Jumat, Juni 20, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (VII)


Pengantar

Berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 bagian. Berikut Bagian VII.


Lead
Pertanyaan
Lead ini efektif bila berhasil menantang pengetahuan atau rasa ingin tahu pembaca. Sering kali, lead ini dipakai oleh wartawan yang tidak berhasil menemukan lead yang imajinatif. Lead ini gampang ditulis, tapi jarang membuahkan hasil terbaik.


Dalam banyak hal, lead ini cuma taktik. Wartawan yang menggunakan lead ini tahu, bahwa ada pembaca yang sudah mengetahui jawabannya, ada pula pembaca yang belum tahu. Yang ingin ditimbulkan oleh lead ini ialah rasa ingin tahu pembaca: yang belum tahu, mestinya terus ingin membaca; sedangkan yang sudah tahu dibuat ragu-ragu apakah pengetahuannya cocok dengan informasi si wartawan.


Banyak editor enggan memakai lead ini, karena pembaca sering dibuat kesal oleh jebakannya. Biasanya lead bercerita atau deskriptif lebih disukai. Meskipun demikian, tidak berarti lead pertanyaan lebih rendah mutunya dari yang lain. Kadang-kadang ada cerita yang bisa diberi lead pertanyaan secara wajar.

Seorang wartawan Sekretariat Negara yang menulis feature tentang kenaikan gaji pejabat tinggi bisa menulis begini:
* Berapa gaji Presiden Soeharto sekarang? (TEMPO, 23 Januari 1993, Presiden Naik, DPR Naik).

Seperti juga lead-lead yang lain, lead pertanyaan hanya bisa efektif bila materinya memang secara wajar bisa diberi lead pertanyaan. 
Contoh lain:

* Apa yang membuat sekelompok orang ngotot, menolak pindah, meski gubuk tempat mereka tinggal terus dirayapi oleh air yang menggenang? (TEMPO, 27 April 1991, Kedungombo).

Lead
Menuding
Bila reporter berkomunikasi langsung dengan pembaca, ini disebut lead menunjuk langsung. Ciri-ciri lead ini ialah ditemukannya kata Anda yang disisipkan pada paragraf pertama atau di tempat lain.

Keuntungannya jelas. Pembaca -- kadang-kadang tidak secara sukarela -- menjadi bagian cerita. Penyusunan kata-katanya melibatkan Anda secara pribadi dalam cerita itu. Misalnya, seorang reporter yang mangkal di kantor imigrasi dan menemukan adanya kesalahan cekal terhadap seseorang yang tidak bersalah, mungkin membuat lead sebagai berikut:.
* Bila Anda punya nama kodian, harap hati-hati. Salah-salah Anda kena cekal, tak boleh ke luar negeri (TEMPO, 30 Januari 1993, Gara-gara Nama Sama).

Lead
seperti itu langsung melibatkan pembaca secara pribadi. Rasa ingin tahu mereka disinggung: jangan-jangan namanya, atau nama keluarga dekat, atau teman dekatnya, tergolong nama kodian itu. Menggunakan lead seperti ini memang terasa sebagai taktik untuk memikat.

Ada
contoh lain. Lead ini secara langsung menyeret pembaca ke dalam persoalan dan membawanya untuk membaca tulisan secara keseluruhan.
* Bila harus memilih antara diet kolesterol dan penyakit jantung, tentu Anda memilih yang pertama (TEMPO, 5 Februari 1994, Para Eksekutif, kolesterol dan Jantung).

Yang perlu diingat, membuat lead yang menuding langsung seperti contoh tersebut memerlukan imajinasi yang kuat. Sebab, di sini ada bahayanya. Salah-salah, Anda membuat lead yang cenderung kedengaran sok dan amatir. Misalnya:
* Kalau (Anda) mau hidup enak dan terhormat, jadilah eksekutif di perusahaan konglomerat (TEMPO, 6 Februari 1993, Eksekutif Jutaan Rupiah).

Berbeda dengan lead sebelumnya, meski tetap punya daya tarik (hidup enak dan terhormat tentunya
diminati umumnya orang), lead yang ini terasa kurang memikat. Soalnya, tak semua orang punya kesempatan menjadi eksekutif, apalagi di perusahaan konglomerat. Dengan kata lain, lead ini kurang melibatkan banyak pembaca secara pribadi.

(Bersambung)
Posted by BSH at 22:55:54 | Permanent Link | Comments (0) |

Selasa, May 20, 2008

PEDOMEN MENULIS FEATURE (VI)

Pengantar

Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian VI (keenam).



Lead Deskriptif

Lead
deskriptif bisa menciptakan gambaran dalam pikiran pembaca tentang seorang tokoh atau tempat kejadian. Lead ini cocok untuk berbagai feature dan digemari reporter yang menulis profil pribadi.


Lead yang bercerita meletakkan pembaca di tengah adegan atau kejadian dalam cerita, sedangkan lead deskriptif menempatkan pembaca beberapa meter di luarnya: dalam posisi menonton, mendengar, dan mencium baunya.


Pemakaian ajektif (kata sifat) yang tepat adalah kunci untuk lead deskriptif. Seorang reporter yang baik bisa membuat tokohnya “hidup”, seolah-olah muncul di tengah-tengah barang cetakan yang dipegang pembaca.


Reporter sering mencoba memusatkan perhatiannya pada satu unsur yang paling mencolok dari sosok dan penampilan tokohnya untuk diilustrasikan.


* Wajah Syaiful Rozi bin Kahar sama sekali tak mengesankan bahwa ia seorang bajak laut. Ia berpembawaan halus, sopan, dan ramah (TEMPO, 28 Agustus 1993, Perompak yang Halus dan Ramah).


Untuk kebanyakan pembaca, lead itu mendebarkan. Pembaca seolah-olah terpaksa menerima kehadiran seseorang yang berperangai halus, padahal ia bajak laut yang ganas.


Tokoh untuk lead tidak harus manusia. Obyek tidak berjiwa pun bisa mempunyai personalitas yang bisa ditangkap secara efektif oleh pembaca dari sebuah lead deskriptif yang baik.


* Laksana tarian peri langit, asap membubung di atas Hotel Bali Beach yang membara terpanggang api (TEMPO, 30 Januari 1993, Akhir Legenda dan Sejumlah Misteri Bali).


Lead deskriptif bisa menjadi karikatur yang efektif, seperti sketsa bagi seorang pelukis, yang menekankan pada ciri pokok dan mengabaikan perincian yang tidak menarik.


Lead deskriptif juga bisa menampilkan seorang tokoh dalam perwatakan yang menarik, dengan cara menggambarkan latar yang tepat.


* Bola mata Juani berkaca-kaca ketika mengintip kemenakannya, Soleka, yang sedang mandi sore itu. Dari balik pagar sumur yang jarang, ia melihat kain basahan Soleka sering tersibak (TEMPO, 2 Januari 1993, Kasmaran Maut di Sarang Elang).


Menyadari bahwa selalu ada kemungkinan untuk membuat lead deskriptif, tidak mengherankan bila banyak reporter yang terpikat oleh lead jenis ini.

Lead Kutipan

Kutipan yang dalam dan ringkas bisa membuat lead menarik, terutama bila yang dikutip orang yang terkenal. Kutipan harus bisa memberikan tinjauan ke dalam watak si pembicara.


Ingat, lead harus menyiapkan pentas bagi bagian berikutnya dari cerita kita, sehingga kutipannya pun harus memusatkan diri pada sifat cerita itu.


