Monday, April 27, 2009

PEDOMAN MENULIS FEATURE (XI)

Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan Saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian XI (ke sebelas).

 

***

 

Transisi

          Anda sedang menulis feature dengan catatan panjang yang mencakup macam-macam fakta tentang pokok persoalan yang akan Anda tulis. Setiap potong informasi sama halnya dengan sebuah batu bata yang harus digabung dengan batu bata lain agar terbentuk bangunan cerita. Di antara sejumlah “batu bata” ada transisi — “adukan semen” yang merekatkan batu bata-batu bata itu menjadi keseluruhan cerita.

 

          Transisi bisa berwujud satu kata, rangkaian kata, kalimat, atau mungkin paragrap. Ia punya dua tugas : Pertama, memberi tahu pembaca bahwa Anda pindah ke materi yang lain. Kedua, meletakkan materi yang lain itu pada perspektif yang selayaknya. Dalam penulisan berita, transisi mudah dilihat. Penulis memadu fakta-fakta menjadi pemaparan pendek-pendek yang satu sama lain direkatkan menjadi satu cerita.

 

Contoh:

          Para penjahat bertopeng yang mengacungkan senjata merampok bank 400 ribu dolar pagi ini. Para bandit masuk pintu depan jam 09.15, memerintahkan langganan dan pegawai bank tengkurap di lantai, kemudian menguras laci-laci uang tunai dan kotak uang. Selama perampokan itu, terdengar sekali tembakan, tapi tak ada yang luka. Kemudian, sersan polisi William Bowling menemukan mobil kosong dua kilometer dari bank. Ia tidak menemukan uang. Dekat mobil itu, polisi menemukan kantong-kantong uang kosong yang bercap bank tersebut. Sebelum perampokan itu, polisi sudah diberi tahu agen-agen FBI bahwa ada tiga perampok bank dari luar
kota yang diperkirakan beroperasi di kota itu. Tapi, kata seorang juru bicara FBI, ketiga perampok yang berumur 20 tahunan itu tidak cocok identitasnya dengan perampok yang dilaporkan itu.

 

          Transisi harus sedemikian rupa, hingga pembaca tidak boleh merasa terganggu olehnya.

 

Teknik Penulisan

          Sampai di sini, Anda sudah mempunyai unsur-unsur lengkap untuk menulis feature. Lead adalah kepala, struktur adalah kerangkanya, ending berarti ekornya, dan transisi adalah tali sendi yang mengikat unsur-unsur menjadi satu.

 

           Penulis harus memakai teknik untuk menjaga agar semuanya berada pada tempatnya. Meskipun banyak teknik untuk itu, ada tiga teknik yang penting: (1). Spiral. Setiap alinea (paragraf) menguraikan lebih terinci persoalan yang disebut alinea (paragraf) sebelumnya. (2). Blok. Bahan cerita disajikan dalam alinea-alinea yang terpisah, secara lengkap. Catatan: bila paragraf terlalu panjang, potong saja menjadi beberapa bagian lebih kecil. (3). Mengikuti Tema. Setiap alinea (paragraf) menggarisbawahi atau menegaskan lead-nya.

 

           Kebanyakan penulis profesional memilih beberapa teknik, tergantung panjang dan jalannya cerita. Ini dilakukan supaya orang tidak bosan karena membaca teknik yang itu-itu juga. Dalam menulis, beberapa petunjuk dasar dipergunakan untuk menyajikan tulisan dengan cara yang paling menarik supaya menawan pembaca.

 

           Alinea pendek. Paragraf atau alinea yang panjang hanya membuat pembaca segan membaca karena mengira tulisan itu susah dibaca. Potonglah paragraf yang kelihatan terlalu panjang. Ingat, bahwa Anda menulis dengan gaya pers, bukan bahasa formal. Guru-guru bahasa memang menekankan perlunya pengelompokan materi yang berkaitan dalam satu paragraf. Tapi wartawan yang praktis dengan segera mengorbankan bentuk itu supaya mudah berkomunikasi.

 

          Singkat dan sederhana. Kalimat majemuk yang panjang kadang kala memang benar menurut tata bahasa. Tapi bila ternyata pembaca tersesat dan bingung, penulis itu gagal berkomunikasi. Tapi jangan lantas menjadi fanatik pada kalimat pendek. Kalau kalimat Anda hanya terdiri atas pokok kalimat, kata kerja, dan obyek terus-terusan, pembaca akan mengantuk setelah membaca dua paragraf.

