<?xml version="1.0" encoding="UTF-8" standalone="yes"?>
<rss version="2.0">
 <channel>
  <title>M          I          M          B          A          R</title>
  <link>http://budimanshartoyo.blog.com/</link>
  <description>belajar menggelar nalar</description>
  <language>id-ID</language>
  <pubDate>Fri, 08 Aug 2008 11:35:37 +0200</pubDate>
  <lastBuildDate>Fri, 08 Aug 2008 11:35:37 +0200</lastBuildDate>
  <generator>Blog.com</generator>
    <item>
   <guid>http://budimanshartoyo.blog.com/3475081/</guid>
   <title>PEDOMAN MENULIS FEATURE (VIII)</title>
   <link>http://budimanshartoyo.blog.com/3475081/</link>
   <description><h1 style="margin: 0in 0in 0pt"><font face="Times New Roman"><u><span style="font-size: 14pt">Catatan</span></u><span style="font-size: 14pt">:<br /></span></font></h1>
<h1 style="margin: 0in 0in 0pt"><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku <i>Andaikan saya Wartawan TEMPO.</i> Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan <i>TEMPO</i> ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari <i>Feature Writing for the Newspapers</i><span>&#160;</span> (1979). Mula-mula berjudul <i>Misalkan Anda Wartawan TEMPO</i>, 17 tahun kemudian diubah menjadi <i>Andaikan Saya Wartawan TEMPO</i> (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian VIII (kedelapan).<i><br /></i></font></span></h1>
<p><b><u><span style="font-size: 14pt"><span style="text-decoration: none"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></span></u></b></p>
<p><b><u><span style="font-size: 14pt"><span style="text-decoration: none"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></span></u></b></p>
<b><u><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Lead Menggoda<br /></font></span></u></b>
<p><i><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></i></p>
<font face="Times New Roman"><i><span style="font-size: 14pt">Lead</span></i> <span style="font-size: 14pt">menggoda ialah cara untuk “mengelabui” pembaca dengan cara bergurau. Tujuan utamanya ialah menggaet perhatian pembaca dan menuntunnya supaya mereka membaca seluruh cerita.<br /></span></font>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<font face="Times New Roman"><i><span style="font-size: 14pt">Lead</span></i> <span style="font-size: 14pt">jenis ini biasanya pendek dan ringan. Umumnya memakai teka-teki, dan biasanya hanya memberikan sedikit, atau sama sekali tidak, tanda-tanda bagaimana cerita selanjutnya. Contoh: Angka yang ditunggu-tunggu itu keluar juga: sekitar 50 (<i>TEMPO</i>, 4 Januari 1992, <i>Angka Misterius Santa Cruz</i>)<br /></span></font>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Dari kalimat itu pembaca belum tahu secara pasti kunci cerita tentang angka 50 itu. Justru karena itu keingin-tahuannya dibangkitkan, dan untuk memenuhi keingin-tahuannya itu, mau tak mau, ia akan membaca kelanjutan kalimat tersebut sampai tahu apa yang dimaksud dengan “angka 50” itu. Setelah pembaca tahu teka-teki “angka 50” itu (yaitu tentang jumlah korban kekerasan militer di kuburan Santa Cruz , Dili, pada 1991), tergantung pada cerita itu sendiri apakah cukup menawarkan daya tarik untuk diikuti terus atau tidak.<br /></font></span>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Cara lain untuk menampilkan <i>lead</i> jenis ini ialah dengan mengiming-imingkan (memamerkan) potongan fakta kepada pembaca supaya terpancing terus membaca. Contoh: Pendatang baru itu tampak misterius dan agak menakutkan. Namanya memang bagus, Chlamydia Pneumoniae, tapi wataknya merepotkan para peneliti (<i>TEMPO</i>, 19 Februari 1994, <i>Chlamydia yang Mempersulit Diagnosa</i>).<br /></font></span>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Pembaca yang tak tahu apa atau siapa nama itu, tentu bisa punya asosiasi macam-macam ketika membaca <i>lead</i><span>&#160;</span> tersebut: apakah itu nama seseorang, atau nama benda? Barulah pada kalimat-kalimat berikutnya diceritakan yang sebenarnya: “Itulah kuman penyebab penyakit radang paru-paru, yang bukan tergolong jenis bakteri, tapi juga bukan virus. Para ahli mengatakan, kuman itu membawa sebagian sifat bakteri, sebagian lagi sifat virus.”<br /></font></span>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Pembaca yang sudah tahu tentang kuman itu pun diharapkan tetap ingin membaca artikel tersebut, karena diiming-iming dengan kata “misterius” dan “menakutkan”. Benarkah si Chlamydia semisterius dan semenakutkan sebagaimana ia ketahui, atau kurang dari itu, atau lebih menakutkan?<br /></font></span>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<p><b><u><span style="font-size: 14pt"><span style="text-decoration: none"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></span></u></b></p>
<b><u><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Lead Nyentrik<br /></font></span></u></b>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Reporter yang imajinatif -- meskipun tidak puitis -- bisa mencoba <i>lead</i> seperti di baah ini pada saat menulis cerita tentang kenaikan harga. <i>Lead</i> ini memikat dan informatif. Gayanya yang khas dan tak kenal kompromi bisa menarik pembaca, hingga ceritanya bisa laku. Contoh:<br /></font></span>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<p><i><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></i></p>
<i><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Hijau sayuran<br /></font></span></i><i><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Putihlah susu<br /></font></span></i><i><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Naik harga makanan<br /></font></span></i><i><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Ke langit biru<br /></font></span></i>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<p><i><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></i></p>
<font face="Times New Roman"><i><span style="font-size: 14pt">Lead</span></i> <span style="font-size: 14pt">tersebut paling ekstrem dalam bertingkah. Tapi kekurang-ajarannya bisa menggaet pembaca bila reporter bisa mengikuti langkah pertamanya itu dengan cerita yang lincah dan hidup. Tapi nada <i>lead</i> ini susah dijaga di sepanjang keseluruhan cerita.<br /></span></font>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Beberapa koran enggan memakai <i>lead</i> seperti itu. Memang ada bahayanya. Karena wartawan hidup dalam dunia kata-kata, <i>lead</i> nyentrik membuka peluang wartawan untuk mengobral permainan kata hingga memualkan. Hanya kebijaksanaan tegas yang bisa mencegah banjirnya permainan kata itu. <i>Lead</i> nyentrik bisa juga hanya melukiskan suara bunyi-bunyian. Misalnya: <i>Tak dududuktak. Duk."</i> (<i>TEMPO</i>, 5 Januari 1985, <i>Mereka Bergerak, Selebihnya Silakan Lihat</i>).<br /></font></span>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<p><b><u><span style="font-size: 14pt"><span style="text-decoration: none"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></span></u></b></p>
<b><u><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Lead Gabungan<br /></font></span></u></b>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Di surat kabar sering ditemukan <i>lead</i> yang merupakan gabungan dari dua atau tiga <i>lead</i>, dengan mengambil unsur terbaik dari masing-masing <i>lead. Lead</i> kutipan, misalnya, sering digabungkan dengan <i>lead</i> deskriptif. Contoh: “Bukan salahku bahwa aku belum mati sekarang,” kata Fidel Castro dengan senyum lucu (<i>TEMPO</i>, 7 Mei 1994, <i>Castro, Revolusioner yang Belum Pensiun</i>).<br /></font></span>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Jika <i>lead</i> menggoda digabung dengan <i>lead</i> kutipan, jadilah sebuah <i>lead</i> yang sangat menarik.<br /></font></span>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></p>
<b><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">(Bersambung)<br /></font></span></b>
<p><b><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></b></p>
<p><b><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></b></p>
<p><b><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">&#160;</font></span></b></p></description>
   <author>BSH</author>
   <pubDate>Sat, 09 Aug 2008 01:22:44 +0200</pubDate>
  </item>
   <item>
   <guid>http://budimanshartoyo.blog.com/3237089/</guid>
   <title>PEDOMAN MENULIS FEATURE (VII)</title>
   <link>http://budimanshartoyo.blog.com/3237089/</link>
   <description><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman"><strong><u><br />
Pengantar<br /></u></strong></font></span>
<h1 style="margin: 0in 0in 0pt"><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Berikut ini saya sampaikan ringkasan buku <i>Andaikan saya Wartawan TEMPO.</i> Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan <i>TEMPO</i> ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari <i>Feature Writing for the Newspapers</i><span>&#160;</span> (1979). Mula-mula berjudul <i>Misalkan Anda Wartawan TEMPO</i>, 17 tahun kemudian diubah menjadi <i>Andaikan Saya Wartawan TEMPO</i> (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 bagian. Berikut Bagian VII.<i><br /></i></font></span></h1>
<font face="Times New Roman"><b><i><u><span style="font-size: 14pt"><br />