Contoh lead kutipan:

* “Tangkap hidup atau mati.” (TEMPO, 29 Januari 1994, Hidup atau Mati: Gendut Dicari).


Kutipan keras itu diucapkan oleh Kapolri Letnan Jenderal Banurusman. Umumnya pembaca akan langsung tergaet, ingin tahu bagaimana nasib orang yang sudah dipastikan harus ditangkap hidup atau mati itu.


Kerugian lead semacam ini ialah, kutipan yang dipilih bisa keluar dari kerangka cerita jika tekanan pokok diletakkan pada kutipan itu saja.


Misalnya Anda mewawancarai seorang tukang ojek tentang rencana pembangunan kawasan kota Jakarta Pusat. Mungkin ia mengeluh, tentang rencana yang bakal menutup rezekinya dengan berkata, “Kawasan Kota mau ditutup sampai Pelabuhan Sunda Kelapa? Wuih...” (TEMPO, 26 Juni 1994, Menyulap Kawasan Kota).


Kutipan itu bisa menarik perhatian, sehingga seorang reporter mungkin memakainya sebagai lead. Tapi, kutipan itu tidak secara tepat menggambarkan perasaan si tukang ojek secara keseluruhan. Bila wartawan tidak bisa memberikan penjelasan kepada pembaca kapan kutipan itu keluar dan dalam kondisi bagaimana, jangan-jangan kutipan itu memang tak ada kaitannya secara langsung dengan cerita.


(Bersambung)


Posted by BSH at 02:00:09 | Permanent Link | Comments (0) |

Selasa, May 06, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (V)


Catatan:
Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian V (kelima).

 

Wartawan jarang menyadari, bagaimana lead terbaik yang hendak dipakainya. Untuk memudahkan memilih lead, perlu diketahui berbagai macam lead, seperti di bawah ini.

 

Lead Ringkasan

Lead ini sama dengan yang dipakai dalam penulisan hard news. Yang ditulis hanya inti ceritanya, dan kemudian terserah pembaca apakah masih cukup berminat untuk mengikuti kelanjutannya atau tidak.

 

Lead ringkasan ini sering dipakai bila reporter mempunyai persoalan yang kuat dan menarik, yang otomatis akan laku dibaca. Karena lead ini sangat gampang ditulis, banyak reporter yang langsung memilihnya jika ia diuber deadline, atau jika ia bingung mencari lead yang lebih baik.

 

Beberapa contoh lead ringkasan:

 

* Ini satu lagi kasus peninggalan bekas Gubernur DKI Jaya Wiyogo Atmodarminto: Pasar Regional Jatinegara (TEMPO, 30 Januari 1993, Komisi di  Jatinegara).

 

* Ada orang ketiga di rumah tangga, kalau bukan bikin sewot istri, ya, bikin melotot suami (TEMPO, 1 Januari 1994, Two in One Versi Tuban).

 

Dari setiap contoh tersebut, jelas bahwa yang akan diceritakan sudah tertulis dalam lead. Pembaca tahu intisari cerita setelah membaca lead. Kata kasus dalam contoh pertama menunjukkan, bahwa cerita yang akan disampaikan ialah tentang ketidak-beresan di Pasar Regional Jatinegara yang dibangun di zaman Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto. Sedangkan pada lead kedua, sudah bisa dibaca bahwa yang akan diceritakan ialah tentang hadirnya orang ketiga yang menimbulkan keributan di sebuah rumah tangga.

 

Kedua cerita itu umumnya dianggap cukup kuat untuk menarik minat pembaca. Yang pertama, masalah ketidak-beresan sebuah proyek tempat masyarakat bertemu; yang kedua, masalah yang bisa menimpa hampir setiap rumahtangga: kehadiran orang ketiga.

 

Lead Bercerita
Lead ini, yang digemari oleh penulis fiksi (novel atau cerita pendek), cukup menarik pembaca. Tekniknya: menciptakan suasana, dan membiarkan pembaca menjadi tokoh utama, entah dengan cara membuat “kekosongan” yang kemudian secara mental bisa diisi oleh pembaca, atau dengan membiarkan pembaca mengidentifikasikan diri di tengah kejadian yang berlangsung.

 

Hasilnya berupa teknik sebagaimana yang dibuat dalam sebuah film yang baik. Apakah Anda pernah merasa haus ketika menyaksikan seorang pahlawan (dalam film) kehausan di tengah padang pasir? Apakah Anda gemetar di tempat duduk ketika menyaksikan film horor?

 

Lead semacam ini sangat efektif untuk cerita petualangan. Misalnya seorang wartawan yang melaporkan suasana di sudut sebuah rumah di Bosnia Herzegovina yang lagi dilanda perang saudara.

 

* Kami makan anggur kematian, dan anggur itu lezat. Berair, biru kehitaman, manis dan asam. Mereka menggantungkan setandan anggur masak di beranda belakang rumah milik muslim yang istrinya belum lama tewas oleh bom seorang Serbia . Ini senja di Bosnia , langit sama biru tuanya dengan anggur-anggur itu (TEMPO, 27 Maret 1993, Potret Berdarah dari Dalam).

 

Wartawan rubrik kriminalitas sering memakai lead bercerita dalam cerita feature untuk melaporkan peristiwa kejahatan.

 

* Hari itu, ada lima mayat yang hangus terpanggang. Sesosok mayat laki-laki dewasa dan tiga anaknya berserakan di sana-sini dengan tubuh rusak bekas dibantai. Pemandangan itu ditemukan penduduk di puing sebuah gubuk yang hangus terbakar (TEMPO, 25 Januari 1992, Tragedi di Kebun Karet).

 

Lead untuk sebuah feature yang lain bisa begini:

 

* Toha gelagapan. Ia seperti menghirup ruang hampa. Sebisanya ia mengisap corong udara di hidungnya. Tapi sia-sia. Tabung oksigen di punggungnya ternyata sudah kosong. Ia panik. Permukaan laut masih puluhan depa di atasnya (TEMPO, 16 November 1993, Suka Duka Sang Penyelam).

 

Lead tersebut mempunyai keuntungan, karena bisa menggaet pembaca lebih efektif daripada lead lain. Begitu pembaca mengidentifikasikan diri dengan atau menjadi tokoh ceritanya, ia pasti sudah tergaet.

 

Tetapi ada kerugiannya: tak semua cerita bisa cocok diberi lead seperti itu. Reporter yang mencoba memaksakan lead macam ini akan menghasilkan lead yang tidak wajar, atau lead seperti itu justru akan merusak cerita.

 

(Bersambung)

 

Posted by BSH at 01:18:31 | Permanent Link | Comments (0) |

Kamis, Maret 27, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (IV)

Pengantar:
Berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan Saya Wartawan TEMPO. Buku pedoman para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 bagian, berikut ini bagian ke-IV.