 

          Menyusun feature yang membuat pembaca tidak mengantuk, gampang saja. Setiap kalimat harus gampang diikuti dan mudah dipahami. Kadang-kadang kalimat sederhana bisa melakukan fungsi ini. Tapi kalau itu-itu saja yang dipakai, orang akan jemu. Penggunaan kalimat sederhana memperkecil risiko salah menggunakan kata sambung. Sebab, dalam pers, walaupun beberapa aturan tata bahasa sering di-”abaikan”, kalimat harus logis dan benar tata bahasanya.

 

 

(Bersambung)

 

 

Posted by BSH at 10:03:46 | Permalink | No Comments »

Monday, January 19, 2009

PEDOMAN MENULIS FEATURE ( X )

Kawan-kawan
          Berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan Saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian ke-X (sepuluh).
 
TUBUH DAN EKOR
          Misalkan Anda sudah punya lead yang hidup dan menarik, problem Anda berikutnya (yang kadang-kadang paling sulit) adalah menyusun materinya sehingga bisa memikat pembaca untuk mengikuti dari awal sampai akhir. Dalam penulisan berita hal ilu lebih gampang, karena setiap cerita ditulis dalam bentuk yang sama: piramida terbalik. Banyak feature yang menganut bentuk ini. Tapi sebenarnya tidak ada patokan bentuk feature yang tegas. Ini membuat penulisan feature lebih sulit dalam beberapa hal. Tapi juga memungkinkan kreativitas dan kecakapan.

          Apakah “piramida terbalik” itu dan apa manfaat praktisnya? Dalam “piramida terbalik”, bahan tulisan (informasi) disusun sedemikian rupa sehingga pembaca memperoleh bagian terpentingnya segera pada awal tulisan. Materi disusun sesuai dengan urutan pentingnya: informasi makin ke bawah makin kurang penting, lebih banyak detail, sementara pokoknya sudah dimuat di atas. Dalam dunia pers yang terburu-buru, “piramida terbalik” mempunyai dua fungsi.

          Pertama, bentuk “piramida terbalik” itu memungkinkan editor memotong naskah dari bawah. Karena berita disusun sesuai dengan nilai pentingnya maka editor bisa dengan cepat memotong dari belakang sesuai dengan halaman yang tersedia. Ini sangat menolong, terutama bila naskah diserahkan menjelang dealline. Editor tidak perlu membaca terlalu teliti Kedua, bentuk penulisan tersebut memungkinkan diketahui dengan cepat apakah berita itu layak dimuat atau tidak: editor cukup membaca leadnya saja. Editor tahu bahwa unsur terpenting cerita itu mesti ada pada lead. Apa hubungan antara hal itu dan feature?
 
          Bentuk paling umum suatu feature juga piramida terbalik, tapi ada satu tambahan: ending, atau penutup tulisan. Sebuah feature memerlukan — bahkan mungkin harus — ending karena dua sebab: Pertama, menghadapi feature hampir tak ada alasan untuk terburu-buru dari segi proses redaksionalnya. Editor tidak lagi harus asal memotong dari bawah. Ia punya waktu cukup untuk membaca naskah secara cermat dan meringkasnya sesuai dengan ruangan yang tersedia. Bahkan feature yang dibatasi deadline diperbaiki dengan sangat hati-hati oleh editor, karena ia sadar bahwa kebanyakan feature tak bisa asal dipotong dari bawah. Feature mempunyai penutup (ending) yang ikut menjadikan tulisan itu menarik.
 
          Kedua, ending bukan muncul tiba-tiba, tapi lazimnya merupakan hasil proses penuturan di atasnya yang mengalir. Ingat bahwa seorang penulis feature pada prinsipnya adalah tukang cerita. Ia dengan hati-hati mengatur kata-katanya secara efektif untuk mengkomunikasikan ceritanya. Umumnya, sebuah cerita mendorong untuk terciptanya suatu “penyelesaian” atau klimaks. Penutup tidak sekadar layak, tapi mutlak perlu bagi banyak feature. Karena itu memotong bagian akhir sebuah feature, akan membuat tulisan tersebut terasa belum selesai.
 