Lead</span></u></i></b> <b><u><span style="font-size: 14pt">Pertanyaan<br /></span></u></b></font><font face="Times New Roman"><i><span style="font-size: 14pt">Lead</span></i> <span style="font-size: 14pt">ini efektif bila berhasil menantang pengetahuan atau rasa ingin tahu pembaca. Sering kali, <i>lead</i> ini dipakai oleh wartawan yang tidak berhasil menemukan <i>lead</i> yang imajinatif. <i>Lead</i> ini gampang ditulis, tapi jarang membuahkan hasil terbaik.<br /></span></font>
<p><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman"><br /></font><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Dalam banyak hal, <i>lead</i> ini cuma taktik. Wartawan yang menggunakan <i>lead</i> ini tahu, bahwa ada pembaca yang sudah mengetahui jawabannya, ada pula pembaca yang belum tahu. Yang ingin ditimbulkan oleh <i>lead</i> ini ialah rasa ingin tahu pembaca: yang belum tahu, mestinya terus ingin membaca; sedangkan yang sudah tahu dibuat ragu-ragu apakah pengetahuannya cocok dengan informasi si wartawan.<br /></font></span></span></p>
<span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman"><br />
Banyak editor enggan memakai <i>lead</i> ini, karena pembaca sering dibuat kesal oleh jebakannya. Biasanya <i>lead</i> bercerita atau deskriptif lebih disukai. Meskipun demikian, tidak berarti <i>lead</i> pertanyaan lebih rendah mutunya dari yang lain. Kadang-kadang ada cerita yang bisa diberi <i>lead</i> pertanyaan secara wajar.<br /></font></span><span style="font-size: 14pt"><br /></span><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Seorang wartawan Sekretariat Negara yang menulis <i>feature</i> tentang kenaikan gaji pejabat tinggi bisa menulis begini:<br /></font></span><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">* Berapa gaji Presiden Soeharto sekarang? (<i>TEMPO</i>, 23 Januari 1993, <i>Presiden Naik, DPR Naik</i>).<br /></font></span><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman"><br />
Seperti juga <i>lead-lead</i> yang lain, <i>lead</i> pertanyaan hanya bisa efektif bila materinya memang secara wajar bisa diberi <i>lead</i> pertanyaan.&#160;</font></span><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Contoh lain:<br />
<br /></font></span><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">* Apa yang membuat sekelompok orang <i>ngotot</i>, menolak pindah, meski gubuk tempat mereka tinggal terus dirayapi oleh air yang menggenang? (<i>TEMPO</i>, 27 April 1991, <i>Kedungombo</i>).<br /></font></span><font face="Times New Roman"><b><i><u><span style="font-size: 14pt"><br />
Lead</span></u></i></b> <b><u><span style="font-size: 14pt">Menuding<br /></span></u></b></font><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">Bila reporter berkomunikasi langsung dengan pembaca, ini disebut <i>lead</i> menunjuk langsung. Ciri-ciri <i>lead</i> ini ialah ditemukannya kata <i>Anda</i> yang disisipkan pada paragraf pertama atau di tempat lain.<br /></font></span><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman"><br />
Keuntungannya jelas. Pembaca -- kadang-kadang tidak secara sukarela -- menjadi bagian cerita. Penyusunan kata-katanya melibatkan Anda secara pribadi dalam cerita itu. Misalnya, seorang reporter yang mangkal di kantor imigrasi dan menemukan adanya kesalahan cekal terhadap seseorang yang tidak bersalah, mungkin membuat <i>lead</i> sebagai berikut:.<br /></font></span><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">* Bila Anda punya nama <i>kodian</i>, harap hati-hati. Salah-salah Anda kena cekal, tak boleh ke luar negeri (<i>TEMPO</i>, 30 Januari 1993, <i>Gara-gara Nama Sama</i>).<br /></font></span><font face="Times New Roman"><i><span style="font-size: 14pt"><br />
Lead</span></i> <span style="font-size: 14pt">seperti itu langsung melibatkan pembaca secara pribadi. Rasa ingin tahu mereka disinggung: jangan-jangan namanya, atau nama keluarga dekat, atau teman dekatnya, tergolong nama <i>kodian</i> itu. Menggunakan <i>lead</i> seperti ini memang terasa sebagai taktik untuk memikat.<br /></span></font> <font face="Times New Roman"> <span style="font-size: 14pt"><br />
Ada</span> <span style="font-size: 14pt">contoh lain. <i>Lead</i> ini secara langsung menyeret pembaca ke dalam persoalan dan membawanya untuk membaca tulisan secara keseluruhan.<br /></span></font><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">* Bila harus memilih antara <i>diet</i> kolesterol dan penyakit jantung, tentu Anda memilih yang pertama (<i>TEMPO</i>, 5 Februari 1994, <i>Para Eksekutif, kolesterol dan Jantung</i>).<br /></font></span><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman"><br />
Yang perlu diingat, membuat <i>lead</i> yang menuding langsung seperti contoh tersebut memerlukan imajinasi yang kuat. Sebab, di sini ada bahayanya. Salah-salah, Anda membuat <i>lead</i> yang cenderung kedengaran <i>sok</i> dan amatir. Misalnya:<br /></font></span><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman">* Kalau (Anda) mau hidup enak dan terhormat, jadilah eksekutif di perusahaan konglomerat (<i>TEMPO</i>, 6 Februari 1993, <i>Eksekutif Jutaan Rupiah</i>).<br /></font></span><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman"><br />
Berbeda dengan <i>lead</i> sebelumnya, meski tetap punya daya tarik (hidup enak dan terhormat tentunya<br />
diminati umumnya orang), <i>lead</i> yang ini terasa kurang memikat. Soalnya, tak semua orang punya kesempatan menjadi eksekutif, apalagi di perusahaan konglomerat. Dengan kata lain, <i>lead</i> ini kurang melibatkan banyak pembaca secara pribadi.<br /></font></span> <b><u><span style="font-size: 14pt"><font face="Times New Roman"><br />
(Bersambung)<br /></font></span></u></b></description>
   <author>BSH</author>
   <pubDate>Fri, 20 Jun 2008 23:55:54 +0200</pubDate>
  </item>
   <item>
   <guid>http://budimanshartoyo.blog.com/3130091/</guid>
   <title>PEDOMEN MENULIS FEATURE (VI)</title>
   <link>http://budimanshartoyo.blog.com/3130091/</link>
   <description><h1 style="margin: 0in 0in 0pt"><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><u>Pengantar</u><br />
<br />
Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku <i>Andaikan saya Wartawan TEMPO.</i> Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan <i>TEMPO</i> ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari <i>Feature Writing for the Newspapers</i><span>&#160;</span> (1979). Mula-mula berjudul <i>Misalkan Anda Wartawan TEMPO</i>, 17 tahun kemudian diubah menjadi <i>Andaikan Saya Wartawan TEMPO</i> (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian VI (keenam).<i><br /></i></span></h1>
<b><u><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br />
<br />
Lead Deskriptif<br /></span></u></b><i><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br />
Lead</span></i> <span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">deskriptif bisa menciptakan gambaran dalam pikiran pembaca tentang seorang tokoh atau tempat kejadian. <i>Lead</i> ini cocok untuk berbagai <i>feature</i> dan digemari reporter yang menulis profil pribadi.<br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><i><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">Lead</span></i> <span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">yang bercerita meletakkan pembaca di tengah adegan atau kejadian dalam cerita, sedangkan <i>lead</i> deskriptif menempatkan pembaca beberapa meter di luarnya: dalam posisi menonton, mendengar, dan mencium baunya.<br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">Pemakaian ajektif (kata sifat) yang tepat adalah kunci untuk <i>lead</i> deskriptif. Seorang reporter yang baik bisa membuat tokohnya “hidup”, seolah-olah muncul di tengah-tengah barang cetakan yang dipegang pembaca.<br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">Reporter sering mencoba memusatkan perhatiannya pada satu unsur yang paling mencolok dari sosok dan penampilan tokohnya untuk diilustrasikan.<br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">* Wajah Syaiful Rozi bin Kahar sama sekali tak mengesankan bahwa ia seorang bajak laut. Ia berpembawaan halus, sopan, dan ramah (<i>TEMPO</i>, 28 Agustus 1993, <i>Perompak yang Halus dan Ramah</i>).<br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">Untuk kebanyakan pembaca, <i>lead</i> itu mendebarkan. Pembaca seolah-olah terpaksa menerima kehadiran seseorang yang berperangai halus, padahal ia bajak laut yang ganas.<br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">Tokoh untuk <i>lead</i> tidak harus manusia. Obyek tidak berjiwa pun bisa mempunyai personalitas yang bisa ditangkap secara efektif oleh pembaca dari sebuah <i>lead</i> deskriptif yang baik.<br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">* Laksana tarian peri langit, asap membubung di atas Hotel Bali Beach yang membara terpanggang api (<i>TEMPO</i>, 30 Januari 1993, <i>Akhir Legenda dan Sejumlah Misteri Bali</i>).<br /></span> <span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><i><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span></i><i><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">Lead</span></i> <span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">deskriptif bisa menjadi karikatur yang efektif, seperti sketsa bagi seorang pelukis, yang menekankan pada ciri pokok dan mengabaikan perincian yang tidak menarik.<br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><i><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span></i><i><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">Lead</span></i> <span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">deskriptif juga bisa menampilkan seorang tokoh dalam perwatakan yang menarik, dengan cara menggambarkan latar yang tepat.