MENANGKAP KESALAHAN

          Untuk menangkap kesalahan, baik ejaan, gaya , maupun pemakaian kata, memang hanya ada satu cara. Yakni, membaca dan membaca naskah Anda kembali. Mereka yang dikaruniai kepandaian mungkin hanya sekali baca sudah bisa melihat suatu kesalahan. Tapi, wartawan lain memerlukan waktu berkali-kali untuk membaca dan membuka kamus untuk mengecek pekerjaannya.
          Berikut ini salah satu cara mencari kesalahan dalam naskah Anda, tanpa banyak merugikan kelancaran menulis.
          Jangan mengecek ejaan, atau pemakaian kata, ketika menulis cerita. Berkali-kali membuka kamus atau buku pedoman di tengah Anda menulis akan menghambat kelancaran kreativitas, dan itu memakan waktu.
          Tapi, segera setelah cerita selesai ditulis, perhatikan naskah Anda kata demi kata. Pelototilah setiap kata seolah-olah mereka adalah “musuh” Anda yang akan menyabot cerita Anda. Kalau ada kemungkinan salah, walau sekecil apapun, ceklah kata tersebut sampai Anda yakin bahwa kata itu sudah benar, atau Anda harus menggantinya.
          Bila waktu memungkinkan, lakukanlah pengecekan ulang sekali lagi. Sering mata Anda terlena pada satu baris atau paragraf, ketika Anda mengecek cerita Anda. Maka pengecekan ulang akan mengurangi kesalahan.
          Untuk beberapa jenis feature, mungkin Anda perlu bekerja selama beberapa hari, kemudian mengendapkan cerita itu barang sehari atau dua setelah pengecekan secara sistematis. Kemudian, sebelum menyerahkan cerita tersebut, saringlah lagi kesalahan yang mungkin masih ada. Dengan pandangan yang segar, kesalahan sering tampak lebih nyata.
          Bila Anda menemukan kata yang salah eja atau salah pakai, catatlah di buku catatan khusus. Beberapa reporter menyimpan daftar kata yang membingungkannya, agar ia selalu bisa mengecek mana yang salah dan mana yang benar dengan cepat. Belajar mengeja kata-kata, tentulah akan sangat membantu.
          Jika Anda didesak oleh deadline, sementara Anda ragu arti sebuah kata yang hendak Anda gunakan, pakai saja sinonim atau padanannya.

MENGAIL DENGAN LEAD
          Kunci untuk penulisan feature yang baik terletak pada paragraf pertama, yang disebut lead. Mencoba menangkap minat pembaca tanpa lead yang baik, sama dengan mengail ikan tanpa umpan.
          Setiap wartawan seharusnya selalu sadar akan perlunya lead. Keranjang sampah penuh dengan lead yang tak bermutu, karena wartawan memakai lead yang itu-itu juga dalam usahanya menarik minat pembaca.
          Lead untuk feature mempunyai dua tujuan utama.
Pertama, untuk menarik pembaca agar selalu mengikuti cerita; kedua membuat jalan agar supaya alur cerita bisa lancar.
           Banyak pilihan lead; sebagian untuk menyentak pembaca, sebagian untuk menggelitik rasa ingin tahu pembaca, dan yang lain untuk mengaduk imajinasi pembaca. Masih ada yang lain, seperti lead untuk memberi tahu pembaca tentang cerita yang bersangkutan secara ringkas.

(Bersambung)
Posted by BSH at 22:55:09 | Permanent Link | Comments (0) |

Senin, Maret 03, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (III)

Pengantar: 

Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian III (ketiga).


EJAAN KATA

"Kata-kata adalah alat pokok dalam pekerjaan ini. Bila engkau tidak bisa mengeja dengan tepat, atau tidak bisa memakai kata-kata dengan efektif dan akurat, engkau tidak tepat untuk masuk dalam percaturan surat kabar."


Teguran itu dikatakan oleh seorang editor yang marah, karena menemukan beberapa kata yang salah tulis dalam naskah seorang reporter. Reporter itu memegang teguh teguran tersebut dan, sejak saat itu, ia memakai kamus secara serius.

Ejaan bukan hanya latihan akademis untuk menakut-nakuti mahasiswa. Ejaan adalah sebuah keharusan bagi kelangsungan hidup dunia pers yang penuh persaingan.

Tak banyak reporter yang bisa dengan gampang mengingat ejaan, memang. Tapi, kebanyakan kita tentunya bisa membaca kamus. Dan sekadar membalik-balik kamus tentulah bisa dilakukan, bahkan ketika sedang diuber deadline.

Beribu-ribu kata diproses setiap hari di meja editor. Memang, editor bertanggung jawab untuk menyaring kesalahan dalam naskah. Tapi, secara manusiawi, tidaklah mungkin ia bisa menyaring setiap kata. Karena itu seorang editor, mau tak mau, dituntut untuk selalu awas ketika memeriksa naskah. Ia harus selalu curiga bahwa naskah yang ia baca mengandung salah ejaan.

Bila salah ejaan sudah tercetak, banyak hal bisa terjadi -- dan tidak satu pun yang baik: kepercayaan orang pada media itu rontok. Salah cetak mengurangi citra profesional sebuah media, dan membuat muatannya selalu dicurigai para pembaca yang cerdik pandai. Bila koran ceroboh terhadap kata-kata, bagaimana fakta-fakta di dalamnya bisa dipercaya?

Kepercayaan orang pada reporter bersangkutan juga luluh. Bila seorang reporter terlalu sering melakukan kesalahan ejaan, bisa jadi ia memang tak cakap, tak cocok menjadi reporter. Maka sang editor bisa memindahkannya ke bagian lain, atau mendepaknya.

Kesalahan pemakaian kata bisa berakibat serupa. Banyak orang salah memilih kata-kata dalam percakapan sehari-hari, karena mereka memungut suatu kata tanpa mengetahui persis apa artinya. Kesalahan dalam percakapan bisa dimaafkan dan dimaklumi, tapi segala maaf habis bila seorang reporter salah menerapkan kata dalam medianya.

Editor yang menginginkan standar profesional yang tinggi mungkin akan terlalu njlimet pada hal-hal sampai sekecil-kecilnya.
Kata-kata yang dipakai secara salah bisa mengubah arti suatu cerita. Dalam sebuah tulisan yang membahas soal utang dan piutang perusahaan, misalnya, penutupnya berbunyi demikian: "Seorang direktur perusahaan tekstil mengatakan, di akhir tahun anggaran nanti perusahaannya akan memiliki piutang yang jauh lebih besar daripada utangnya. Hal itu karena tiadanya kontrol penagihan.''

Andai saja kata piutang dan utang tertukar tempatnya, bisa saja sejumlah pemegang saham perusahaan tekstil itu akan buru-buru menjual sahamnya karena perusahaan itu rugi. Padahal, yang terjadi adalah sebaliknya, meski keuntungan itu masih berupa piutang. Jelas, perbedaan antara kedua kata itu berpengaruh besar pada sikap para pemegang saham.

Akibat kesalahan pemilihan kata, bisa fatal. Nama baik surat kabar merosot. Nama baik reporter juga rusak. Dalam rapat pemegang saham perusahaan tekstil tersebut, baik direksi maupun pemegang saham tak lagi punya respek terhadap si wartawan . Akibatnya, wartawan ini kehilangan sumber informasi.


BUKU PEDOMAN

Untuk mempertahankan citra keprofesionalan, surat kabar memerlukan buku pedoman penulisan. Baik reporter, penulis, dan redaktur seharusnya menaati aturan yang tertulis dalam buku pedoman itu. Buku semacam ini menggolong-golongkan bagaimana kata, gelar, dan tanggal harus dipakai untuk agar seragam.

Ada
beberapa alasan mengapa buku pedoman ini perlu:
1. Pemakaian yang seragam kelihatan lebih profesional.
2. Bila sebuah kata ditulis dalam berbagai bentuk, meskipun semuanya benar, terbuka peluang bagi pembaca untuk mengambil kesimpulan yang salah: bahwa hanya satu kata yang benar. Misalnya kata persen, prosen, atau %.
3. Keseragaman menghemat waktu. Seorang wartawan yang mempelajari buku pedoman tidak perlu ragu-ragu memilih istilah yang harus dipakainya. Bila ia sedang diuber deadline, karena keraguan bisa berakibat mahal.

