Sedikit tentang Basic Journalism (2)
/ Budiman S. Hartoyo
SEBELUM mempelajari investigative reporting, atau jurnalisme investigasi, atau “laporan penyelidikan”, terlebih dahulu kita harus mengenal jenis-jenis berita. Baik dilihat dari susunan unsur-unsurnya, sifatnya, maupun kepentingan atau kegentingannya. Tanpa mengenal “apa itu berita”, sangat sulit bagi kita – bahkan tak berguna – untuk mempelajari jurnalisme investigasi. Apalagi jurnalisme literarir, jurnalisme sastra, yang berkembang di awal abad ini.
Tapi lebih dari itu, oleh karena berita disajikan melalui bahasa, maka sangat janggal jika kita tidak menguasasi bahasa (Indonesia) secara baik dan benar. Wartawan yang kemampuan bahasa Indonesianya buruk adalah wartawan bodoh, bebal, yang sudah seharusnya menanggalkan baju kewartawanan.
1. Berita. Berita harus berupa peristiwa yang sebenarnya yang disebut fakta. Idealnya, sebuah peristiwa baru bisa diberitakan jika menyangkut kepentingan umum, masyarakat, publik.
2. Fakta dan opini. Berita harus mengandung fakta. Benar-benar terjadi tanpa mendapat tambahan opini atau pendapat si tawan. Karena itu berita harus obyektif dalam menceritakan fakta, tanpa opini.
3. Bad news is a good news. Berita buruk adalah berita yang bagus. Ini pendapat klasik. Peristiwa yang biasa-biasa saja bukan berita; yang tidak biasa, atau luar biasa, itulah berita.
4. Anjing menggigit. Anjing menggigit orang (peristiwa biasa) itu bukan berita. Tapi kalau ada orang menggigit anjing (peristiwa tidak biasa atau luar biasa) itu barulah berita.
5. Good news is a good news. Tapi sesungguhnya tidak selamanya good news itu bukan berita. Kerjasama pemuda muslim dan kristen menjaga keamanan di hari raya Idulfitri dan Natal di Manado, adalah good fact yang good news.
6. The nose of news. Bad news atau good news bisa jadi berita, tergantung dari kepiawaian seorang wartawan yang profesional, yang memiliki daya cium, daya endus terhadap berita yang baik dan kuat. Untuk memiliki the nose of news memerlukan profesionalisme jam terbang sebagai wartawan yang lama.
7. 5W+1H. Wartawan boleh jungkir-balik, tapi sebuah berita harus memenuhi persyaratan baku yang tak boleh ditawar: 5W+1H (Who, What, When, Where, Why, How).
8. Straight news. Berita yang ringkas, padat, hemat kata, tapi bernas – dilihat dari kepadatan dan kebernasan berita, bukan penting tidaknya. Berita singkat padat, tetapi seharusnya selalu bernas dan padat ini, lazim juga disebut sebagai hard news.
9. Breaking news. Berita yang lebih ringkas dari straight news, terutama lebih mengutamakan Who, What, When, Where. Mengingat sangat penting untuk segera diketahui publik, breaking news ditayangkan (di televisi dan radio) menyeruak di tengah suatu acara yang tengah berlangsung.
10. Stop pess. Lebih penting dan genting ketimbang breaking news, berita stop press ditayangkan sesegera mungkin (di suratkabar) dan berkali-kali (di radio dan televisi).
11. Exclusive. Berita yang didapat oleh wartawan secara bersama-sama, dimuat di semua suratkabar, televisi dan radio, adalah berita biasa. Tapi berita yang “luar biasa” ialah yang didapat sendiri oleh seorang wartawan, tidak didapat oleh wartawan lain, lengkap dengan data baru, lain dari yang lain disebut berita eksklusif. Hanya wartawan profesional yang berpengalaman yang mampu memburu dan menyajikan berita yang eksklusif.
12. News feature. Jenis berita yang satu ini pasti bukan stop press, breaking news, atau straight news. Disebut news feature atau news story karena memang merupakan “cerita” dari (serangkaian) berita. Jika hal itu merupakan “cerita di balik berita” (yang tidak biasa), maka feature tersebut bisa bersifat exclusive. Unsur-unsur 5W+1H tetap ada, tetapi lebih menukik lagi menggali unsur Why (mengapa) dan unsur How (bagaimana suatu peristiwa sampai terjadi). Bukan hanya itu, unsur Who (siapa) juga diperdalam, dibeberkan profil sang pelaku selengkap-lengkapnya. Begitu pula unsur-unsur berita lainnya. Pendek kata: cerita, bukan sekedar berita!
***
Pak, saya mengagumi tulisan anda. Saya wartawan bodoh yang sempat didepak dari skuad milis jurnalisme. Apa saya termasuk wartawan bodoh yang bapak maksud ya? kalau iya, mohon saya diijinkan untuk nyantri sama bapak. Terima Kasih.
Bung Wartawan Bodoh,
Justru karena menamakan diri sebagai “wartawan bodoh”, saya anggap anda punya potensi untuk jadi pinter dan profesional. Orang yang merasa dirinya pinter malah bisa jadi akan keblinger. Ngapain nyantri sama saya? Nyantrilah pada hati nurani anda sendiri. Tapi, kalau anda sempat, bukalah blog saya yang lain: http://budimanshartoyo.blogspot.com/ dan http://bsh.blog.com/
Selamat nyantri, eh nyantrik….
Bung Wartawan Bodoh,
Justru karena menamakan diri sebagai “wartawan bodoh”, saya anggap anda punya potensi untuk jadi pinter dan profesional. Orang yang merasa dirinya pinter malah bisa jadi akan keblinger. Ngapain nyantri sama saya? Nyantrilah pada hati nurani anda sendiri. Tapi, kalau anda sempat, bukalah blog saya yang lain: http://budimanshartoyo.blogspot.com/ dan http://bsh.blog.com/
Selamat nyantri, eh nyantrik….