<br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">* Bola mata Juani berkaca-kaca ketika mengintip kemenakannya, Soleka, yang sedang mandi sore itu. Dari balik pagar sumur yang jarang, ia melihat kain basahan Soleka sering tersibak (<i>TEMPO</i>, 2 Januari 1993, <i>Kasmaran Maut di Sarang Elang</i>).<br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">Menyadari bahwa selalu ada kemungkinan untuk membuat <i>lead</i> deskriptif, tidak mengherankan bila banyak reporter yang terpikat oleh <i>lead</i> jenis ini.<br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><b><u><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">Lead Kutipan<br /></span></u></b><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">Kutipan yang dalam dan ringkas bisa membuat <i>lead</i> menarik, terutama bila yang dikutip orang yang terkenal. Kutipan harus bisa memberikan tinjauan ke dalam watak si pembicara.<br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">Ingat, <i>lead</i> harus menyiapkan pentas bagi bagian berikutnya dari cerita kita, sehingga kutipannya pun harus memusatkan diri pada sifat cerita itu.<br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">Contoh <i>lead</i> kutipan:<br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">* “Tangkap hidup atau mati.” (<i>TEMPO</i>, 29 Januari 1994, <i>Hidup atau Mati: Gendut Dicari</i>).<br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">Kutipan keras itu diucapkan oleh Kapolri Letnan Jenderal Banurusman. Umumnya pembaca akan langsung tergaet, ingin tahu bagaimana nasib orang yang sudah dipastikan harus ditangkap hidup atau mati itu.<br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">Kerugian <i>lead</i> semacam ini ialah, kutipan yang dipilih bisa keluar dari kerangka cerita jika tekanan pokok diletakkan pada kutipan itu saja.<br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">Misalnya Anda mewawancarai seorang tukang ojek tentang rencana pembangunan kawasan kota Jakarta Pusat. Mungkin ia mengeluh, tentang rencana yang bakal menutup rezekinya dengan berkata, “Kawasan Kota mau ditutup sampai Pelabuhan Sunda Kelapa? Wuih...” (<i>TEMPO</i>, 26 Juni 1994, <i>Menyulap Kawasan Kota</i>).<br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">Kutipan itu bisa menarik perhatian, sehingga seorang reporter mungkin memakainya sebagai <i>lead</i>. Tapi, kutipan itu tidak secara tepat menggambarkan perasaan si tukang ojek secara keseluruhan. Bila wartawan tidak bisa memberikan penjelasan kepada pembaca kapan kutipan itu keluar dan dalam kondisi bagaimana, jangan-jangan kutipan itu memang tak ada kaitannya secara langsung dengan cerita.<br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'">(<b>Bersambung</b>)<br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span><span style="font-size: 16pt; font-family: 'Comic Sans MS'"><br /></span></description>
   <author>BSH</author>
   <pubDate>Tue, 20 May 2008 03:00:09 +0200</pubDate>
  </item>
   <item>
   <guid>http://budimanshartoyo.blog.com/3082715/</guid>
   <title>PEDOMAN MENULIS FEATURE (V)</title>
   <link>http://budimanshartoyo.blog.com/3082715/</link>
   <description><h1 style="margin: 0in 0in 0pt"><span><br /></span></h1>
<h1 style="margin: 0in 0in 0pt"><span style="font-size: 18pt"><u>Catatan</u>:<br />
Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku <i>Andaikan saya Wartawan TEMPO.</i> Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan <i>TEMPO</i> ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari <i>Feature Writing for the Newspapers</i><span>&#160;</span> (1979). Mula-mula berjudul <i>Misalkan Anda Wartawan TEMPO</i>, 17 tahun kemudian diubah menjadi <i>Andaikan Saya Wartawan TEMPO</i> (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian V (kelima).<i><br /></i></span></h1>
<p><span style="font-size: 18pt">&#160;</span></p>
<span style="font-size: 18pt">Wartawan jarang menyadari, bagaimana <i>lead</i> terbaik yang hendak dipakainya. Untuk memudahkan memilih <i>lead</i>, perlu diketahui berbagai macam <i>lead</i>, seperti di bawah ini.<br /></span>
<p><span style="font-size: 18pt">&#160;</span></p>
<h3 style="margin: 0in 0in 0pt"><span style="font-size: 18pt"><u>Lead Ringkasan<br /></u></span></h3>
<span style="font-size: 18pt">Lead ini sama dengan yang dipakai dalam penulisan <i>hard news</i>. Yang ditulis hanya inti ceritanya, dan kemudian terserah pembaca apakah masih cukup berminat untuk mengikuti kelanjutannya atau tidak.<br /></span>
<p><span style="font-size: 18pt">&#160;</span></p>
<i><span style="font-size: 18pt">Lead</span></i> <span style="font-size: 18pt">ringkasan ini sering dipakai bila reporter mempunyai persoalan yang kuat dan menarik, yang otomatis akan laku dibaca. Karena <i>lead</i> ini sangat gampang ditulis, banyak reporter yang langsung memilihnya jika ia diuber <i>deadline</i>, atau jika ia bingung mencari <i>lead</i> yang lebih baik.<br /></span>
<p><span style="font-size: 18pt">&#160;</span></p>
<span style="font-size: 18pt">Beberapa contoh <i>lead</i> ringkasan:<br /></span>
<p><span style="font-size: 18pt">&#160;</span></p>
<span style="font-size: 18pt">* Ini satu lagi kasus peninggalan bekas Gubernur DKI Jaya Wiyogo Atmodarminto: Pasar Regional Jatinegara (<i>TEMPO</i>, 30 Januari 1993, <i>Komisi di<span>&#160;</span> Jatinegara</i>).<br /></span>
<p><span style="font-size: 18pt">&#160;</span></p>
<span style="font-size: 18pt">* Ada orang ketiga di rumah tangga, kalau bukan bikin sewot istri, ya, bikin melotot suami (<i>TEMPO</i>, 1 Januari 1994, <i>Two in One Versi Tuban</i>).<br /></span>
<p><span style="font-size: 18pt">&#160;</span></p>
<span style="font-size: 18pt">Dari setiap contoh tersebut, jelas bahwa yang akan diceritakan sudah tertulis dalam <i>lead</i>. Pembaca tahu intisari cerita setelah membaca <i>lead</i>. Kata <i>kasus</i> dalam contoh pertama menunjukkan, bahwa cerita yang akan disampaikan ialah tentang ketidak-beresan di Pasar Regional Jatinegara yang dibangun di zaman Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto. Sedangkan pada <i>lead</i> kedua, sudah bisa dibaca bahwa yang akan diceritakan ialah tentang hadirnya orang ketiga yang menimbulkan keributan di sebuah rumah tangga.<br /></span>
<p><span style="font-size: 18pt">&#160;</span></p>
<span style="font-size: 18pt">Kedua cerita itu umumnya dianggap cukup kuat untuk menarik minat pembaca. Yang pertama, masalah ketidak-beresan sebuah proyek tempat masyarakat bertemu; yang kedua, masalah yang bisa menimpa hampir setiap rumahtangga: kehadiran orang ketiga.<br /></span>
<p><span style="font-size: 18pt">&#160;</span></p>
<b><u><span style="font-size: 18pt">Lead Bercerita<br /></span></u></b><i><span style="font-size: 18pt">Lead</span></i> <span style="font-size: 18pt">ini, yang digemari oleh penulis fiksi (novel atau cerita pendek), cukup menarik pembaca. Tekniknya: menciptakan suasana, dan membiarkan pembaca menjadi tokoh utama, entah dengan cara membuat “kekosongan” yang kemudian secara mental bisa diisi oleh pembaca, atau dengan membiarkan pembaca mengidentifikasikan diri di tengah kejadian yang berlangsung.<br /></span>
<p><span style="font-size: 18pt">&#160;</span></p>
<span style="font-size: 18pt">Hasilnya berupa teknik sebagaimana yang dibuat dalam sebuah film yang baik. Apakah Anda pernah merasa haus ketika menyaksikan seorang pahlawan (dalam film) kehausan di tengah padang pasir? Apakah Anda gemetar di tempat duduk ketika menyaksikan film horor?<br /></span>
<p><span style="font-size: 18pt">&#160;</span></p>
<i><span style="font-size: 18pt">Lead</span></i> <span style="font-size: 18pt">semacam ini sangat efektif untuk cerita petualangan. Misalnya seorang wartawan yang melaporkan suasana di sudut sebuah rumah di Bosnia Herzegovina yang lagi dilanda perang saudara.<br /></span>
<p><span style="font-size: 18pt">&#160;</span></p>
<span style="font-size: 18pt">* Kami makan anggur kematian, dan anggur itu lezat. Berair, biru kehitaman, manis dan asam. Mereka menggantungkan setandan anggur masak di beranda belakang rumah milik muslim yang istrinya belum lama tewas oleh bom seorang Serbia . Ini senja di Bosnia , langit sama biru tuanya dengan anggur-anggur itu (<i>TEMPO</i>, 27 Maret 1993, <i>Potret Berdarah dari Dalam</i>).<br /></span>
<p><span style="font-size: 18pt">&#160;</span></p>
<span style="font-size: 18pt">Wartawan rubrik kriminalitas sering memakai <i>lead</i> bercerita dalam cerita <i>feature</i> untuk melaporkan peristiwa kejahatan.<br /></span>
<p><span style="font-size: 18pt">&#160;</span></p>
<span style="font-size: 18pt">* Hari itu, ada lima mayat yang hangus terpanggang. Sesosok mayat laki-laki dewasa dan tiga anaknya berserakan di sana-sini dengan tubuh rusak bekas dibantai. Pemandangan itu ditemukan penduduk di puing sebuah gubuk yang hangus terbakar (<i>TEMPO</i>, 25 Januari 1992, <i>Tragedi di Kebun Karet</i>).<br /></span>
<p><span style="font-size: 18pt">&#160;</span></p>
<i><span style="font-size: 18pt">Lead</span></i> <span style="font-size: 18pt">untuk sebuah <i>feature</i></span> <span style="font-size: 18pt">yang lain bisa begini:<br /></span>
<p><span style="font-size: 18pt">&#160;</span></p>
<span style="font-size: 18pt">* Toha gelagapan. Ia seperti menghirup ruang hampa. Sebisanya ia mengisap corong udara di hidungnya. Tapi sia-sia. Tabung oksigen di punggungnya ternyata sudah kosong. Ia panik. Permukaan laut masih puluhan depa di atasnya (<i>TEMPO</i>, 16 November 1993, <i>Suka Duka Sang Penyelam</i>).<br /></span>