BEBERAPA JENIS ENDING
          1. Ending ringkasan. Penutup ini bersifat ikhtisar, hanya mengikat ujung-ujung bagian cerita yang lepas-lepas dan menunjuk kembali ke lead.
          2. Ending penyengat. Penutup yang mengagetkan bisa membuat pembaca seolah-olah terlonjak. Penulis hanya menggunakan tubuh cerita untuk menyiapkan pembaca pada kesimpulan yang tidak terduga-duga. Penutup seperti ini mirip dengan kecenderungan film modern yang menutup cerita dengan mengalahkan orang “yang baik-baik” oleh “orang jahat”.
           3. Ending sebagai klimaks. Penutup ini sering ditemukan pada cerita yang ditulis secara kronologis. Ini seperti sastra tradisional. Hanya saja dalam feature, penulis berhenti bila penyelesaian cerita sudah jelas, dan tidak menambah bagian setelah klimaks seperti cerita tradisional.
           4. Ending yang bisa jadi bukan merupakan suatu penyelesaian. Penulis dengan sengaja mengakhiri cerita dengan menekankan pada sebuah pertanyaan pokok yang tidak terjawab. Selesai membaca, pembaca tetap tidak jelas apakah tokoh cerita menang atau kalah. Ia menyelesaikan cerita sebelum tercapai klimaks, karena penyelesaiannya memang belum diketahui, atau karena penulisnya sengaja ingin membuat pembaca tergantung-gantung.

          Seorang penulis harus dengan hati-hati dalam menilai ending-nya, menimbang~nimbangnya apakah penutup itu merupakan akhir yang logis bagi cerita itu. Bila merasakan bahwa ending-nya lemah atau tidak wajar, ia cukup melihat beberapa paragraf sebelumnya, untuk mendapat penutup yang sempurna dan masuk akal. Menulis ending atau penutup feature sebenarnya termasuk gampang. Kembalilah kepada peranan “tukang cerita” dan biarkanlah cerita Anda mengakhiri dirinya sendiri, secara wajar. Seorang wartawan profesional selalu berusaha bercerita dengan lancar, masuk akal, dan tidak dibikin-bikin.
 
(Bersambung)
 

Posted by BSH at 06:33:28 | Permalink | No Comments »

Tuesday, December 9, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (IX)

Pengantar

Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian IX (kesembilan).


Menulis Lead

          Sekali reporter memilih lead dan memilih pendekatan dasarnya, ia menghadapi problem memilih kombinasi kata-kata. Bagaimanapun imajinatif dan menariknya gagasannya untuk satu lead yang bagus, ia masih bisa tergelincir dalam merenggut perhatian pembaca bila kombinasi kata-katanya payah.

 

          Misalnya, Setiap pagi, sekitar pukul 07.30, ketika matahari masih bersinar merah di Percut, sebuah kota pantai 22 kilometer dari Medan, Hotman Sinaga, 32 tahun, memulai pekerjaannya sebagai penyadap tuak. Ia kayuh sepedanya menuju kebun kelapa….(TEMPO, 11 Juni 1994, Ketika Minuman Keras Melekat Bersama Tradisi).

 

          Lead tersebut terlalu panjang, tapi untunglah susunan kata-katanya bagus. Ide yang sama bisa ditulis lebih jelek oleh reporter yang kurang mampu: Pagi-pagi, lebih kurang pukul 07.30. pagi, ketika matahari terlihat bersinar merah di Percut, yakni sebuah kota pantai yang terletak lebih kurang 22 kilometer dari Medan, seorang penyadap tuak bernama Hotman Sinaga, 32 tahun, mulai bekerja sebagai penyadap tuak….

 

          Bandingkanlah kedua lead itu. Idenya sama. Hal yang dibicarakan juga sama. Tapi yang pertama lebih efektif dan ringkas, sedangkan yang kedua banyak kata bisa dihilangkan tanpa mengubah gambaran yang ingin disampaikan. Bila Anda menganalisa lead-lead itu, pedoman berikut untuk penulisan lead akan menjadi jelas.

 

Tulislah Ringkas

          Jangan obral kata-kata. Lead kedua dalam contoh cerita inspektur di atas satu setengah kali panjangnya daripada yang pertama. Tapi toh, lead kedua itu tidak memberikan informasi yang lebih banyak, selain disebutnya nama perwira polisi itu. Mengobral kata yang tidak perlu mengurangi keefektifan lead. Ibaratnya: kaldu yang kental bisa menjadi sup yang hambar bila terlalu banyak air.

 

Tulislah alinea secara ringkas.