Manfaat buku pedoman, seperti juga kamus, ialah untuk mengurangi kesalahan, mengurangi hal-hal yang bisa menurunkan citra keprofesionalan Anda.


(Bersambung)
 

Posted by BSH at 20:15:01 | Permanent Link | Comments (0) |

Sabtu, Februari 23, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (II)


PENGANTAR
Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian, berikut Bagian II (kedua).


--------------------------------------------

AKURAT, BUNG!


          Penulis feature tentu membutuhkan imajinasi yang baik untuk “menjahit” kata-kata dan rangkaian kata menjadi cerita yang menarik. Tapi, seperti juga bentuk-bentuk jurnalisme yang lain, imajinasi penulis tidak boleh mewarnai fakta dalam ceritanya. Artinya, cerita khayalan tidak boleh ada dalam sebuah feature.

          Seorang wartawan profesional tidak akan menipu pembaca, walaupun sedikit, karena ia sadar terhadap etika dan bahaya yang bakal mengancamnya. Etika menyebutkan, bahwa opini dan fiksi tidak boleh ada, kecuali pada bagian tertentu dari sebuah suratkabar. Misalnya, tajuk rencana, sebagai rubrik untuk mengutarakan pendapat redaksi. Selain itu edisi Minggu suratkabar biasanya menampung fiksi, misalnya cerita pendek.

          Jadi, feature
tidak boleh berupa fiksi, dan setiap “pewarnaan” terhadap fakta tidak boleh menipu pembaca. Jika penipuan seperti itu terungkap, kepercayaan publik kepada penulis feature akan hancur. Inilah bahaya yang bisa mengancam penulis feature..

          Ada
beberapa derajat “kefiktifan” yang bisasanya menjadi “bumbu” dalam menulis feature. Yang paling mencolok ialah, jika seorang penulis membuat cerita dengan bahan yang sama sekali bikin-bikinan, alias khayalan. Tapi syukurlah, selama ini hampir tidak ada reporter yang segila itu.

          Godaan yang paling sering terjadi ialah, ketika penulis hampir menyelesaikan tulisan yang baik, tapi ada beberapa unsur yang tertinggal. Ia mungkin mencoba untuk memperoleh unsur-unsur itu dengan mengajak narasumber untuk membuat cerita menjadi lebih ramai. Dalam kasus begini, tokoh yang diwawancarai dianggap telah bersekongkol dalam menjual cerita yang cenderung palsu.

           Satu hal yang tidak terpuji dalam menulis feature ialah menaruh sebuah kalimat (sebagai kutipan, quotation) ke mulut orang yang diwawancarai. Caranya, wartawan mengawali kutipan yang sudah diarahkan dengan bertanya, “Apakah Anda....?”, dan si wartawan menunggu anggukan narasumber sebagai tanda setuju -- entah anggukan sungguhan atau khayalan.

          Wartawan-wartawan yang tidak etis seperti itu memang ada dalam dunia pers. Dan seperti lazimnya pembohong, mereka hidup dalam ketakutan jika suatu saat kelak rahasianya terbongkar. Untuk kepentingannya sendiri, seorang wartawan harus tahu bahwa nama baiknya adalah taruhan bagi sukses profesinya. Wartawan yang ceroboh terhadap fakta akan segera kehabisan sumber berita yang bisa memberi informasi yang baik.


MENGUMPULKAN INFORMASI


           Ketidak-akuratan atau kesalahan dalam penerbitan, kebanyakan disebabkan oleh kelalaian atau kesembronoan yang tidak disengaja. Seorang reporter mungkin tidak menggunakan waktu secukupnya untuk mengecek informasi sebelum menulis. Kemudian ternyata ia salah menulis nama sumber berita.

          Seorang wartawan kawakan akan mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghindari kesalahan fakta seperti itu. Langkah-langkah itu tentu juga bisa Anda lakukan:

          1. Bila Anda mewawancarai seseorang, tanyakan nama, umur, alamat, dan nomor teleponnya. Setelah mengumpulkan informasi, ejalah namanya dan bacakanlah alamat dan nomor teleponnya, sehingga sumber berita bisa mengoreksinya. Nomor telepon tidak ditulis dalam cerita, tapi reporter harus memilikinya, untuk kapan-kapan, mengontaknya kembali jika ia memerlukan check and cross check.

          2. Jika nama, umur, dan alamat narasumber tersebut Anda peroleh dari tangan kedua, haraplah dicek lagi di buku telepon. Jika Anda menyebut umurnya, tanyakan kepada sumber berita untuk membetulkan atau mengoreksinya.

          3. Jangan sekali-kali beranggapan, bahwa Anda mengetahui semuanya. Anda harus selalu mengecek ulang setiap informasi yang penting. Misalnya, seorang reporter balai kota mungkin mengira, bahwa ia tahu gelar atau jabatan resmi seorang pejabat. Tapi, jika tidak yakin, ia harus menghubungi pejabat tersebut atau sekretarisnya untuk mencocokkannya.

          4. Jika tulisan Anda menyangkut materi yang rumit, pastikanlah terlebih dahulu, bahwa Anda memahaminya dengan baik. Seorang reporter sering menulis tentang suatu istilah teknis, sedangkan ia tidak tahu sama sekali, atau tidak punya latar belakang mengenai istilah teknis tersebut.

          Suatu hari, mungkin seorang wartawan polisi membuat feature mengenai perlengkapan radar yang dipasang pada lampu lalu-lintas. Seorang kapten polisi mungkin dengan lancar menerangkan istilah teknis tentang radar, tapi reporter itu harus bisa memberi informasi yang gamblang kepada pembaca. Maka, wartawan yang berpengalaman akan sering menghentikan penjelasan si kapten untuk mencari terjemahan dari istilah-istilah teknis tersebut yang mudah diterima oleh pembaca yang awam. Pada umumnya, wartawan mengambil peran sebagai pembaca awam, dan mengajukan pertanyaan sesuai dengan posisinya itu.

          5. Jika menggunakan statistik atau data matematis, reporter harus mengecek angka-angkanya, dan kalau perlu menghitung. Banyak wartawan yang berdalih macam-macam bila seorang pembaca yang kritis mengirim surat ke redaksi dan menunjukkan perhitungan yang keliru dalam tulisan wartawan tersebut.

          Statistik harus benar-benar dicermati dengan penuh kecurigaan. Anda bisa membuktikan apa saja dengan statistik, tergantung bagaimana cara Anda menyajikannya, dan apa saja yang Anda masukkan atau tinggalkan. Tanyakanlah kepada nara sumber secara cermat untuk meyakinkan kebenaran angka-angka tersebut.

          Misalnya, statistik kejahatan yang dikemukakan oleh polisi, harus benar-benar dicek sebelum digunakan sebagai petunjuk mengenai tingkat kejahatan. Sebab, pada kenyataannya, banyak peristiwa kejahatan yang tidak dilaporkan kepada polisi, dan karena itu tidak tercatat dalam statistik.

          Seorang reporter tidak boleh membiarkan dirinya menjadi alat untuk “menipu” masyarakat. Kekritisan dan pengecekan yang teliti sering bisa menghindarkan hal itu terjadi.