<p><span style="font-size: 18pt">&#160;</span></p>
<i><span style="font-size: 18pt">Lead</span></i> <span style="font-size: 18pt">tersebut mempunyai keuntungan, karena bisa menggaet pembaca lebih efektif daripada <i>lead</i> lain. Begitu pembaca mengidentifikasikan diri dengan atau menjadi tokoh ceritanya, ia pasti sudah tergaet.<br /></span>
<p><span style="font-size: 18pt">&#160;</span></p>
<span style="font-size: 18pt">Tetapi ada kerugiannya: tak semua cerita bisa cocok diberi <i>lead</i> seperti itu. Reporter yang mencoba memaksakan <i>lead</i> macam ini akan menghasilkan <i>lead</i> yang tidak wajar, atau <i>lead</i> seperti itu justru akan merusak cerita.<br /></span>
<p><span style="font-size: 18pt">&#160;</span></p>
<span style="font-size: 18pt">(<b>Bersambung</b>)<br /></span>
<p>&#160;</p></description>
   <author>BSH</author>
   <pubDate>Tue, 06 May 2008 02:18:31 +0200</pubDate>
  </item>
   <item>
   <guid>http://budimanshartoyo.blog.com/2923484/</guid>
   <title>PEDOMAN MENULIS FEATURE (IV)</title>
   <link>http://budimanshartoyo.blog.com/2923484/</link>
   <description><h1 style="margin: 0in 0in 0pt"><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman">Pengantar:<br />
Berikut ini saya sampaikan ringkasan buku <i>Andaikan Saya Wartawan TEMPO.</i> Buku pedoman para wartawan <i>TEMPO</i> ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari <i>Feature Writing for the Newspapers</i><span>&#160;</span> (1979). Mula-mula berjudul <i>Misalkan Anda Wartawan TEMPO</i>, 17 tahun kemudian diubah menjadi <i>Andaikan Saya Wartawan TEMPO</i> (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13&#160;bagian, berikut ini bagian ke-IV.<i><br /></i></font></span></h1>
<h1 style="margin: 0in 0in 0pt"></h1>
<h1 style="margin: 0in 0in 0pt"></h1>
<h1 style="margin: 0in 0in 0pt"><u><span style="font-weight: normal; font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><br />
MENANGKAP KESALAHAN<br /></font></span></u></h1>
<span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Untuk menangkap kesalahan, baik ejaan, gaya , maupun pemakaian kata, memang hanya ada satu cara. Yakni, membaca dan membaca naskah Anda kembali. Mereka yang dikaruniai kepandaian mungkin hanya sekali baca sudah bisa melihat suatu kesalahan. Tapi, wartawan lain memerlukan waktu berkali-kali untuk membaca dan membuka kamus untuk mengecek pekerjaannya.<br /></font></span><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Berikut ini salah satu cara mencari kesalahan dalam naskah Anda, tanpa banyak merugikan kelancaran menulis.<br /></font></span><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Jangan mengecek ejaan, atau pemakaian kata, ketika menulis cerita. Berkali-kali membuka kamus atau buku pedoman di tengah Anda menulis akan menghambat kelancaran kreativitas, dan itu memakan waktu.<br /></font></span><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Tapi, segera setelah cerita selesai ditulis, perhatikan naskah Anda kata demi kata. Pelototilah setiap kata seolah-olah mereka adalah “musuh” Anda yang akan menyabot cerita Anda. Kalau ada kemungkinan salah, walau sekecil apapun, ceklah kata tersebut sampai Anda yakin bahwa kata itu sudah benar, atau Anda harus menggantinya.<br /></font></span><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Bila waktu memungkinkan, lakukanlah pengecekan ulang sekali lagi. Sering mata Anda terlena pada satu baris atau paragraf, ketika Anda mengecek cerita Anda. Maka pengecekan ulang akan mengurangi kesalahan.<br /></font></span><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Untuk beberapa jenis <i>feature</i>, mungkin Anda perlu bekerja selama beberapa hari, kemudian mengendapkan cerita itu barang sehari atau dua setelah pengecekan secara sistematis. Kemudian, sebelum menyerahkan cerita tersebut, saringlah lagi kesalahan yang mungkin masih ada. Dengan pandangan yang segar, kesalahan sering tampak lebih nyata.<br /></font></span><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Bila Anda menemukan kata yang salah eja atau salah pakai, catatlah di buku catatan khusus. Beberapa reporter menyimpan daftar kata yang membingungkannya, agar ia selalu bisa mengecek mana yang salah dan mana yang benar dengan cepat. Belajar mengeja kata-kata, tentulah akan sangat membantu.<br /></font></span><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Jika Anda didesak oleh <i>deadline</i>, sementara Anda ragu arti sebuah kata yang hendak Anda gunakan, pakai saja sinonim atau padanannya.<br /></font></span><u><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><br />
MENGAIL DENGAN <i>LEAD</i><br /></font></span></u><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Kunci untuk penulisan <i>feature</i> yang baik terletak pada paragraf pertama, yang disebut <i>lead</i>. Mencoba menangkap minat pembaca tanpa <i>lead</i> yang baik, sama dengan mengail ikan tanpa umpan.<br /></font></span><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Setiap wartawan seharusnya selalu sadar akan perlunya <i>lead</i>. Keranjang sampah penuh dengan <i>lead</i> yang tak bermutu, karena wartawan memakai <i>lead</i> yang itu-itu juga dalam usahanya menarik minat pembaca.<br /></font></span><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Lead untuk <i>feature</i> mempunyai dua tujuan utama.<br /></font></span><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman">Pertama, untuk menarik pembaca agar selalu mengikuti cerita; kedua membuat jalan agar supaya alur cerita bisa lancar.<br /></font></span><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Banyak pilihan <i>lead</i>; sebagian untuk menyentak pembaca, sebagian untuk menggelitik rasa ingin tahu pembaca, dan yang lain untuk mengaduk imajinasi pembaca. Masih ada yang lain, seperti <i>lead</i> untuk memberi tahu pembaca tentang cerita yang bersangkutan secara ringkas.<br /></font></span><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><br />
(<b>Bersambung</b>)<br /></font></span></description>
   <author>BSH</author>
   <pubDate>Thu, 27 Mar 2008 22:55:09 +0100</pubDate>
  </item>
   <item>
   <guid>http://budimanshartoyo.blog.com/2805800/</guid>
   <title>PEDOMAN MENULIS FEATURE (III)</title>
   <link>http://budimanshartoyo.blog.com/2805800/</link>
   <description><h1 style="margin: 0in 0in 0pt"></h1>
<p><u><span style="font-size: 20pt"><span style="text-decoration: none"><font face="Times New Roman">Pengantar:&#160;</font></span></span></u></p>
<h1 style="margin: 0in 0in 0pt"><span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman">Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku <i>Andaikan saya Wartawan TEMPO.</i> Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan <i>TEMPO</i> ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari <i>Feature Writing for the Newspapers</i><span>&#160;</span> (1979). Mula-mula berjudul <i>Misalkan Anda Wartawan TEMPO</i>, 17 tahun kemudian diubah menjadi <i>Andaikan Saya Wartawan TEMPO</i> (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian III (ketiga).<i><br /></i></font></span></h1>
<h1 style="margin: 0in 0in 0pt"><u><span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman"><br />
EJAAN KATA<br /></font></span></u></h1>
<p style="margin: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"><span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman">"Kata-kata adalah alat pokok dalam pekerjaan ini. Bila engkau tidak bisa mengeja dengan tepat, atau tidak bisa memakai kata-kata dengan efektif dan akurat, engkau tidak tepat untuk masuk dalam percaturan surat kabar."</font></span></p>
<span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman"><br />
Teguran itu dikatakan oleh seorang editor yang marah, karena menemukan beberapa kata yang salah tulis dalam naskah seorang reporter. Reporter itu memegang teguh teguran tersebut dan, sejak saat itu, ia memakai kamus secara serius.<br /></font></span><span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman"><br />
Ejaan bukan hanya latihan akademis untuk menakut-nakuti mahasiswa. Ejaan adalah sebuah <i>keharusan</i> bagi kelangsungan hidup dunia pers yang penuh persaingan.<br /></font></span><span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman"><br />
Tak banyak reporter yang bisa dengan gampang mengingat ejaan, memang. Tapi, kebanyakan kita tentunya bisa membaca kamus. Dan sekadar membalik-balik kamus tentulah bisa dilakukan, bahkan ketika sedang diuber <i>deadline</i>.<br /></font></span><span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman"><br />
Beribu-ribu kata diproses setiap hari di meja editor. Memang, editor bertanggung jawab untuk menyaring kesalahan dalam naskah. Tapi, secara manusiawi, tidaklah mungkin ia bisa menyaring setiap kata. Karena itu seorang editor, mau tak mau, dituntut untuk selalu awas ketika memeriksa naskah. Ia harus selalu curiga bahwa naskah yang ia baca mengandung salah ejaan.<br /></font></span><span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman"><br />
Bila salah ejaan sudah tercetak, banyak hal bisa terjadi -- dan tidak satu pun yang baik: kepercayaan orang pada media itu rontok. Salah cetak mengurangi citra profesional sebuah media, dan membuat muatannya selalu dicurigai para pembaca yang cerdik pandai. Bila koran ceroboh terhadap kata-kata, bagaimana fakta-fakta di dalamnya bisa dipercaya?<br /></font></span><span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman"><br />
