PEDOMAN MENULIS FEATURE (XI)
Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan Saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian XI (ke sebelas).
***
Transisi
Anda sedang menulis feature dengan catatan panjang yang mencakup macam-macam fakta tentang pokok persoalan yang akan Anda tulis. Setiap potong informasi sama halnya dengan sebuah batu bata yang harus digabung dengan batu bata lain agar terbentuk bangunan cerita. Di antara sejumlah “batu bata” ada transisi — “adukan semen” yang merekatkan batu bata-batu bata itu menjadi keseluruhan cerita.
Transisi bisa berwujud satu kata, rangkaian kata, kalimat, atau mungkin paragrap. Ia punya dua tugas : Pertama, memberi tahu pembaca bahwa Anda pindah ke materi yang lain. Kedua, meletakkan materi yang lain itu pada perspektif yang selayaknya. Dalam penulisan berita, transisi mudah dilihat. Penulis memadu fakta-fakta menjadi pemaparan pendek-pendek yang satu sama lain direkatkan menjadi satu cerita.
Contoh:
Para penjahat bertopeng yang mengacungkan senjata merampok bank 400 ribu dolar pagi ini. Para bandit masuk pintu depan jam 09.15, memerintahkan langganan dan pegawai bank tengkurap di lantai, kemudian menguras laci-laci uang tunai dan kotak uang. Selama perampokan itu, terdengar sekali tembakan, tapi tak ada yang luka. Kemudian, sersan polisi William Bowling menemukan mobil kosong dua kilometer dari bank. Ia tidak menemukan uang. Dekat mobil itu, polisi menemukan kantong-kantong uang kosong yang bercap bank tersebut. Sebelum perampokan itu, polisi sudah diberi tahu agen-agen FBI bahwa ada tiga perampok bank dari luar
kota yang diperkirakan beroperasi di kota itu. Tapi, kata seorang juru bicara FBI, ketiga perampok yang berumur 20 tahunan itu tidak cocok identitasnya dengan perampok yang dilaporkan itu.
Transisi harus sedemikian rupa, hingga pembaca tidak boleh merasa terganggu olehnya.
Teknik Penulisan
Sampai di sini, Anda sudah mempunyai unsur-unsur lengkap untuk menulis feature. Lead adalah kepala, struktur adalah kerangkanya, ending berarti ekornya, dan transisi adalah tali sendi yang mengikat unsur-unsur menjadi satu.
Penulis harus memakai teknik untuk menjaga agar semuanya berada pada tempatnya. Meskipun banyak teknik untuk itu, ada tiga teknik yang penting: (1). Spiral. Setiap alinea (paragraf) menguraikan lebih terinci persoalan yang disebut alinea (paragraf) sebelumnya. (2). Blok. Bahan cerita disajikan dalam alinea-alinea yang terpisah, secara lengkap. Catatan: bila paragraf terlalu panjang, potong saja menjadi beberapa bagian lebih kecil. (3). Mengikuti Tema. Setiap alinea (paragraf) menggarisbawahi atau menegaskan lead-nya.
Kebanyakan penulis profesional memilih beberapa teknik, tergantung panjang dan jalannya cerita. Ini dilakukan supaya orang tidak bosan karena membaca teknik yang itu-itu juga. Dalam menulis, beberapa petunjuk dasar dipergunakan untuk menyajikan tulisan dengan cara yang paling menarik supaya menawan pembaca.
Alinea pendek. Paragraf atau alinea yang panjang hanya membuat pembaca segan membaca karena mengira tulisan itu susah dibaca. Potonglah paragraf yang kelihatan terlalu panjang. Ingat, bahwa Anda menulis dengan gaya pers, bukan bahasa formal. Guru-guru bahasa memang menekankan perlunya pengelompokan materi yang berkaitan dalam satu paragraf. Tapi wartawan yang praktis dengan segera mengorbankan bentuk itu supaya mudah berkomunikasi.
Singkat dan sederhana. Kalimat majemuk yang panjang kadang kala memang benar menurut tata bahasa. Tapi bila ternyata pembaca tersesat dan bingung, penulis itu gagal berkomunikasi. Tapi jangan lantas menjadi fanatik pada kalimat pendek. Kalau kalimat Anda hanya terdiri atas pokok kalimat, kata kerja, dan obyek terus-terusan, pembaca akan mengantuk setelah membaca dua paragraf.
Menyusun feature yang membuat pembaca tidak mengantuk, gampang saja. Setiap kalimat harus gampang diikuti dan mudah dipahami. Kadang-kadang kalimat sederhana bisa melakukan fungsi ini. Tapi kalau itu-itu saja yang dipakai, orang akan jemu. Penggunaan kalimat sederhana memperkecil risiko salah menggunakan kata sambung. Sebab, dalam pers, walaupun beberapa aturan tata bahasa sering di-”abaikan”, kalimat harus logis dan benar tata bahasanya.
(Bersambung)