        
(Bersambung)


Posted by BSH at 00:30:50 | Permanent Link | Comments (0) |

Selasa, Februari 12, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (I)

Pengantar. Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh (alm) Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, dan 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut ini bagian I (pertama).

-------------------------------------------------------------------
              
Dalam menulis berita di suratkabar, yang diutamakan ialah pengaturan fakta-fakta. Tapi, dalam penulisan di majalah berita, bentuk penulisan cenderung bergaya feature, mengisahkan sebuah cerita.

              
Penulis feature pada hakikatnya seorang yang berkisah. Ia melukis gambar dengan kata-kata, menghidupkan imajinasi pembaca, menarik pembaca agar masuk ke dalam cerita dengan membantunya mengidentifikasikan diri dengan tokoh utama.

              
Jika seorang wartawan (yang bertugas di) balai kota menggambarkan wali kota dengan sepatunya yang gemerlapan dan kumisnya yang keputih-putihan dalam berita, redaktur kota akan marah, karena tulisan itu bertele-tele. Tapi, sebaliknya, jika sang reporter melupakan gambaran sang wali kota pada saat ia menulis feature, redaktur kota mungkin akan berkata, “Orangnya seperti apa? Saya tidak bisa membayangkannya.”

              
Penulis feature, untuk sebagian besar, tetap menggunakan penulisan jurnalistik dasar. Sebab ia tahu bahwa teknik-teknik itu sangat efektif untuk berkomunikasi. Tapi, jika ada aturan yang mengurangi kelincahannya untuk mengisahkan suatu cerita, ia segera menerobos aturan tersebut.

              
Doktrin klasik dalam menulis (struktur) berita yang disebut “piramida terbalik” (susunan tulisan yang meletakkan informasi pokok di bagian atas dan informasi yang tidak begitu penting di bagian bawah, hingga mudah dibuang jika tulisan itu perlu diperpendek) sering ditinggalkan. Terutama jika urutan peristiwa sudah dengan sendirinya membentuk cerita yang baik. Feature yang singkat dan lucu, yang biasanya ditemukan di halaman pertama suratkabar, sering ditulis sesuai dengan urutan waktu.

Contoh:
               Brury, seorang petugas patroli, punya pengalaman paling sial Jumat malam lalu. Pukul 16.30 sore ia lapor ke kantor. Lima menit kemudian, selama berpatroli dengan mengenakan pakaian seragam, lampu senternya jatuh. Ketika membungkuk untuk memungutnya kembali, celananya sobek di bagian pantat.

               
Pukul 17.15 sore, ia mencoba menolong seekor anjing yang menggonggong. Sejam kemudian ia dirawat karena kakinya digigit anjing.

              
Segera setelah pukul 19.00 malam ia kesenggol mobil yang ngebut. Pengemudinya seorang detektif narkotik yang sedang nguber padagang heroin.

              
Pukul 21.50 ia dipanggil ke sebuah bar untuk melerai pertengkaran. Setengah jam kemudian, ia dirawat karena luka-luka di kepalanya akibat pukulan botol wiski. Perawatan dilakukan di pusat kesehatan masyarakat setempat.

              
Brury kembali lagi ke rumah sakit pukul 23.40 malam, setelah menguber tersangka perampokan. Kaki kanannya terkena kaca ketika ia jatuh.

              
Setelah meninggalkan rumah sakit, ia kembali ke kantor polisi pukul 24.05 dinihari untuk mengakhiri tugasnya. Tapi, waktu itu seorang pengendara motor menabrak dari belakang mobil dinasnya di perempatan lampu lalulintas. Sekali ini, ia tidak terluka.

              
Akhirnya pukul 24.30 ia pulang, Ketika sampai di tempat parkir, ia menerima sebuah laporan polisi lagi. Dicuri: sebuah sepeda motor Honda, STNK nomor B 1995 GK. Pemiliknya: Brury, umur 31 tahun, tinggal di Gang Kenari 27.

              
Reporter yang menulis cerita Brury sebagai feature, dan tidak menuliskannya sebagai berita, memperoleh hasil yang baik dari bahan yang tersedia. Feature itu pantas dimuat di halaman pertama, sedangkan sebagai berita sedikit sekali nilainya. Bila dibuat berita, bentuknya seperti ini:

              
Brury, seorang petugas patroli, dirawat karena luka-luka ringan pada tiga insiden terpisah Jumat malam. Polisi itu juga mengalami kecelakaan ringan akibat ditabrak mobil.

              
Brury, 31 tahun, digigit anjing pada pukul 17.15 sore, kepalanya terkena botol wiski di bar pada pukul 21.50 malam, dan kakinya luka karena pecahan kaca ketika jatuh dalam suatu pengejaran penjahat pada pukul 23.27. Ia dirawat dan kemudian dibolehkan pulang dari pusat kesehatan masyarakat setempat.

              
Suleman, 38 tahun, penghuni Jalan Kebyar nomor 19, ditangkap dan dituduh menyerang polisi dalam sebuah pertengkaran di bar.

              
Mobil dinas Brury sedikit rusak ketika ditabrak dari belakang oleh mobil yang dikemudikan oleh Ny. Aminah di persimpangan Jalan Kuningan pada pukul 12.05 hari ini. Tak ada seorang pun yang luka.

              
Perhatikan: berita itu lebih banyak menyampaikan informasi mengenai kecelakaan, dan tidak menyebut-nyebut materi yang tidak punya nilai berita, tapi penting, seperti celana yang sobek. Reporter berita bisa dengan mudah mengambil keputusan untuk meninggalkan cerita tentang pencurian sepeda motor. Sebab, hal itu terpisah, tidak langsung berhubungan dengan cerita tentang luka ringan yang dialami seorang polisi.

               Cerita mana yang lebih menarik? Cerita mana yang lebih informatif? Cerita mana yang lebih enak ditulis?

(Bersambung)

Posted by BSH at 00:46:22 | Permanent Link | Comments (0) |

Jumat, Januari 18, 2008

DENDAM BENAZIR DAN "DENDAM" TAMARA

Catatan:

Kawan-kawan, saya muatkan dua artikel tentang bahasa sebagai selingan, sebelum melanjutkan pelajaran menulis. Ini adalah selingan yang kedua. Terimakasih (BSH).

---------------------------------------------------------------------



Dua tanda kutip pada sebuah kata, rasa bahasa yang sering kurang dipertimbangkan.



BIARPUN sama-sama memendam dendam, perasaan Benazir Bhutto dan Tamara Geraldine tidaklah sama (Kompas, 16/9/2007). Benazir memang benar-benar memendam dendam terhadap lawan politiknya. Karena itu kata dendam seharusnya tidak ditulis di antara dua tanda kutip (halaman 5).

Sebab, jika kata dendam diberi dua tanda kutip, berarti bukan dendam yang sesungguhnya. Sementara dendam Tamara terhadap acara Wisata Kuliner – karena tak bisa mencicipi jenis makanan tertentu gara-gara menderita sakit maag (halaman 32) – hanyalah kiasan. Setelah sembuh, ia melampiaskan "dendam" dengan menemani Bondan Winarno, pengasuh acara tersebut. Maka tepatlah jika dendam ditulis di antara dua tanda kutip.