          Kebanyakan penulis profesional berpedoman begini: Jangan lebih dari 4 baris (bukan kalimat) untuk sebuah lead. Alinea yang ringkas akan dengan sendirinya lebih mudah mengundang. Bila ditambah pemilihan kata dengan baik, akan lebih mudah dibaca.

 

Gunakan kata-kata aktif.

          Lead harus punya nyawa dan tenaga. Pembaca harus merasakan suatu gerakan ketika ia membaca. Penulis feature menaruh perhatian istimewa kepada kata-kata kerja, terutama yang ringkas dan hidup. Kata kerja adalah busi. Ia memberikan kekuatan sehingga lead Anda “bergerak”.

 

          Kata-kata sifat bisa memberikan saham untuk mempercantik. Mempertegas kata sifat (misalnya “ramping”, “ringsek”, “montok”, “mengkilat”) menambah vitalitas suatu kalimat.

 

Gaetlah pembaca pada beberapa kata pertama.

          Dalam contoh sebelumnya, reporter membuka ceritanya dengan lead yang fokusnya menajam: Mata yang dingin…. Perhatian pembaca segera ditarik. Ia mungkin akan membaca terus … terus, sampai ia masuk jauh ke dalam cerita itu. Banyak ahli komunikasi yang mengatakan bahwa bila Anda gagal menggaet pembaca pada kata-kata pertama, Anda akan kehilangan pembaca itu.

 

         
Ada beberapa contoh umum bagaimana kata-kata pertama gagal menggaet pembaca. Misalnya ini: Beberapa minggu yang lalu ….. atau ini: Dalam rangka ….. Kata-kata itu memaksa pembaca untuk bersusah-payah sebelum mengetahui apa yang akan dikemukakan penulis. Bila saja topiknya tidak begitu mengundang keingintahuan pembaca, ia dengan sendirinya akan pindah ke cerita lain.

 

          Reporter harus bisa menarik pembaca dengan modal lead-nya. Sebab, walaupun ceritanya sendiri hebat, hanya sedikit pembaca yang mau mengarungi lead yang tidak menarik, yang membosankan, untuk masuk ke dalam cerita hasil kerja keras Anda.

 

(Bersambung)

Posted by BSH at 13:09:25 | Permalink | No Comments »

Friday, August 8, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (VIII)

Catatan:

Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian VIII (kedelapan).


Lead Menggoda
Lead menggoda ialah cara untuk “mengelabui” pembaca dengan cara bergurau. Tujuan utamanya ialah menggaet perhatian pembaca dan menuntunnya supaya mereka membaca seluruh cerita.

Lead jenis ini biasanya pendek dan ringan. Umumnya memakai teka-teki, dan biasanya hanya memberikan sedikit, atau sama sekali tidak, tanda-tanda bagaimana cerita selanjutnya. Contoh: Angka yang ditunggu-tunggu itu keluar juga: sekitar 50 (TEMPO, 4 Januari 1992, Angka Misterius Santa Cruz)

Dari kalimat itu pembaca belum tahu secara pasti kunci cerita tentang angka 50 itu. Justru karena itu keingin-tahuannya dibangkitkan, dan untuk memenuhi keingin-tahuannya itu, mau tak mau, ia akan membaca kelanjutan kalimat tersebut sampai tahu apa yang dimaksud dengan “angka 50” itu. Setelah pembaca tahu teka-teki “angka 50” itu (yaitu tentang jumlah korban kekerasan militer di kuburan Santa Cruz , Dili, pada 1991), tergantung pada cerita itu sendiri apakah cukup menawarkan daya tarik untuk diikuti terus atau tidak.

Cara lain untuk menampilkan lead jenis ini ialah dengan mengiming-imingkan (memamerkan) potongan fakta kepada pembaca supaya terpancing terus membaca. Contoh: Pendatang baru itu tampak misterius dan agak menakutkan. Namanya memang bagus, Chlamydia Pneumoniae, tapi wataknya merepotkan para peneliti (TEMPO, 19 Februari 1994, Chlamydia yang Mempersulit Diagnosa).

Pembaca yang tak tahu apa atau siapa nama itu, tentu bisa punya asosiasi macam-macam ketika membaca lead  tersebut: apakah itu nama seseorang, atau nama benda? Barulah pada kalimat-kalimat berikutnya diceritakan yang sebenarnya: “Itulah kuman penyebab penyakit radang paru-paru, yang bukan tergolong jenis bakteri, tapi juga bukan virus. Para ahli mengatakan, kuman itu membawa sebagian sifat bakteri, sebagian lagi sifat virus.”

