Sedikit tentang Basic Journalism (1)
/ Budiman S. Hartoyo
DALAM setiap kali berdiskusi, saya selalu mengajak agar kawan-kawan terlebih dahulu memahami “apa sebenarnya peran wartawan dan pers.” Saya juga selalu menekankan perlunya kita memahami terlebih dahulu “jurnalisme dasar”. Banyak wartawan senior yang menekankan perlunya kita memahami jurnalisme dasar, yang dalam bahasa Inggris disebut basic journalism.
Selama ini banyak orang menganggap bahwa basic journalism adalah (sekedar) teknik interpiu, reportase, dan menulis belaka. Tapi bagi saya, the real basic journalism adalah jatidiri pers itu sendiri. Bahwa pers adalah salah satu perangkat penting dalam proses demokratisasi, bahwa pers adalah the fourth estate (“pilar kekuasaan” ke empat) dari sistem demokrasi, bahwa pers adalah pengabdi kepentingan umum (public), bahwa pers adalah penyalur dan pengemban the right to know (hak untuk mengetahui) – yang adalah merupakan salah satu hak asasi manusia. Jika demikian halnya, maka wartawan adalah PENGEMBAN AMANAT HAK MASYARAKAT UNTUK MENGETAHUI, dalam masyarakat madani yang terbuka dan demokratis.
Nah, “ideologi” itulah yang terlebih dahulu harus kita pahami dan sepakati bersama. Tanpa memahami dan menyepakati “ideologi” tersebut, tidak ada gunanya berbicara mengenai pers, wartawan, jurnalisme — apalagi jurnalisme investigasi! Jika kita sudah memahami dan menyepakati “ideologi” pers tersebut, mari kita bicara soal jurnalisme dasar.
Pertama-tama kita harus menguliti apa yang disebut dengan “berita”, yang sebagaimana kita semua sudah tahu, wajib mengandung unsur 5-W 1-H. Kiranya tidaklah perlu lagi saya jelaskan, apa itu 5-W 1-H, yaitu enam unsur sangat penting yang wajib ada dalam sebuah berita. Akan tetapi, apa sesungguhnya yang terpenting dalam sebuah berita? Tergantung! Kalau WHO (pelaku peristiwa) adalah orang penting, public figure, semisal selebriti (bukan selebritis!) atau menteri, maka lead (kalimat pertama) bisa menonjolkan sang tokoh. Jika WHAT atau kejadiannya sangat dramatis, Anda boleh memilih lead mengenai kejadian yang dramatis itu, atau seorang korban yang sangat menderita akibat kejadian yang (sangat) memilukan itu. Dan seterusnya.
Dan camkan: Kita harus menulis urutan kejadian sebagaimana fakta sebenarnya berdasarkan data yang akurat. Jadi, tulis hal-hal yang penting, hindari fakta tambahan yang kurang perlu. Sekali lagi: fakta – yang realistis, bukan fiktif. Boleh kita catat, bahwa berita ialah “cerita” tentang fakta, bukan cerita tentang fiksi. News is a story about fact, not fiction. Cerita mengenai fiksi bukanlah berita melainkan cerita rekaan yang bisa ditulis dalam bentuk cerita pendek, roman, novelet, atau novel.
Sebelum menulis berita, apalagi jika berita itu tentang suatu peristiwa besar yang akan ditulis panjang, sangat dianjurkan untuk terlebih dahulu merancang outline, alias kerangka tulisan. Tentu saja outline disusun berdasarkan “belanjaan” bahan dasar (reportase dan wawancara) yang kita dapat di lapangan. Ingat baik-baik seumur hidup: Kalau mau selamat, siapkanlah outline!
Tentu saja sebuah berita pendek dan singkat, yang harus turun segera dalam satu jam, atau puluhan menit mendatang — yang lazim disebut hard news atau straight news – tidaklah memerlukan outline. Tulis saja langsung berita yang hanya “memakan” sekitar 4-5 alinea itu. Namun, untuk menarik minat pembaca, tentu ada baiknya jika kita tonjolkan lead yang menarik. Entah profil pelakunya (selebriti, pejabat negara), atau kejadiannya yang dramatis, atau peristiwanya yang jenaka. Tapi, jangan sekali-kali merekayasa. Tetaplah senantiasa setia berada di jalur fakta yang akurat! Catat di secarik kertas warta merah, selipkan di dompet, hafalkan sebelum tidur: News is a story about fact, not fiction.***