Selama ini pembubuhan tanda baca berupa dua tanda kutip di depan dan belakang sebuah kata, hampir tak pernah dibicarakan. Padahal, penggunaan tanda baca itu – yang dimaksudkan untuk memberi arti atau tekanan tertentu pada sebuah kata – sering muncul, terutama dalam bahasa pers, bahkan juga dalam bahasa lisan. Ketika seseorang sedang berbicara di televisi dan hendak menyebut sebuah istilah yang mengandung arti tertentu, serta merta ia mengangkat kedua belah tangannya lalu memeragakan cara menulis dua tanda kutip itu dengan kedua jari telunjuk dan jari tengah.



Selain dimaksudkan sebagai kiasan, atau memberi tekanan pada arti lain dari arti yang sebenarnya, tanda baca seperti itu juga digunakan untuk menyebut julukan yang khas, atau istilah tertentu. Tapi, tidak semua penulis, terutama para wartawan, dapat menggunakannya secara tepat. Menulis kalimat dengan suatu "rasa bahasa" sehingga memunculkan asosiasi tertentu, memang tidak mudah.



Dalam kolom Ramadan (Koran Tempo, 16/9/2007, halaman 2), yang mengulas suasana bulan Ramadhan, ada tiga kesalahan dalam menulis kata di antara dua tanda kutip: "sweeping" terhadap minuman keras; kemaksiatan harus "diperangi"; melanggar "peraturan daerah." Jika yang dimaksud dengan ketiga kata tersebut memang benar-benar sebagaimana yang terkandung di dalam artinya, mengapa harus ditulis di antara dua tanda kutip? Jika dibubuhi dua tanda kutip, maka asosiasi yang muncul dari kata atau istilah tersebut justru kebalikan dari arti yang sebenarnya.



Sebaliknya, dalam kolom yang sama terdapat dua kata yang memunculkan asosiasi yang benar ketika penulisnya meletakkan dua tanda kutip pada sebuah kata atau ungkapan: hiburan malam harus "tahu diri"; anak-anak di pengungsian kelaparan menunggu kapan "magrib" tiba. Tepatlah ungkapan tahu diri ditulis di antara dua tanda kutip, sebab si penulis mempersonifikasikan subyek kalimat, yakni hiburan malam.


Begitu pula dengan kata magrib yang oleh penulisnya dimaksudkan sebagai kiasan bagi terpenuhinya kesejahteraan bagi para pengungsi.



Gara-gara kurang mempertimbangkan "rasa bahasa" itulah, seorag penulis sering tidak konsisten dalam menggunakan dua tanda kutip itu. Dalam Pertaruhan Terakhir (TEMPO, 26/8/2007, halaman 23) ada dua kalimat yang menunjukkan kurangnya konsistensi tersebut. Setelah kematian Munir, Indra juga pernah bertemu petinggi BIN untuik membicarakan "langkah selanjutnya" (kolom 1). Ungkatan langkah selanjutnya tepat diletakkan di antara dua tanda kutip untuk menunjukkan adanya kongkalingkong antara Indra dan petinggi BIN.



Tapi, dalam kolom 2 terdapat dua kata yang seharusnya tidak perlu dibubuhi dua tanda kutip: Maksudnya, kejaksaan menguraikan aspek "sebab" untuk menjelaskan unsur "akibat", yakni tewasnya Munir. Jika yang dimaksud memang arti sebenarnya dari kata sebab dan akibat, mengapa kedua kata tersebut harus diletakkan di antara dua tanda kutip?



Kekurang cermatan juga terdapat dalam Operasi Permak Wajah (TEMPO, 9/9/2007, halaman 23). Saya kutip sebuah kalimat panjang pada kolom 1-2: Akhirnya, rapat Dewan Gubernur BI memutuskan menggunakan dana milik Yayasan Pengembangan Perbankan Indonesia/Lembaga Pengembangan Perbankan Indonesia – disingkat LPPI – yang merupakan "anak usaha" BI. Jika jelas bahwa LPPI adalah anak usaha BI, seharusnya dua kata itu tidak usah ditulis di antara dua tanda kutip. Kecuali jika pada alinea sebelumnya disebutkan adanya keraguan mengenai status LPPI.



Namun pada kolom 1 terdapat cara penulisan yang benar. Saya kutip: Apalagi setahun kemudian BI hanya berhasil meraih predikat "wajar dengan pengecualian". Tiga kata wajar dengan pengecualian merupakan predikat yang dikenakan oleh Badan Pemeriksa Keuangan terhadap Bank Indonesia. Sebagai predikat, wajar jika tiga kata tersebut ditulis di antara dua tanda kutip.



Goenawan Mohamad termasuk penulis (sangat) produktif yang suka (dan tepat) menggunakan tanda baca berupa dua tanda kutip – yang seringkali dimaksudkan untuk memberi tekanan pada pengertian yang sama sekali lain. Misalnya, dalam Catatan Pinggir berjudul Ong (TEMPO, 9/9/2007, halaman 130). Mengapa ia menulis Onghokham sebagai "sejarawan" (di antara dua tanda kutip), padahal almarhum memang seorang sejarawan? Sebab, ada penjelasan pada kalimat berikutnya, yakni Ia sendiri punya versi lain tentang dirinya. Dan selanjutnya, Seperti Sartono Kartodirdjo, ia mengutamakan latar belakang sosial-ekomomi sebuah peristiwa, yang menyebabkan sejarah baginya bukan kisah orang "atas."



Maksudnya, bukan "sejarah" sebagaimana kita kenal di bangku sekolah yang mengisahkan orang "atas" alias para raja, pahlawan, pemimpin, melainkan peristiwa yang kompleks, lengkap dengan latar belakang politik, sosial, budaya dan ekonomi yang saling kait-mengait.***


Posted by BSH at 18:04:46 | Permanent Link | Comments (0) |

Sabtu, Januari 05, 2008

KETIKA JUSUF KALLA "BERBESAR HATI"

Catatan:

Kawan-kawan, saya muatkan dua artikel tentang bahasa sebagai selingan, sebelum melanjutkan pelajaran menulis. Ini adalah selingan yang pertama. Terimakasih (BSH).

----------------------------------------------------------


Ada wartawan yang tidak kritis: langsung mengutip ucapan pejabat, padahal salah.



SAYA tersenyum kecut karena jengkel, sembari geleng-geleng kepala lalu mencampakkan koran, ketika membaca Harian Kompas dan Koran TEMPO edisi 3 November 2007. Di halaman 1 Kompas menulis sebaris judul mencolok: Wapres Minta Nurdin Halid Besar Hati soal Putusan FIFA.



Padahal, di halaman 31, Kompas mengutip ucapan Ketua Komite Olahraga Nasional, Rita Subowo, yang "meminta kebesaran jiwa para pengurus PSSI," dan ucapan Menteri Negara Pemuda dan Olahraga, Adyaksa Dault, bahwa "Nurdin Halid harus berjiwa besar."




Sementara Koran TEMPO di halaman A3 juga mengutip ucapan Jusuf Kalla, "Saya yakin Nurdin Halid akan berbesar hati untuk mengikuti ketentuan-ketentuan itu." Berbesar hati atau berbesar jiwa?



Ucapan Jusuf Kalla yang salah itu, besar hati, dikutip seperti apa adanya oleh wartawan Kompas (INU/JOY) dan wartawan KoranTEMPO (Rafly Wibowo/Sutarto/Fanny Febiana). Repotnya, redaktur kedua koran itu juga tidak kritis.



Padahal, yang benar ialah besar jiwa (lapang dada, legowo), bukan besar hati (gembira, girang, senang). Sudah sebulan lebih ucapan itu disiarkan, tapi tidak diralat oleh jurubicara kepresidenan, juga tidak oleh redaktur koran yang bersangkutan.