Pembaca yang sudah tahu tentang kuman itu pun diharapkan tetap ingin membaca artikel tersebut, karena diiming-iming dengan kata “misterius” dan “menakutkan”. Benarkah si Chlamydia semisterius dan semenakutkan sebagaimana ia ketahui, atau kurang dari itu, atau lebih menakutkan?

Lead Nyentrik
Reporter yang imajinatif — meskipun tidak puitis — bisa mencoba lead seperti di baah ini pada saat menulis cerita tentang kenaikan harga. Lead ini memikat dan informatif. Gayanya yang khas dan tak kenal kompromi bisa menarik pembaca, hingga ceritanya bisa laku. Contoh:

Hijau sayuran
Putihlah susu
Naik harga makanan
Ke langit biru

Lead tersebut paling ekstrem dalam bertingkah. Tapi kekurang-ajarannya bisa menggaet pembaca bila reporter bisa mengikuti langkah pertamanya itu dengan cerita yang lincah dan hidup. Tapi nada lead ini susah dijaga di sepanjang keseluruhan cerita.

Beberapa koran enggan memakai lead seperti itu. Memang ada bahayanya. Karena wartawan hidup dalam dunia kata-kata, lead nyentrik membuka peluang wartawan untuk mengobral permainan kata hingga memualkan. Hanya kebijaksanaan tegas yang bisa mencegah banjirnya permainan kata itu. Lead nyentrik bisa juga hanya melukiskan suara bunyi-bunyian. Misalnya: Tak dududuktak. Duk.” (TEMPO, 5 Januari 1985, Mereka Bergerak, Selebihnya Silakan Lihat).

Lead Gabungan
Di surat kabar sering ditemukan lead yang merupakan gabungan dari dua atau tiga lead, dengan mengambil unsur terbaik dari masing-masing lead. Lead kutipan, misalnya, sering digabungkan dengan lead deskriptif. Contoh: “Bukan salahku bahwa aku belum mati sekarang,” kata Fidel Castro dengan senyum lucu (TEMPO, 7 Mei 1994, Castro, Revolusioner yang Belum Pensiun).

Jika lead menggoda digabung dengan lead kutipan, jadilah sebuah lead yang sangat menarik.

(Bersambung)

 

Posted by BSH at 10:22:44 | Permalink | No Comments »

Friday, June 20, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (VII)


Pengantar

Berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 bagian. Berikut Bagian VII.


Lead
Pertanyaan
Lead ini efektif bila berhasil menantang pengetahuan atau rasa ingin tahu pembaca. Sering kali, lead ini dipakai oleh wartawan yang tidak berhasil menemukan lead yang imajinatif. Lead ini gampang ditulis, tapi jarang membuahkan hasil terbaik.


Dalam banyak hal, lead ini cuma taktik. Wartawan yang menggunakan lead ini tahu, bahwa ada pembaca yang sudah mengetahui jawabannya, ada pula pembaca yang belum tahu. Yang ingin ditimbulkan oleh lead ini ialah rasa ingin tahu pembaca: yang belum tahu, mestinya terus ingin membaca; sedangkan yang sudah tahu dibuat ragu-ragu apakah pengetahuannya cocok dengan informasi si wartawan.


Banyak editor enggan memakai lead ini, karena pembaca sering dibuat kesal oleh jebakannya. Biasanya lead bercerita atau deskriptif lebih disukai. Meskipun demikian, tidak berarti lead pertanyaan lebih rendah mutunya dari yang lain. Kadang-kadang ada cerita yang bisa diberi lead pertanyaan secara wajar.

Seorang wartawan Sekretariat Negara yang menulis feature tentang kenaikan gaji pejabat tinggi bisa menulis begini:
* Berapa gaji Presiden Soeharto sekarang? (TEMPO, 23 Januari 1993, Presiden Naik, DPR Naik).

Seperti juga lead-lead yang lain, lead pertanyaan hanya bisa efektif bila materinya memang secara wajar bisa diberi lead pertanyaan. 
Contoh lain:

* Apa yang membuat sekelompok orang ngotot, menolak pindah, meski gubuk tempat mereka tinggal terus dirayapi oleh air yang menggenang? (TEMPO, 27 April 1991, Kedungombo).