Kepercayaan orang pada reporter bersangkutan juga luluh. Bila seorang reporter terlalu sering melakukan kesalahan ejaan, bisa jadi ia memang tak cakap, tak cocok menjadi reporter. Maka sang&#160;editor bisa memindahkannya ke bagian lain, atau mendepaknya.<br /></font></span><span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman"><br />
Kesalahan pemakaian kata bisa berakibat serupa. Banyak orang salah memilih kata-kata dalam percakapan sehari-hari, karena mereka memungut suatu kata tanpa mengetahui persis apa artinya. Kesalahan dalam percakapan bisa dimaafkan dan dimaklumi, tapi segala maaf habis bila seorang reporter salah menerapkan kata dalam medianya.<br /></font></span><span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman"><br />
Editor yang menginginkan standar profesional yang tinggi mungkin akan terlalu <i>njlimet</i> pada hal-hal sampai sekecil-kecilnya.</font></span> <span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman">Kata-kata yang dipakai secara salah bisa mengubah arti suatu cerita. Dalam sebuah tulisan yang membahas soal utang dan piutang perusahaan, misalnya, penutupnya berbunyi demikian: "Seorang direktur perusahaan tekstil mengatakan, di akhir tahun anggaran nanti perusahaannya akan memiliki piutang yang jauh lebih besar daripada utangnya. Hal itu karena tiadanya kontrol penagihan.''<br /></font></span><span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman"><br />
Andai saja kata <em>piutang</em> dan <em>utang</em> tertukar tempatnya, bisa saja sejumlah pemegang saham perusahaan tekstil itu akan buru-buru menjual sahamnya karena perusahaan itu rugi. Padahal, yang terjadi adalah sebaliknya, meski keuntungan itu masih berupa piutang. Jelas, perbedaan antara kedua kata itu berpengaruh besar pada sikap para pemegang saham.<br /></font></span><span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman"><br />
Akibat kesalahan pemilihan kata, bisa fatal. Nama baik surat kabar merosot. Nama baik reporter juga rusak. Dalam rapat pemegang saham perusahaan tekstil tersebut, baik direksi maupun pemegang saham tak lagi punya respek terhadap si wartawan . Akibatnya, wartawan ini kehilangan sumber informasi.<br /></font></span>
<h1 style="margin: 0in 0in 0pt"><u><span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman"><br />
BUKU PEDOMAN<br /></font></span></u></h1>
<span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman">Untuk mempertahankan citra keprofesionalan, surat kabar memerlukan buku pedoman penulisan. Baik reporter, penulis, dan redaktur seharusnya menaati aturan yang tertulis dalam buku pedoman itu. Buku semacam ini menggolong-golongkan bagaimana kata, gelar, dan tanggal harus dipakai untuk agar seragam.<br /></font></span> <font face="Times New Roman"> <span style="font-size: 20pt"><br />
Ada</span> <span style="font-size: 20pt">beberapa alasan mengapa buku pedoman ini perlu:<br /></span></font><span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman">1. Pemakaian yang seragam kelihatan lebih profesional.<br /></font></span><span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman">2. Bila sebuah kata ditulis dalam berbagai bentuk, meskipun semuanya benar, terbuka peluang bagi pembaca untuk mengambil kesimpulan yang salah: bahwa hanya satu kata yang benar. Misalnya kata <i>persen, prosen</i>, atau <i>%</i>.<br /></font></span><span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman">3. Keseragaman menghemat waktu. Seorang wartawan yang mempelajari buku pedoman tidak perlu ragu-ragu memilih istilah yang harus dipakainya. Bila ia sedang diuber <i>deadline</i>, karena keraguan bisa berakibat mahal.<br /></font></span><span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman"><br />
Manfaat buku pedoman, seperti juga kamus, ialah&#160;untuk mengurangi kesalahan, mengurangi hal-hal yang bisa menurunkan citra keprofesionalan Anda.<br /></font></span>
<p><span style="font-size: 20pt"><font face="Times New Roman"><br />
(<strong>Bersambung</strong>)<br />
&#160;</font></span></p>
<h1 style="margin: 0in 0in 0pt"></h1>
<h1 style="margin: 0in 0in 0pt"></h1></description>
   <author>BSH</author>
   <pubDate>Mon, 03 Mar 2008 20:15:01 +0100</pubDate>
  </item>
   <item>
   <guid>http://budimanshartoyo.blog.com/2767888/</guid>
   <title>PEDOMAN MENULIS FEATURE (II)</title>
   <link>http://budimanshartoyo.blog.com/2767888/</link>
   <description><h1 style="margin: 0in 0in 0pt"><span style="font-size: 18pt"><font size="4" face="comic sans ms,sand"><br />
PENGANTAR<br />
Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku <em>Andaikan saya Wartawan TEMPO</em>. Buku pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari <em>Feature Writing for the Newspapers</em><span>&#160;</span> (1979). Mula-mula berjudul <em>Misalkan Anda Wartawan TEMPO</em>, 17 tahun kemudian diubah menjadi <em>Andaikan Saya Wartawan TEMPO</em> (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian, berikut Bagian II (kedua).</font><br /></span></h1>
<h1 style="margin: 0in 0in 0pt"></h1>
<h1 style="margin: 0in 0in 0pt"><span style="font-size: 18pt"><br />
--------------------------------------------<br />
<br />
<font size="4" face="comic sans ms,sand">AKURAT, BUNG!<br /></font></span></h1>
<span style="font-size: 18pt"><br />
<font size="4" face="comic sans ms,sand">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Penulis feature tentu membutuhkan imajinasi yang baik untuk “menjahit” kata-kata dan rangkaian kata menjadi cerita yang menarik. Tapi, seperti juga bentuk-bentuk jurnalisme yang lain, imajinasi penulis tidak boleh mewarnai fakta dalam ceritanya. Artinya, cerita khayalan tidak boleh ada dalam sebuah feature.<br /></font></span><span style="font-size: 18pt"><br />
<font size="4" face="comic sans ms,sand">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Seorang wartawan profesional tidak akan menipu pembaca, walaupun sedikit, karena ia sadar terhadap etika dan bahaya yang bakal mengancamnya. Etika menyebutkan, bahwa opini dan fiksi tidak boleh ada, kecuali pada bagian tertentu dari sebuah suratkabar. Misalnya, tajuk rencana, sebagai rubrik untuk mengutarakan pendapat redaksi. Selain itu edisi Minggu suratkabar biasanya menampung fiksi, misalnya cerita pendek.<br /></font></span><span style="font-size: 18pt"><br />
<font size="4"><font face="comic sans ms,sand">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Jadi, feature</font></font></span> <span style="font-size: 18pt"><font size="4" face="comic sans ms,sand">tidak boleh berupa fiksi, dan setiap “pewarnaan” terhadap fakta tidak boleh menipu pembaca. Jika penipuan seperti itu terungkap, kepercayaan publik kepada penulis feature akan hancur. Inilah bahaya yang bisa mengancam penulis feature..<br /></font></span><span style="font-size: 18pt"><br />
<font size="4" face="comic sans ms,sand">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Ada</font></span> <span style="font-size: 18pt"><font size="4" face="comic sans ms,sand">beberapa derajat “kefiktifan” yang bisasanya menjadi “bumbu” dalam menulis feature. Yang paling mencolok ialah, jika seorang penulis membuat cerita dengan bahan yang sama sekali bikin-bikinan, alias khayalan. Tapi syukurlah, selama ini hampir tidak ada reporter yang segila itu.<br /></font></span><span style="font-size: 18pt"><br />
<font size="4" face="comic sans ms,sand">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Godaan yang paling sering terjadi ialah, ketika penulis hampir menyelesaikan tulisan yang baik, tapi ada beberapa unsur yang tertinggal. Ia mungkin mencoba untuk memperoleh unsur-unsur itu dengan mengajak narasumber untuk membuat cerita menjadi lebih ramai. Dalam kasus begini, tokoh yang diwawancarai dianggap telah bersekongkol dalam menjual cerita yang cenderung palsu.<br /></font></span><span style="font-size: 18pt"><br />
<font size="4" face="comic sans ms,sand">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Satu hal yang tidak terpuji dalam menulis feature ialah menaruh sebuah kalimat (sebagai kutipan, quotation) ke mulut orang yang diwawancarai. Caranya, wartawan mengawali kutipan yang sudah diarahkan dengan bertanya, “Apakah Anda....?”, dan si wartawan menunggu anggukan narasumber sebagai tanda setuju -- entah anggukan sungguhan atau khayalan.<br /></font></span><span style="font-size: 18pt"><br />
<font size="4" face="comic sans ms,sand">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Wartawan-wartawan yang tidak etis seperti itu memang ada dalam dunia pers. Dan seperti lazimnya pembohong, mereka hidup dalam ketakutan jika suatu saat kelak rahasianya terbongkar. Untuk kepentingannya sendiri, seorang wartawan harus tahu bahwa nama baiknya adalah taruhan bagi sukses profesinya. Wartawan yang ceroboh terhadap fakta akan segera kehabisan sumber berita yang bisa memberi informasi yang baik.<br /></font></span>
<h1 style="margin: 0in 0in 0pt"><span style="font-size: 18pt"><br />
<font size="4" face="comic sans ms,sand">MENGUMPULKAN INFORMASI<br /></font></span></h1>
<span style="font-size: 18pt"><br />
<font size="4" face="comic sans ms,sand">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Ketidak-akuratan atau kesalahan dalam penerbitan, kebanyakan disebabkan oleh kelalaian atau kesembronoan yang tidak disengaja. Seorang reporter mungkin tidak menggunakan waktu secukupnya untuk mengecek informasi sebelum menulis. Kemudian ternyata ia salah menulis nama sumber berita.<br /></font></span><span style="font-size: 18pt"><br />