Kesalahan sama dilakukan oleh sutradara dan bintang film Rano Karno ketika mencalonkan diri sebagai Wakil Gubernur DKI Jakarta. Selembar poster ditempel pada salah satu mobilnya, Sekali-kali jadi Wakil Gubernur.... Yang benar ialah sekali-sekali (sewaktu-waktu), bukan sekali-kali (sama sekali tidak).



Itu adalah salah kaprah dalam berbahasa. Salah kaprah (ungkapan dalam bahasa Jawa) ialah kesalahan yang biasa dilakukan, tapi telanjur dianggap benar. Celakanya, baik orang awam maupun pejabat, bahkan juga pers, sering kejangkitan penyakit salah kaprah dalam berbahasa.



Misalnya, kalimat ini: Redaktur menugaskan reporter meliput pertandingan olahraga (salah kaprah). Yang benar, Redaktur menugasi reporter (untuk) meliput pertandingan olahraga. Atau, redaktur menugaskan peliputan pertandingan olahraga kepada reporter (tapi kurang lazim).



Yang agak rumit ialah memenangkan dan memenangi dalam kalimat berikut: PSSI memenangkan pertandingan sepakbola (salah kaprah). Siapa yang menang? Yang menang ialah "pertandingan sepakbola", bukan PSSI. Tapi, kalimat PSSI memenangi pertandingan sepakbola -- benar, tapi terlalu dipaksakan. Menurut hemat saya, lebih baik PSSI menang (unggul) dalam pertandingan sepakbola.



Kasus yang hampir sama terjadi pada kata membawahi dan membawahkan. Yang benar, Presiden membawahkan para menteri, bukan Presiden membawahi para menteri (salah kaprah). Sebab, Presiden membawahi para menteri, berarti presiden memposisikan diri (berada) di bawah menteri. Bandingkan membawahi dan melayani. Kalimat Presiden melayani para menteri, tidak logis, sebab menteri adalah pembantu atau bawahan presiden. Tapi, Presiden mengatasi persoalan (benar), bukan mengataskan (tidak lazim).



Ada ketentuan tatabahasa yang dalam penggunaannya mengalami salah kaprah. Ketentuan itu: semua kata dasar yang berhuruf awal k, p, t, dan s, jika mendapat awalan me atau pe dan akhiran kan atau an, maka huruf awal itu harus luluh. Tapi, dalam praktik keempat huruf itu tidak luluh.



Pertama, kata kaji; mestinya mengaji, pengajian. Tapi, dalam praktik, mengkaji, pengkajian, kecuali jika pengertiannya mengaji atau pengajian Al-Quran. Padahal, mempelajari teknologi mestinya juga termasuk pengajian, bukan pengkajian. Apa salahnya kita menggunakan mengaji atau pengajian teknologi?



Kedua, kata pesona mestinya memesona, tapi salah kaprah menjadi mempesona. Atau kata perkara seharusnya memerkarakan, tapi salah kaprah menjadi memperkarakan. Kata jadian untuk peduli seharusnya memedulikan, tapi salah kaprah menjadi mempedulikan. Anehnya, kata jadian putus bukan memputuskan melainkan memutuskan. Adapun mempunyai, benar, sebab kata dasarnya bukan punya, tapi empunya.




Ketiga, kata tunduk dan tambah, kata jadiannya menundukkan dan menambahkan, sesuai dengan ketentuan, yakni huruf pertama luluh, tidak mengalami salah kaprah.



Keempat, kata sukses mestinya menjadi menyukseskan, tapi salah kaprah menjadi mensukseskan. Bahkan ada yang membacanya mengacu pada kata success dalam bahasa Inggris: mensakseskan. Sebaliknya, kata sabar yang kata jadiannya menyabarkan (benar). Jika mengacu pada mensukseskan, mengapa kata jadian sabar bukan mensabarkan?



Yang menarik ialah tiga kata dasar yang terdiri dari satu suku kata, seperti sah, cat dan cap. Jika ketiga kata itu mendapat awalan me atau pe dan atau akhiran an atau kan, maka kata jadiannya menjadi mengesahkan, mengecat, mengecap, karena mendapat sisipan huruf sengau ng. Selama ini masyarakat kita sudah menggunakan kata jadian tersebut.



Baik. Tapi, jika kita analisa, kata dasar ketiga kata itu hilang atau berubah, bahkan aneh. Lihatlah: pengesahan (pe-ng-esah-an), kata dasar yang seharusnya sah berubah menjadi esah, atau kesah. Begitu pula pengecapan (pe-ng-ecap-an), kata dasar yang seharusnya cap menjadi ecap, atau kecap. Dan pengecatan (pe-ng-ecat-an), kata dasar yang mestinya cat menjadi ecat, atau kecat.



Aneh bin ajaib.



Posted by BSH at 19:23:34 | Permanent Link | Comments (0) |

Sabtu, Desember 15, 2007

BAHAN PELATIHAN MENULIS (VI)


Catatan
:
               Berikut ini saya turunkan bahan pelatihan menulis bagian terakhir. Saya minta maaf, mungkin ada beberapa bagian dari naskah yang tumpang tindih (over lapping) dengan naskah-naskah sebelumnya. Maklum, gara-gara beberapa kesibukan, saya tidak sempat lagi memeriksa dan menelitinya kembali. Tapi, kalaupun ada bagian-bagian yang tumpang tindih, anggap saja sebagai “ulangan pelajaran”. Segera setelah Bahan Pelatihan Menulis (VI) ini, saya akan menurunkan 13 seri kutipan dari buku Andaikan Saya Wartawan TEMPO. Selamat membaca dan belajar.


TULISAN untuk majalah bukanlah berita -- dalam artikata hard news atau straight news (berita pendek, padat, singkat yang mementingkan aktualitas) -- melainkan feature yang juga lazim disebut laporan atau artikel. Dalam hal ini tak berarti kita boleh menafikan persyaratan jurnalisme yang klasik, yaitu 5-W (who, what, when, where, why) dan 1-H (how).

          Dalam menulis feature, walaupun who, what, when, where diperlukan, unsur why (mengapa) dan how (bagaimana) lebih dipentingkan: mengapa dan bagaimana seorang tokoh melakukan sesuatu. Salah satu unsur penting dalam menulis feature ialah gaya. Setiap penulis mempunyai gaya masing-masing. Tapi, secara umum, gaya seorang penulis feature yang baik ialah gaya bertutur atau bercerita, dengan deskripsi yang jelas, rinci, sehingga “hidup”.
       
         
Sekedar mengingatkan, yang dimaksud dengan majalah atau jurnal, bukanlah majalah atau jurnal ilmiah, melainkan majalah umum atau majalah berita, yang laporannya ditulis dalam bentuk feature dengan gaya bercerita, berkisah.

          Oleh karena itu, dalam menulis hendaknya kita menggunakan gaya berkisah dengan bahasa yang mudah, yang populer. Ketika kita menulis, bayangkanlah siapa yang membaca tulisan kita.

          Dan oleh karena jenis pembaca sangat variatif, usahakanlah agar pembaca kita yang sehari-harinya bekerja sebagai tukang becak atau guru tidak merasa dicekoki; sebaliknya pembaca yang dosen, kolonel atau pengusaha, tidak merasa digurui. Gunakanlah bahasa yang populer, mudah dimengerti, dan tak perlu sok-ilmiah.

