Sedikit tentang Basic Journalism (5)
/ Budiman S. Hartoyo
BENARKAH sekarang ini pers sudah meninggalkan obyektivitas? Banyak orang bukan saja meragukan, bahkan melihat kenyataan seperti itu. Apalagi, dalam jurnalisme sastra yang tampaknya mulai menjadi kecenderungan pers saat ini, salah satu cirinya konon meninggalkan obyektivitas. Dari sini tampak bahwa sebenarnya orang masih percaya bahwa menurut teori, pers harus obyektif. Tapi melihat kinerja (performance) pers masa kini, orang lantas menggugat obyektivitas itu.
Saya melihat ada lima kesalahan sekaligus.
Kesalahan pertama, mengukur pers dari kinerjanya, bukan berdasarkan teori jurnalisme yang baku. Orang mengakui, bahkan sudah takluk pada kenyataan bahwa pers sudah tidak obyektif lagi. Kesalahan kedua, orang menggunakan hasil pengamatan (yang belum tentu benar) tersebut untuk memvonis kinerja pers secara keseluruhan. Kesalahan ketiga, orang tidak menyertakan data untuk memperkuat argumentasi. Kesalahan keempat, orang mengikut-sertakan jurnalisme sastra untuk memperkuat tolok ukur bagi pers yang tidak lagi obyektif. Kesalahan kelima, salah persepsi terhadap jurnalisme sastra. Bahwa pers atau jurnalisme harus obyektif, harus mengemukakan fakta tanpa opini, harus berimbang, harus akurat, harus aktual — merupakan teori baku yang menurut saya sampai kapan pun tak terbantahkan.
Kalau pun kinerja pers masa kini (atau kapan pun juga) dinilai tidak lagi memenuhi teori baku tersebut, tidak berarti sudah muncul teori baru, atau ada lompatan kemajuan di dunia pers. Justru sebaliknya harus dikatakan, bahwa pers yang tidak obyektif (dan sebagainya) sesungguhnya bukanlah pers. Ada yang melihat pers masa kini tidak lagi obyektif, tapi tanpa memberikan data.
Kalau pun ada data mengenai hal itu, adakah hal itu merupakan kecenderungan mainstream? Mungkin memang ada pers yang tidak obyektif, juga pers yang tampil sebagai yellow papers; tapi hal itu hanya kecenderungan sebagian sangat kecil, bukan kecenderungan mainstream pers kita. Saya juga tak punya data yang cukup komprehensif, tapi saya kira sulit membantah bahwa koran atau majalah-majalah berikut ini telah meninggalkan teori jurnalisme yang baku: Kompas, Suara Pembaruan, Sinar Harapan, Media Indonesia, Republika, Koran TEMPO, Neraca, Bisnis Indonesia, Jawa Pos, Suara Merdeka, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, Serambi Indonesia, Riau Pos, Waspada, Haluan, Lampung Post, Fajar, Bali Pos, Majalah TEMPO, Forum Keadilan, Gatra, Pantau.
Memang ada sebagian kecil pers kita yang kalau ditilik-tilik memang telah dengan sembrono melangar teori jurnalisme yang baku. Lihatlah, misalnya, Rakyat Merdeka, Pos Kota, sebagian penerbitan di bawah payung Jawa Pos Group, juga beberapa penerbitan kecil di beberapa daerah. Jadi, kalau pun ada data bahwa pers, atau sebagian kecil pers kita saat ini, tidak lagi obyektif – ya itu jelas pers yang melakukan kesalahan besar. Bukan lantas justru kita membenarkan data lapangan tersebut. Apalagi data tersebut belum tentu benar, karena bukan merupakan kecenderungan mainstream.
Jurnalisme sastra tidak obyektif? Siapa bilang? Dari mana teori semacam itu? Saat ini jurnalisme sastra merupakan kecenderungan sebagian sangat kecil pers kita, sementara sebagian terbesar dari mereka belum mengerti apa itu jurnalisme sastra. Jurnalisme sastra tetaplah merupakan karya jurnalisme, dan sama sekali bukan karya sastra. Jika yang dimaksud dengan “jurnalisme sastra” adalah “karya sastra”, itu salah besar. Tapi, karya sastra memang tak mungkin obyektif; karya sastra selalu subyektif.
Adapun jurnalisme sastra (sebagai karya jurnalisme) adalah the story about facts, not fiction. Sebaliknya, karya sastra adalah the story about fiction, non facts. Yang ditulis dengan gaya jurnalisme sastra tetaplah fakta, fakta dan fakta, dan sama sekali bukan fiksi. Jurnalisme sastra sama sekali bukan cerita rekaan, tapi cerita sebenarnya mengenai suatu kejadian atau peristiwa yang nyata dan benar-benar terjadi, yang tiada lain adalah fakta.
Jurnalisme sastra pertama-tama adalah jurnalisme, dan sama sekali bukan dibalik menjadi “sastra jurnalisme” – suatu gaya yang jelas musykil. Bahwa pendekatan gaya penulisan jurnalisme sastra adalah sastra, memang sesuai dengan namanya. Tapi gaya penulisan jurnalisme yang “bersastra-sastra” haruslah sama sekali tidak mengorbankan hakikat jurnalisme yang menceritakan fakta. Gaya penulisan sastra hanyalah sekedar gaya, sementara hakikat jurnalisme tetaplah jurnalisme dengan kaidah-kaidah jurnalisme yang faktual.***