berita mana yang layak dan menarik, berita mana yang cuma sampah.


3.   Jalan selamat. Jika Anda pengin "selamat", lakukan hal-hal berikut: (1). Mantapkan profesionalisme, jangan pernah puas, selalu chek and recheck; (2). Lihat sekeliling, pertajam the nose of news; (3). Bekerjalah penuh kegembiraan dan tanggung jawab; (4). Susun assignment dan outline, kerangka pikiran untuk meliput, wawancara, menulis; (5). Perlakukan sebuah karya jurnalisme sepenuh cinta, sebaik dan sesempurna mungkin, baca ulang secara kritis.

Posted by BSH at 01:39:08 | Permanent Link | Comments (0) |