          Tapi, juga tak berarti kita boleh mengabaikan logika. Justru logika, sebab akibat, berperan penting dalam sebuah laporan. Sebab, bagian-bagian laporan yang tidak logis bisa membingungkan pembaca.

          Feature
bukanlah dongeng yang tidak logis, melainkan cerita mengenai fakta. Berita, atau feature, is a story about facts not about fiction. Sementara karangan (sastra) lebih merupakan a story about fiction. Oleh karena itu, feature haruslah ditulis dengan cermat, teliti, terutama menyangkut nama, tanggal, gelar, jabatan, istilah, ejaan asing.

          Jika Anda memang tidak tahu, janganlah segan-segan bertanya kepada narasumber, bagaimana menulis nama, gelar, jabatan, istilah, atau ejaan sebuah kata atau istilah dalam bahasa asing.
 
Wawancara
          Seorang wartawan yang berhati-hati selalu membawa tape recorder (alat perekam) untuk mewawancarai narasumber. Maksudnya, agar semua omongan narasumber dapat dikam; sementara jika kelak ada komplain dari narasumber, sang wartawan punya pegangan kata-kata narasumber yang sudah terekam.

          Tapi, dalam menulis berita atau feature, tidak semua omongan narasumber dapat kita tulis. Tugas jurnalis ialah: menceritakan kembali hasil wawancara dengan bahasa sendiri. Mengapa? Karena kita bukanlah corong narasumber, atau his master’s voice. Bahkan, sebaiknya kita tidak usah membuat transkrip dari hasil wawancara – yang menghabiskan waktu dan energi.

          Wartawan yang baik ialah yang memiliki daya ingat tajam dan catatan singkat yang akurat. Adapun alat perekam hanyalah sekedar sebagai pendukung untuk mengecek kembali akurasi mengenai data atau persisnya suatu ucapan.

Outline
           Mau “selamat” menulis feature? Sebelum menulis susunlah dulu outline atau rancangan atau kerangka tulisan. Mulai dari lead (pembukaan), body tulisan (reportase suatu keadaan, profil seorang tokoh, cerita mengenai tokoh) sampai dengan ending tulisan. Cara menyusun outline sudah dijelaskan dalam bab tersendiri.

          Jika Anda sudah selesai menulis sebuah feature, janganlah buru-buru menyerahkannya kepada redaktur. Bersabar dan istirahatlah barang sebentar, kemudian bacalah kembali tulisan Anda. Membaca ulang sebuah tulisan bukanlah suatu aib, tapi justru karena didorong oleh rasa tanggung jawab.

           Seorang wartawan profesional ialah yang mampu menghasilkan karya yang sempurna, dengan struktur yang pas, dengan data yang akurat, dengan bahasa yang bagus. Alias, menggunakan bahasa yang baik dan benar.
Setelah itu hitung panjang tulisan Anda di layar komputer dengan cara sederhana, untuk menentukan subjudul. Contoh: andai panjang tulisan itu 25 layar, bagilah menjadi lima subjudul – setiap subjudul lima layar. Panjang subjudul maksimal tiga kata, tapi lebih baik dua kata.

          Subjudul bukanlah judul, karena itu tidak harus mencerminkan isi atau pikiran yang terungkap dalam alinea-alinea di bawahnya. Subjudul lebih berfungsi sebagai semacam “terminal sementara” bagi pembaca untuk bernafas sebelum melanjutkan membaca aline-alinea berikutnya.

          Setelah semuanya oke, jangan lupa merekam (men-save). Perekaman bahkan sangat dianjurkan dilakukan setiap kali selesai menulis lima atau enam alinea, sehingga jika suatu saat lampu padam, naskah kita sudah terselamatkan. Tapi, sebelum kita merekam, buatlah nama file.

Foto
          Pada umumnya foto merupakan ilustrasi, dan seharusnya mewakili isi cerita dalam sebuah feature. Agar tidak menjemukan, foto hendaknya variatif, jangan sampai ada pengulangan. Foto tentang seseorang atau suasana (satu obyek), biarpun dipotret dari berbagai sudut ya tetap saja satu obyek. Dan dianggap sebagai satu foto.

          Secara umum, foto terdiri dari dua bagian besar: profil dan suasana. Profil bisa berupa seorang tokoh (close up), sedang asyik membaca, sedang tekun memperbaiki sesuatu, sedang menjelaskan sesuatu dengan mimik ekspresif. Sementara foto suasana bisa ditampilkan dengan berbagai (sekali lagi: berbagai!) latar belakang.

          Bagaimana dengan keterangan foto (caption)? Keterangan foto sebaiknya hanya terdiri dari dua kalimat, masing-masing maksimal tiga atau empat kata. Antara dua kalimat ditaruh titik, tapi di belakang kalimat kedua tak ada titik.

Kutipan
          Dalam menulis keterangan mengenai kutipan (quotation), jangan sekali-kali (bukan sekali-sekali!) menggunakan akunya, terangnya, jelasnya, ungkapnya, batinnya. Ketiga keterangan kutipan berikut ini salah. “Sayalah yang mencuri HP itu,” akunya. “Memang, dia adalah kemenakan pak menteri,” jelasnya. “Wah, kalau dia datang, akan terbongkar rahasia saya,” batinnya.

          Saya lebih menganjurkan agar Anda menggunakan katanya, ujarnya, tuturnya, ceritanya, kisahnya, jawabnya. Bisa juga kita menulis: katanya menjelaskan, ujarnya menerangkan, katanya mengaku, katanya menuturkan kisah sedih itu.


          Keterangan kutipan seperti tuturnya, ceritanya, kenangnya, hanya untuk quotation yang benar-benar bercerita. “Memang, waktu masih remaja saya nakal, sering bertengkar dengan kakak dan adik, bahkan juga dengan para pemuda di sekitar rumah,” tuturnya.


          Kalimat kutipan berikut ini bagus. “Di masa kecil, saya sangat disayang oleh nenek. Kini beliau wafat. Saya sangat sedih dan kehilangan,” kenangnya sembari menghapus airmatanya yang meleleh di pipinya yang memerah.

Kalimat
          Ini kalimat salah: Dia adalah anak pertama (mestinya anak sulung). Saya anak terakhir dari 10 bersaudara (mestinya anak bungsu). Fatimah adalah adik dari suami Nyonya Endang (seharusnya adik ipar Nyonya Endang). Pak Amat adalah bapak dari isteri Pak Hardi (seharusnya mertua Pak Hardi).

          Kalimat ini juga salah: Nama baptis Hughes adalah nama pahlawan perempuan Prancis yang dibakar hidup-hidup, yaitu Joan of Arc. Seharusnya: Nama baptis Hughes adalah Jeanne d’Arc. Mengapa Jeanne d’Arc, bukan Joan of Arc? Karena ada kata “Prancis” dalam kalimat tersebut, sementara Joan of Arc adalah ejaan Inggris untuk nama sang pahlawan.

          Kalimat yang memuat data yang lengkap dapat memperjelas posisi seorang tokoh. Kalimat berikut ini kurang lengkap: Kakek Aisjah Girindra adalah seorang ulama yang berperan dalam pemberontakan melawan penjajah Belanda di Cilegon, Banten.

          Seharusnya: Kakek Aisjah Girindra adalah Syaikh Nawawi al-Bantani, seorang ulama terkenal yang berperan dalam pemberontakan yang terkenal melawan penjajah Belanda di Cilegon, Banten, pada awal abad ke-19.

***

Posted by BSH at 20:15:50 | Permanent Link | Comments (0) |