<font size="4" face="comic sans ms,sand">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Seorang wartawan kawakan akan mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghindari kesalahan fakta seperti itu. Langkah-langkah itu tentu juga bisa Anda lakukan:<br /></font></span><span style="font-size: 18pt"><br />
<font size="4" face="comic sans ms,sand">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; 1. Bila Anda mewawancarai seseorang, tanyakan nama, umur, alamat, dan nomor teleponnya. Setelah mengumpulkan informasi, ejalah namanya dan bacakanlah alamat dan nomor teleponnya, sehingga sumber berita bisa mengoreksinya. Nomor telepon tidak ditulis dalam cerita, tapi reporter harus memilikinya, untuk kapan-kapan, mengontaknya kembali jika ia memerlukan check and cross check.<br /></font></span><span style="font-size: 18pt"><br />
<font size="4" face="comic sans ms,sand">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; 2. Jika nama, umur, dan alamat narasumber tersebut Anda peroleh dari tangan kedua, haraplah dicek lagi di buku telepon. Jika Anda menyebut umurnya, tanyakan kepada sumber berita untuk membetulkan atau mengoreksinya.<br /></font></span><span style="font-size: 18pt"><br />
<font size="4" face="comic sans ms,sand">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; 3. Jangan sekali-kali beranggapan, bahwa Anda mengetahui semuanya. Anda harus selalu mengecek ulang setiap informasi yang penting. Misalnya, seorang reporter balai kota mungkin mengira, bahwa ia tahu gelar atau jabatan resmi seorang pejabat. Tapi, jika tidak yakin, ia harus menghubungi pejabat tersebut atau sekretarisnya untuk mencocokkannya.<br /></font></span><span style="font-size: 18pt"><br />
<font size="4" face="comic sans ms,sand">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; 4. Jika tulisan Anda menyangkut materi yang rumit, pastikanlah terlebih dahulu, bahwa Anda memahaminya dengan baik. Seorang reporter sering menulis tentang suatu istilah teknis, sedangkan ia tidak tahu sama sekali, atau tidak punya latar belakang mengenai istilah teknis tersebut.<br /></font></span><span style="font-size: 18pt"><br />
<font size="4" face="comic sans ms,sand">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Suatu hari, mungkin seorang wartawan polisi membuat feature mengenai perlengkapan radar yang dipasang pada lampu lalu-lintas. Seorang kapten polisi mungkin dengan lancar menerangkan istilah teknis tentang radar, tapi reporter itu harus bisa memberi informasi yang gamblang kepada pembaca. Maka, wartawan yang berpengalaman akan sering menghentikan penjelasan si kapten untuk mencari terjemahan dari istilah-istilah teknis tersebut yang mudah diterima oleh pembaca yang awam. Pada umumnya, wartawan mengambil peran sebagai pembaca awam, dan mengajukan pertanyaan sesuai dengan posisinya itu.<br /></font></span><span style="font-size: 18pt"><br />
<font size="4" face="comic sans ms,sand">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; 5. Jika menggunakan statistik atau data matematis, reporter harus mengecek angka-angkanya, dan kalau perlu menghitung. Banyak wartawan yang berdalih macam-macam bila seorang pembaca yang kritis mengirim surat ke redaksi dan menunjukkan perhitungan yang keliru dalam tulisan wartawan tersebut.<br /></font></span><span style="font-size: 18pt"><br />
<font size="4" face="comic sans ms,sand">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Statistik harus benar-benar dicermati dengan penuh kecurigaan. Anda bisa membuktikan apa saja dengan statistik, tergantung bagaimana cara Anda menyajikannya, dan apa saja yang Anda masukkan atau tinggalkan. Tanyakanlah kepada nara sumber secara cermat untuk meyakinkan kebenaran angka-angka tersebut.<br /></font></span><span style="font-size: 18pt"><br />
<font size="4" face="comic sans ms,sand">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Misalnya, statistik kejahatan yang dikemukakan oleh polisi, harus benar-benar dicek sebelum digunakan sebagai petunjuk mengenai tingkat kejahatan. Sebab, pada kenyataannya, banyak peristiwa kejahatan yang tidak dilaporkan kepada polisi, dan karena itu tidak tercatat dalam statistik.<br /></font></span><span style="font-size: 18pt"><br />
<font size="4" face="comic sans ms,sand">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Seorang reporter tidak boleh membiarkan dirinya menjadi alat untuk “menipu” masyarakat. Kekritisan dan pengecekan yang teliti sering bisa menghindarkan hal itu terjadi.<br /></font></span><span><br />
<font size="4" face="comic sans ms,sand">&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;<br />
<strong>(Bersambung)<br />
<br /></strong><br /></font></span></description>
   <author>BSH</author>
   <pubDate>Sat, 23 Feb 2008 00:30:50 +0100</pubDate>
  </item>
   <item>
   <guid>http://budimanshartoyo.blog.com/2683851/</guid>
   <title>PEDOMAN MENULIS FEATURE (I)</title>
   <link>http://budimanshartoyo.blog.com/2683851/</link>
   <description><h1 style="margin: 0in 0in 0pt"><font face="Times New Roman"><span style="font-size: 16pt">Pengantar.</span> <span style="font-weight: normal; font-size: 16pt">Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku <i>Andaikan saya Wartawan TEMPO.</i> Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan <i>TEMPO</i> ini diterjemahkan oleh (alm) Slamet Djabarudi dari <i>Feature Writing for the Newspapers</i> (1979). Mula-mula berjudul <i>Misalkan Anda Wartawan TEMPO</i>, dan 17 tahun kemudian diubah menjadi <i>Andaikan Saya Wartawan TEMPO</i> (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut ini bagian I (pertama).<i><br /></i></span></font></h1>
<span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman">-------------------------------------------------------------------<br /></font></span><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><span>&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;<br /></span> Dalam menulis berita di suratkabar, yang diutamakan ialah pengaturan fakta-fakta. Tapi, dalam penulisan di majalah berita, bentuk penulisan cenderung bergaya <i>feature,</i> mengisahkan sebuah cerita.<br /></font></span><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><span><br />
&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span> Penulis <i>feature</i> pada hakikatnya seorang yang berkisah. Ia melukis gambar dengan kata-kata, menghidupkan imajinasi pembaca, menarik pembaca agar masuk ke dalam cerita dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama.<br /></font></span><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><span><br />
&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span> Jika seorang wartawan (yang bertugas di) balai kota menggambarkan wali kota dengan sepatunya yang gemerlapan dan kumisnya yang keputih-putihan dalam berita, redaktur kota akan marah, karena tulisan itu bertele-tele. Tapi, sebaliknya, jika sang reporter melupakan gambaran sang wali kota pada saat ia menulis <i>feature</i>, redaktur kota mungkin akan berkata, “Orangnya seperti apa? Saya tidak bisa membayangkannya.”<br /></font></span><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><span><br />
&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span> Penulis <i>feature</i>, untuk sebagian besar, tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar. Sebab ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi, jika ada aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan tersebut.<br /></font></span><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><span><br />
&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span> Doktrin klasik dalam menulis (struktur) berita yang disebut “piramida terbalik” (susunan tulisan yang meletakkan informasi pokok di bagian atas dan informasi yang tidak begitu penting di bagian bawah, hingga mudah dibuang jika tulisan itu perlu diperpendek) sering ditinggalkan. Terutama jika urutan peristiwa sudah dengan sendirinya membentuk cerita yang baik. <i>Feature</i> yang singkat dan lucu, yang biasanya ditemukan di halaman pertama suratkabar, sering ditulis sesuai dengan urutan waktu.<br /></font></span><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><br />
Contoh:<br /></font></span><i><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><span>&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span> Brury, seorang petugas patroli, punya pengalaman paling sial Jumat malam lalu. Pukul 16.30 sore ia lapor ke kantor. Lima menit kemudian, selama berpatroli dengan mengenakan pakaian seragam, lampu senternya jatuh. Ketika membungkuk untuk memungutnya kembali, celananya sobek di bagian pantat.<br /></font></span></i><i><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><span><br />
&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span> Pukul 17.15 sore, ia mencoba menolong seekor anjing yang menggonggong. Sejam kemudian ia dirawat karena kakinya digigit anjing.<br /></font></span></i><i><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><span><br />
&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span> Segera setelah pukul 19.00 malam ia kesenggol mobil yang ngebut. Pengemudinya seorang detektif narkotik yang sedang nguber padagang heroin.<br /></font></span></i><i><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><span><br />