Lead
Menuding
Bila reporter berkomunikasi langsung dengan pembaca, ini disebut lead menunjuk langsung. Ciri-ciri lead ini ialah ditemukannya kata Anda yang disisipkan pada paragraf pertama atau di tempat lain.

Keuntungannya jelas. Pembaca — kadang-kadang tidak secara sukarela — menjadi bagian cerita. Penyusunan kata-katanya melibatkan Anda secara pribadi dalam cerita itu. Misalnya, seorang reporter yang mangkal di kantor imigrasi dan menemukan adanya kesalahan cekal terhadap seseorang yang tidak bersalah, mungkin membuat lead sebagai berikut:.
* Bila Anda punya nama kodian, harap hati-hati. Salah-salah Anda kena cekal, tak boleh ke luar negeri (TEMPO, 30 Januari 1993, Gara-gara Nama Sama).

Lead
seperti itu langsung melibatkan pembaca secara pribadi. Rasa ingin tahu mereka disinggung: jangan-jangan namanya, atau nama keluarga dekat, atau teman dekatnya, tergolong nama kodian itu. Menggunakan lead seperti ini memang terasa sebagai taktik untuk memikat.

Ada
contoh lain. Lead ini secara langsung menyeret pembaca ke dalam persoalan dan membawanya untuk membaca tulisan secara keseluruhan.
* Bila harus memilih antara diet kolesterol dan penyakit jantung, tentu Anda memilih yang pertama (TEMPO, 5 Februari 1994, Para Eksekutif, kolesterol dan Jantung).

Yang perlu diingat, membuat lead yang menuding langsung seperti contoh tersebut memerlukan imajinasi yang kuat. Sebab, di sini ada bahayanya. Salah-salah, Anda membuat lead yang cenderung kedengaran sok dan amatir. Misalnya:
* Kalau (Anda) mau hidup enak dan terhormat, jadilah eksekutif di perusahaan konglomerat (TEMPO, 6 Februari 1993, Eksekutif Jutaan Rupiah).

Berbeda dengan lead sebelumnya, meski tetap punya daya tarik (hidup enak dan terhormat tentunya
diminati umumnya orang), lead yang ini terasa kurang memikat. Soalnya, tak semua orang punya kesempatan menjadi eksekutif, apalagi di perusahaan konglomerat. Dengan kata lain, lead ini kurang melibatkan banyak pembaca secara pribadi.

(Bersambung)

Posted by BSH at 08:55:54 | Permalink | No Comments »

Monday, May 19, 2008

PEDOMEN MENULIS FEATURE (VI)

Pengantar

Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian VI (keenam).

Lead Deskriptif

Lead
deskriptif bisa menciptakan gambaran dalam pikiran pembaca tentang seorang tokoh atau tempat kejadian. Lead ini cocok untuk berbagai feature dan digemari reporter yang menulis profil pribadi.


Lead yang bercerita meletakkan pembaca di tengah adegan atau kejadian dalam cerita, sedangkan lead deskriptif menempatkan pembaca beberapa meter di luarnya: dalam posisi menonton, mendengar, dan mencium baunya.


Pemakaian ajektif (kata sifat) yang tepat adalah kunci untuk lead deskriptif. Seorang reporter yang baik bisa membuat tokohnya “hidup”, seolah-olah muncul di tengah-tengah barang cetakan yang dipegang pembaca.


Reporter sering mencoba memusatkan perhatiannya pada satu unsur yang paling mencolok dari sosok dan penampilan tokohnya untuk diilustrasikan.


* Wajah Syaiful Rozi bin Kahar sama sekali tak mengesankan bahwa ia seorang bajak laut. Ia berpembawaan halus, sopan, dan ramah (TEMPO, 28 Agustus 1993, Perompak yang Halus dan Ramah).


Untuk kebanyakan pembaca, lead itu mendebarkan. Pembaca seolah-olah terpaksa menerima kehadiran seseorang yang berperangai halus, padahal ia bajak laut yang ganas.


Tokoh untuk lead tidak harus manusia. Obyek tidak berjiwa pun bisa mempunyai personalitas yang bisa ditangkap secara efektif oleh pembaca dari sebuah lead deskriptif yang baik.


* Laksana tarian peri langit, asap membubung di atas Hotel Bali Beach yang membara terpanggang api (TEMPO, 30 Januari 1993, Akhir Legenda dan Sejumlah Misteri Bali).