&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span> Pukul 21.50 ia dipanggil ke sebuah bar untuk melerai pertengkaran. Setengah jam kemudian, ia dirawat karena luka-luka di kepalanya akibat pukulan botol wiski. Perawatan dilakukan di pusat kesehatan masyarakat setempat.<br /></font></span></i><i><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><span><br />
&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span> Brury kembali lagi ke rumah sakit pukul 23.40 malam, setelah menguber tersangka perampokan. Kaki kanannya terkena kaca ketika ia jatuh.<br /></font></span></i><i><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><span><br />
&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span> Setelah meninggalkan rumah sakit, ia kembali ke kantor polisi pukul 24.05 dinihari untuk mengakhiri tugasnya. Tapi, waktu itu seorang pengendara motor menabrak dari belakang mobil dinasnya di perempatan lampu lalulintas. Sekali ini, ia tidak terluka.<br /></font></span></i><i><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><span><br />
&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span> Akhirnya pukul 24.30 ia pulang, Ketika sampai di tempat parkir, ia menerima sebuah laporan polisi lagi. Dicuri: sebuah sepeda motor Honda, STNK nomor B 1995 GK. Pemiliknya: Brury, umur 31 tahun, tinggal di Gang Kenari 27.<br /></font></span></i><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><span><br />
&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span> Reporter yang menulis cerita Brury sebagai <i>feature</i>, dan tidak menuliskannya sebagai berita, memperoleh hasil yang baik dari bahan yang tersedia. <i>Feature</i> itu pantas dimuat di halaman pertama, sedangkan sebagai berita sedikit sekali nilainya. Bila dibuat berita, bentuknya seperti ini:<br /></font></span><i><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><span><br />
&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span> Brury, seorang petugas patroli, dirawat karena luka-luka ringan pada tiga insiden terpisah Jumat malam. Polisi itu juga mengalami kecelakaan ringan akibat ditabrak mobil.<br /></font></span></i><i><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><span><br />
&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span> Brury, 31 tahun, digigit anjing pada pukul 17.15 sore, kepalanya terkena botol wiski di bar pada pukul 21.50 malam, dan kakinya luka karena pecahan kaca ketika jatuh dalam suatu pengejaran penjahat pada pukul 23.27. Ia dirawat dan kemudian dibolehkan pulang dari pusat kesehatan masyarakat setempat.<br /></font></span></i><i><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><span><br />
&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span> Suleman, 38 tahun, penghuni Jalan Kebyar nomor 19, ditangkap dan dituduh menyerang polisi dalam sebuah pertengkaran di bar.<br /></font></span></i><i><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><span><br />
&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span> Mobil dinas Brury sedikit rusak ketika ditabrak dari belakang oleh mobil yang dikemudikan oleh Ny. Aminah di persimpangan Jalan Kuningan pada pukul 12.05 hari ini. Tak ada seorang pun yang luka.<br /></font></span></i><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><span><br />
&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;</span> Perhatikan: berita itu lebih banyak menyampaikan informasi mengenai kecelakaan, dan tidak menyebut-nyebut materi yang tidak punya nilai berita, tapi penting, seperti celana yang sobek. Reporter berita bisa dengan mudah mengambil keputusan untuk meninggalkan cerita tentang pencurian sepeda motor. Sebab, hal itu terpisah, tidak langsung berhubungan dengan cerita tentang luka ringan yang dialami seorang polisi.<br />
<br />
&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160;&#160; Cerita mana yang lebih menarik? Cerita mana yang lebih informatif? Cerita mana yang lebih enak ditulis?<br /></font></span><b><span style="font-size: 16pt"><font face="Times New Roman"><br />
(<u>Bersambung</u>)<br />
<br /></font></span></b>
<p style="margin: 0in 0in 0pt" class="MsoNormal"></p></description>
   <author>BSH</author>
   <pubDate>Tue, 12 Feb 2008 00:46:22 +0100</pubDate>
  </item>
   <item>
   <guid>http://budimanshartoyo.blog.com/2541718/</guid>
   <title>DENDAM BENAZIR DAN "DENDAM" TAMARA</title>
   <link>http://budimanshartoyo.blog.com/2541718/</link>
   <description><p><b><u><font size="3">Catatan</font><font size="3">:</font></u></b></p>
<p><font size="3">Kawan-kawan, saya muatkan <i>dua artikel</i> tentang bahasa sebagai <i>selingan</i>, sebelum melanjutkan pelajaran menulis. <i><u>Ini adalah selingan yang kedua</u></i>. Terimakasih <b>(BSH)</b>.</font></p>
<p><b><font size="3">---------------------------------------------------------------------</font></b></p>
<p><i><br />
<br />
<font size="3">Dua tanda kutip pada sebuah kata, rasa bahasa yang sering kurang dipertimbangkan.<br /></font></i></p>
<p><br />
<br />
<font size="3">BIARPUN sama-sama memendam dendam, perasaan Benazir Bhutto dan Tamara Geraldine tidaklah sama (<i>Kompas</i>, 16/9/2007). Benazir memang benar-benar memendam dendam terhadap lawan politiknya. Karena itu kata <i>dendam</i> seharusnya tidak ditulis di antara dua tanda kutip (halaman 5).<br />
<br />
Sebab, jika kata <i>dendam</i> diberi dua tanda kutip, berarti bukan dendam yang sesungguhnya. Sementara <i>dendam</i> Tamara terhadap acara <i>Wisata Kuliner</i> – karena tak bisa mencicipi jenis makanan tertentu gara-gara menderita sakit <i>maag</i> (halaman 32) – hanyalah kiasan. Setelah sembuh, ia melampiaskan "dendam" dengan menemani Bondan Winarno, pengasuh acara tersebut. Maka tepatlah jika <i>dendam</i> ditulis di antara dua tanda kutip.</font></p>
<p><br />
<br />
<font size="3">Selama ini pembubuhan tanda baca berupa dua tanda kutip di depan dan belakang sebuah kata, hampir tak pernah dibicarakan. Padahal, penggunaan tanda baca itu – yang dimaksudkan untuk memberi arti atau tekanan tertentu pada sebuah kata – sering muncul, terutama dalam bahasa pers, bahkan juga dalam bahasa lisan. Ketika seseorang sedang berbicara di televisi dan hendak menyebut sebuah istilah yang mengandung arti tertentu, serta merta ia mengangkat kedua belah tangannya lalu memeragakan cara menulis dua tanda kutip itu dengan kedua jari telunjuk dan jari tengah.</font></p>
<p><br />
<br />
<font size="3">Selain dimaksudkan sebagai kiasan, atau memberi tekanan pada arti lain dari arti yang sebenarnya, tanda baca seperti itu juga digunakan untuk menyebut julukan yang khas, atau istilah tertentu. Tapi, tidak semua penulis, terutama para wartawan, dapat menggunakannya secara tepat. Menulis kalimat dengan suatu "rasa bahasa" sehingga memunculkan asosiasi tertentu, memang tidak mudah.</font></p>
<p><br />
<br />
<font size="3">Dalam kolom <i>Ramadan</i> (<i>Koran Tempo</i>, 16/9/2007, halaman 2), yang mengulas suasana bulan Ramadhan, ada tiga kesalahan dalam menulis kata di antara dua tanda kutip: <i>"sweeping" terhadap minuman keras; kemaksiatan harus "diperangi"; melanggar "peraturan daerah."</i> Jika yang dimaksud dengan ketiga kata tersebut memang benar-benar sebagaimana yang terkandung di dalam artinya, mengapa harus ditulis di antara dua tanda kutip? Jika dibubuhi dua tanda kutip, maka asosiasi yang muncul dari kata atau istilah tersebut justru kebalikan dari arti yang sebenarnya.</font></p>
<p><br />
<br />
<font size="3">Sebaliknya, dalam kolom yang sama terdapat dua kata yang memunculkan asosiasi yang benar ketika penulisnya meletakkan dua tanda kutip pada sebuah kata atau ungkapan: <i>hiburan malam harus "tahu diri"; anak-anak di pengungsian kelaparan menunggu kapan "magrib" tiba.</i> Tepatlah ungkapan <i>tahu diri</i> ditulis di antara dua tanda kutip, sebab si penulis mempersonifikasikan subyek kalimat, yakni <i>hiburan malam</i>.<br />
<br />
<br />
Begitu pula dengan kata <i>magrib</i> yang oleh penulisnya dimaksudkan sebagai kiasan bagi terpenuhinya kesejahteraan bagi para pengungsi.</font></p>
<p><br />
<br />
<font size="3">Gara-gara kurang mempertimbangkan "rasa bahasa" itulah, seorag penulis sering tidak konsisten dalam menggunakan dua tanda kutip itu. Dalam <i>Pertaruhan Terakhir</i> (<i>TEMPO</i>, 26/8/2007, halaman 23) ada dua kalimat yang menunjukkan kurangnya konsistensi tersebut. <i>Setelah kematian Munir, Indra juga pernah bertemu petinggi BIN untuik membicarakan "langkah selanjutnya"</i> (kolom 1). Ungkatan <i>langkah selanjutnya</i> tepat diletakkan di antara dua tanda kutip untuk menunjukkan adanya <i>kongkalingkong</i> antara Indra dan petinggi BIN.</font></p>
<p><br />
<br />
<font size="3">Tapi, dalam kolom 2 terdapat dua kata yang seharusnya tidak perlu dibubuhi dua tanda kutip: <i>Maksudnya, kejaksaan menguraikan aspek "sebab" untuk menjelaskan unsur "akibat", yakni tewasnya Munir.</i> Jika yang dimaksud memang arti sebenarnya dari kata <i>sebab</i> dan <i>akibat</i>, mengapa kedua kata tersebut harus diletakkan di antara dua tanda kutip?</font></p>
<p><br />
<br />
<font size="3">Kekurang cermatan juga terdapat dalam <i>Operasi Permak Wajah</i> (<i>TEMPO</i>, 9/9/2007, halaman 23). Saya kutip sebuah kalimat panjang pada kolom 1-2: <i>Akhirnya, rapat Dewan Gubernur BI memutuskan menggunakan dana milik Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia/Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia – disingkat LPPI – yang merupakan "anak usaha" BI.</i> Jika jelas bahwa LPPI adalah <i>anak usaha</i> BI, seharusnya dua kata itu tidak usah ditulis di antara dua tanda kutip. Kecuali jika pada alinea sebelumnya disebutkan adanya keraguan mengenai status LPPI.</font></p>
<p><br />
<br />
<font size="3">Namun pada kolom 1 terdapat cara penulisan yang benar. Saya kutip: <i>Apalagi setahun kemudian BI hanya berhasil meraih predikat "wajar dengan pengecualian".</i> Tiga kata <i>wajar dengan pengecualian</i> merupakan predikat yang dikenakan oleh Badan Pemeriksa Keuangan terhadap Bank Indonesia. Sebagai predikat, wajar jika tiga kata tersebut ditulis di antara dua tanda kutip.</font></p>
<br />
<br />
<font size="3">Goenawan Mohamad termasuk penulis (sangat) produktif yang suka (dan tepat) menggunakan tanda baca berupa dua tanda kutip – yang seringkali dimaksudkan untuk memberi tekanan pada pengertian yang sama sekali lain. Misalnya, dalam <i>Catatan Pinggir</i> berjudul <i>Ong</i> (<i>TEMPO</i>, 9/9/2007, halaman 130). Mengapa ia menulis Onghokham sebagai "sejarawan" (di antara dua tanda kutip), padahal almarhum memang seorang sejarawan? Sebab, ada penjelasan pada kalimat berikutnya, yakni <i>Ia sendiri punya versi lain tentang dirinya</i>. Dan selanjutnya,</font> <i><font size="3">Seperti Sartono Kartodirdjo, ia mengutamakan latar belakang sosial-ekomomi sebuah peristiwa, yang menyebabkan sejarah baginya bukan kisah orang "atas."</font></i>
<p><i><br />
<br />
<font size="3">Maksudnya, bukan "sejarah" sebagaimana kita kenal di bangku sekolah yang mengisahkan orang "atas" alias para raja, pahlawan, pemimpin, melainkan peristiwa yang kompleks, lengkap dengan latar belakang politik, sosial, budaya dan ekonomi yang saling kait-mengait.***</font></i></p>
<p style="text-align: right"></p>
<font size="3" face="Arial"><br /></font></description>
   <author>BSH</author>
   <pubDate>Fri, 18 Jan 2008 18:04:46 +0100</pubDate>
  </item>
   <item>
   <guid>http://budimanshartoyo.blog.com/2494686/</guid>
   <title>KETIKA JUSUF KALLA "BERBESAR HATI"</title>
   <link>http://budimanshartoyo.blog.com/2494686/</link>
   <description><p><u><font size="4">Catatan</font><font size="4">:</font></u></p>
<p><font size="2">Kawan-kawan, saya muatkan dua artikel tentang bahasa sebagai selingan, sebelum melanjutkan pelajaran menulis. <em><u>Ini adalah selingan yang pertama</u></em>. Terimakasih <strong>(BSH)</strong>.</font></p>
<p><font size="4">----------------------------------------------------------</font></p>
<br />
<p><i><font size="3">Ada wartawan yang tidak kritis: langsung mengutip ucapan pejabat, padahal salah.</font></i></p>
<p><br />
<font size="3"><br />
SAYA tersenyum kecut karena jengkel, sembari geleng-geleng kepala lalu mencampakkan koran, ketika membaca <i>Harian Kompas</i> dan <i>Koran TEMPO</i> edisi 3 November 2007. Di halaman 1 <i>Kompas</i> menulis sebaris judul mencolok: <i>Wapres Minta Nurdin Halid Besar Hati soal Putusan FIFA</i>.</font></p>
<p><br />
<font size="3"><br />
Padahal, di halaman 31, <i>Kompas</i> mengutip ucapan Ketua Komite Olahraga Nasional, Rita Subowo, yang <i>"meminta kebesaran jiwa para pengurus PSSI,"</i> dan ucapan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, Adyaksa Dault, bahwa <i>"Nurdin Halid harus berjiwa besar."</i></font></p>
<br />
<p><br />
<font size="3"><br />
Sementara <i>Koran TEMPO</i> di halaman A3 juga mengutip ucapan Jusuf Kalla, <i>"Saya yakin Nurdin Halid akan berbesar hati untuk mengikuti ketentuan-ketentuan itu."</i> Berbesar hati atau berbesar jiwa?</font></p>
<p><br />
<font size="3"><br />
Ucapan Jusuf Kalla yang salah itu, <i>besar hati</i>, dikutip seperti apa adanya oleh wartawan <i>Kompas</i> (INU/JOY) dan wartawan <i>KoranTEMPO</i> (Rafly Wibowo/Sutarto/Fanny Febiana). Repotnya, redaktur kedua koran itu juga tidak kritis.</font></p>
<p><br />
<font size="3"><br />
Padahal, yang benar ialah <i>besar jiwa</i> (lapang dada, legowo), bukan <i>besar hati</i> (gembira, girang, senang). Sudah sebulan lebih ucapan itu disiarkan, tapi tidak diralat oleh jurubicara kepresidenan, juga tidak oleh redaktur koran yang bersangkutan.</font></p>
<p><br />
<font size="3"><br />
Kesalahan sama dilakukan oleh sutradara dan bintang film Rano Karno ketika mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Selembar poster ditempel pada salah satu mobilnya, <i>Sekali-kali jadi Wakil Gubernur....</i> Yang benar ialah <i>sekali-sekali</i> (sewaktu-waktu), bukan <i>sekali-kali</i> (sama sekali tidak).</font></p>
<p><br />
<font size="3"><br />
Itu adalah salah kaprah dalam berbahasa. Salah kaprah (ungkapan dalam bahasa Jawa) ialah kesalahan yang biasa dilakukan, tapi telanjur dianggap benar. Celakanya, baik orang awam maupun pejabat, bahkan juga pers, sering kejangkitan penyakit salah kaprah dalam berbahasa.</font></p>
<p><br />
<font size="3"><br />
Misalnya, kalimat ini: <i>Redaktur menugaskan reporter meliput pertandingan olahraga</i> (salah kaprah). Yang benar, <i>Redaktur menugasi reporter (untuk) meliput pertandingan olahraga</i>. Atau, <i>redaktur menugaskan peliputan pertandingan olahraga kepada reporter</i> (tapi kurang lazim).</font></p>
<p><br />
<font size="3"><br />
Yang agak rumit ialah <i>memenangkan</i> dan <i>memenangi</i> dalam kalimat berikut: <i>PSSI memenangkan pertandingan sepakbola</i> (salah kaprah). Siapa yang menang? Yang menang ialah "pertandingan sepakbola", bukan PSSI. Tapi, kalimat <i>PSSI memenangi pertandingan sepakbola</i> -- benar, tapi terlalu dipaksakan. Menurut hemat saya, lebih baik <i>PSSI menang (unggul) dalam pertandingan sepakbola</i>.</font></p>
<p><br />
<font size="3"><br />
Kasus yang hampir sama terjadi pada kata <i>membawahi</i> dan <i>membawahkan</i>. Yang benar, <i>Presiden membawahkan para menteri</i>, bukan <i>Presiden membawahi para menteri</i> (salah kaprah). Sebab, <i>Presiden membawahi para menteri</i>, berarti presiden memposisikan diri (berada) di bawah menteri. Bandingkan <i>membawahi</i> dan <i>melayani</i>. Kalimat <i>Presiden melayani para menteri</i>, tidak logis, sebab menteri adalah pembantu atau bawahan presiden. Tapi, <i>Presiden mengatasi persoalan</i> (benar), bukan <i>mengataskan</i> (tidak lazim).</font></p>
<p><br />
<font size="3"><br />
Ada ketentuan tatabahasa yang dalam penggunaannya mengalami salah kaprah. Ketentuan itu: semua kata dasar yang berhuruf awal <i>k, p, t,</i> dan <i>s,</i> jika mendapat awalan <i>me</i> atau <i>pe</i> dan akhiran <i>kan</i> atau <i>an</i>, maka huruf awal itu harus luluh. Tapi, dalam praktik keempat huruf itu tidak luluh.</font></p>
<p><br />
<font size="3"><br />
Pertama, kata <i>kaji;</i> mestinya <i>mengaji</i>, <i>pengajian</i>. Tapi, dalam praktik, <i>mengkaji, pengkajian</i>, kecuali jika pengertiannya <i>mengaji</i> atau <i>pengajian</i> Al-Quran. Padahal, mempelajari teknologi mestinya juga termasuk <i>pengajian</i>, bukan <i>pengkajian</i>. Apa salahnya kita menggunakan <i>mengaji</i> atau <i>pengajian teknologi</i>?</font></p>
<p><br />
<font size="3"><br />
Kedua, kata <i>pesona</i> mestinya <i>memesona</i>, tapi salah kaprah menjadi <i>mempesona</i>. Atau kata <i>perkara</i> seharusnya <i>memerkarakan</i>, tapi salah kaprah menjadi <i>memperkarakan</i>. Kata jadian untuk <i>peduli</i> seharusnya <i>memedulikan</i>, tapi salah kaprah menjadi <i>mempedulikan</i>. Anehnya, kata jadian <i>putus</i> bukan <i>memputuskan</i> melainkan <i>memutuskan.</i> Adapun <i>mempunyai</i>, benar, sebab kata dasarnya bukan <i>punya</i>, tapi <i>empunya.</i></font></p>
<br />
<p><br />
<font size="3"><br />
Ketiga, kata <i>tunduk</i> dan <i>tambah</i>, kata jadiannya <i>menundukkan</i> dan <i>menambahkan</i>, sesuai dengan ketentuan, yakni huruf pertama luluh, tidak mengalami salah kaprah.</font></p>
<p><br />
<font size="3"><br />
Keempat, kata <i>sukses</i> mestinya menjadi <i>menyukseskan</i>, tapi salah kaprah menjadi <i>mensukseskan</i>. Bahkan ada yang membacanya mengacu pada kata <i>success</i> dalam bahasa Inggris: <i>mensakseskan</i>. Sebaliknya, kata <i>sabar</i> yang kata jadiannya <i>menyabarkan</i> (benar). Jika mengacu pada <i>mensukseskan</i>, mengapa kata jadian <i>sabar</i> bukan <i>mensabarkan</i>?</font></p>
<p><br />
<font size="3"><br />
Yang menarik ialah tiga kata dasar yang terdiri dari satu suku kata, seperti <i>sah, cat</i> dan <i>cap</i>. Jika ketiga kata itu mendapat awalan <i>me</i> atau <i>pe</i> dan atau akhiran <i>an</i> atau <i>kan</i>, maka kata jadiannya menjadi <i>mengesahkan, mengecat, mengecap</i>, karena mendapat sisipan huruf sengau <i>ng</i>. Selama ini masyarakat kita sudah menggunakan kata jadian tersebut.</font></p>
<p><br />
<font size="3"><br />
Baik. Tapi, jika kita analisa, kata dasar ketiga kata itu hilang atau berubah, bahkan aneh. Lihatlah: <i>pengesahan</i> (pe-ng-esah-an), kata dasar yang seharusnya <i>sah</i> berubah menjadi <i>esah,</i> atau <i>kesah</i>. Begitu pula <i>pengecapan</i> (pe-ng-ecap-an), kata dasar yang seharusnya <i>cap</i> menjadi <i>ecap</i>, atau <i>kecap</i>. Dan <i>pengecatan</i> (pe-ng-ecat-an), kata dasar yang mestinya <i>cat</i> menjadi <i>ecat</i>, atau <i>kecat</i>.</font></p>
<p><br />
<font size="3"><br />
Aneh bin ajaib.</font></p>
<font face="Arial"><br />
<br /></font></description>
   <author>BSH</author>
   <pubDate>Sat, 05 Jan 2008 19:23:34 +0100</pubDate>
  </item>
  </channel>
</rss>