Lead deskriptif bisa menjadi karikatur yang efektif, seperti sketsa bagi seorang pelukis, yang menekankan pada ciri pokok dan mengabaikan perincian yang tidak menarik.


Lead deskriptif juga bisa menampilkan seorang tokoh dalam perwatakan yang menarik, dengan cara menggambarkan latar yang tepat.


* Bola mata Juani berkaca-kaca ketika mengintip kemenakannya, Soleka, yang sedang mandi sore itu. Dari balik pagar sumur yang jarang, ia melihat kain basahan Soleka sering tersibak (TEMPO, 2 Januari 1993, Kasmaran Maut di Sarang Elang).


Menyadari bahwa selalu ada kemungkinan untuk membuat lead deskriptif, tidak mengherankan bila banyak reporter yang terpikat oleh lead jenis ini.

Lead Kutipan

Kutipan yang dalam dan ringkas bisa membuat lead menarik, terutama bila yang dikutip orang yang terkenal. Kutipan harus bisa memberikan tinjauan ke dalam watak si pembicara.


Ingat, lead harus menyiapkan pentas bagi bagian berikutnya dari cerita kita, sehingga kutipannya pun harus memusatkan diri pada sifat cerita itu.


Contoh lead kutipan:

* “Tangkap hidup atau mati.” (TEMPO, 29 Januari 1994, Hidup atau Mati: Gendut Dicari).


Kutipan keras itu diucapkan oleh Kapolri Letnan Jenderal Banurusman. Umumnya pembaca akan langsung tergaet, ingin tahu bagaimana nasib orang yang sudah dipastikan harus ditangkap hidup atau mati itu.


Kerugian lead semacam ini ialah, kutipan yang dipilih bisa keluar dari kerangka cerita jika tekanan pokok diletakkan pada kutipan itu saja.


Misalnya Anda mewawancarai seorang tukang ojek tentang rencana pembangunan kawasan kota Jakarta Pusat. Mungkin ia mengeluh, tentang rencana yang bakal menutup rezekinya dengan berkata, “Kawasan Kota mau ditutup sampai Pelabuhan Sunda Kelapa? Wuih…” (TEMPO, 26 Juni 1994, Menyulap Kawasan Kota).


Kutipan itu bisa menarik perhatian, sehingga seorang reporter mungkin memakainya sebagai lead. Tapi, kutipan itu tidak secara tepat menggambarkan perasaan si tukang ojek secara keseluruhan. Bila wartawan tidak bisa memberikan penjelasan kepada pembaca kapan kutipan itu keluar dan dalam kondisi bagaimana, jangan-jangan kutipan itu memang tak ada kaitannya secara langsung dengan cerita.


(Bersambung)


Posted by BSH at 12:00:09 | Permalink | No Comments »

Monday, May 5, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (V)


Catatan:
Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian V (kelima).

 

Wartawan jarang menyadari, bagaimana lead terbaik yang hendak dipakainya. Untuk memudahkan memilih lead, perlu diketahui berbagai macam lead, seperti di bawah ini.

 

Lead Ringkasan

Lead ini sama dengan yang dipakai dalam penulisan hard news. Yang ditulis hanya inti ceritanya, dan kemudian terserah pembaca apakah masih cukup berminat untuk mengikuti kelanjutannya atau tidak.

 

Lead ringkasan ini sering dipakai bila reporter mempunyai persoalan yang kuat dan menarik, yang otomatis akan laku dibaca. Karena lead ini sangat gampang ditulis, banyak reporter yang langsung memilihnya jika ia diuber deadline, atau jika ia bingung mencari lead yang lebih baik.

 

Beberapa contoh lead ringkasan:

 

* Ini satu lagi kasus peninggalan bekas Gubernur DKI Jaya Wiyogo Atmodarminto: Pasar Regional Jatinegara (TEMPO, 30 Januari 1993, Komisi di  Jatinegara).

 

* Ada orang ketiga di rumah tangga, kalau bukan bikin sewot istri, ya, bikin melotot suami (TEMPO, 1 Januari 1994, Two in One Versi Tuban).

 

Dari setiap contoh tersebut, jelas bahwa yang akan diceritakan sudah tertulis dalam lead. Pembaca tahu intisari cerita setelah membaca lead. Kata kasus dalam contoh pertama menunjukkan, bahwa cerita yang akan disampaikan ialah tentang ketidak-beresan di Pasar Regional Jatinegara yang dibangun di zaman Gubernur DKI Jakarta Wiyogo Atmodarminto. Sedangkan pada lead kedua, sudah bisa dibaca bahwa yang akan diceritakan ialah tentang hadirnya orang ketiga yang menimbulkan keributan di sebuah rumah tangga.

 

Kedua cerita itu umumnya dianggap cukup kuat untuk menarik minat pembaca. Yang pertama, masalah ketidak-beresan sebuah proyek tempat masyarakat bertemu; yang kedua, masalah yang bisa menimpa hampir setiap rumahtangga: kehadiran orang ketiga.

 

Lead Bercerita
Lead ini, yang digemari oleh penulis fiksi (novel atau cerita pendek), cukup menarik pembaca. Tekniknya: menciptakan suasana, dan membiarkan pembaca menjadi tokoh utama, entah dengan cara membuat “kekosongan” yang kemudian secara mental bisa diisi oleh pembaca, atau dengan membiarkan pembaca mengidentifikasikan diri di tengah kejadian yang berlangsung.

 

Hasilnya berupa teknik sebagaimana yang dibuat dalam sebuah film yang baik. Apakah Anda pernah merasa haus ketika menyaksikan seorang pahlawan (dalam film) kehausan di tengah padang pasir? Apakah Anda gemetar di tempat duduk ketika menyaksikan film horor?

 

Lead semacam ini sangat efektif untuk cerita petualangan. Misalnya seorang wartawan yang melaporkan suasana di sudut sebuah rumah di Bosnia Herzegovina yang lagi dilanda perang saudara.

 

* Kami makan anggur kematian, dan anggur itu lezat. Berair, biru kehitaman, manis dan asam. Mereka menggantungkan setandan anggur masak di beranda belakang rumah milik muslim yang istrinya belum lama tewas oleh bom seorang Serbia . Ini senja di Bosnia , langit sama biru tuanya dengan anggur-anggur itu (TEMPO, 27 Maret 1993, Potret Berdarah dari Dalam).

 

Wartawan rubrik kriminalitas sering memakai lead bercerita dalam cerita feature untuk melaporkan peristiwa kejahatan.

 

* Hari itu, ada lima mayat yang hangus terpanggang. Sesosok mayat laki-laki dewasa dan tiga anaknya berserakan di sana-sini dengan tubuh rusak bekas dibantai. Pemandangan itu ditemukan penduduk di puing sebuah gubuk yang hangus terbakar (TEMPO, 25 Januari 1992, Tragedi di Kebun Karet).

 

Lead untuk sebuah feature yang lain bisa begini:

 

* Toha gelagapan. Ia seperti menghirup ruang hampa. Sebisanya ia mengisap corong udara di hidungnya. Tapi sia-sia. Tabung oksigen di punggungnya ternyata sudah kosong. Ia panik. Permukaan laut masih puluhan depa di atasnya (TEMPO, 16 November 1993, Suka Duka Sang Penyelam).

 

Lead tersebut mempunyai keuntungan, karena bisa menggaet pembaca lebih efektif daripada lead lain. Begitu pembaca mengidentifikasikan diri dengan atau menjadi tokoh ceritanya, ia pasti sudah tergaet.

 

Tetapi ada kerugiannya: tak semua cerita bisa cocok diberi lead seperti itu. Reporter yang mencoba memaksakan lead macam ini akan menghasilkan lead yang tidak wajar, atau lead seperti itu justru akan merusak cerita.

 

(Bersambung)

 

Posted by BSH at 11:18:31 | Permalink | No Comments »

Thursday, March 27, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (IV)

Pengantar:
Berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan Saya Wartawan TEMPO. Buku pedoman para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 bagian, berikut ini bagian ke-IV.


MENANGKAP KESALAHAN

          Untuk menangkap kesalahan, baik ejaan, gaya , maupun pemakaian kata, memang hanya ada satu cara. Yakni, membaca dan membaca naskah Anda kembali. Mereka yang dikaruniai kepandaian mungkin hanya sekali baca sudah bisa melihat suatu kesalahan. Tapi, wartawan lain memerlukan waktu berkali-kali untuk membaca dan membuka kamus untuk mengecek pekerjaannya.
          Berikut ini salah satu cara mencari kesalahan dalam naskah Anda, tanpa banyak merugikan kelancaran menulis.
          Jangan mengecek ejaan, atau pemakaian kata, ketika menulis cerita. Berkali-kali membuka kamus atau buku pedoman di tengah Anda menulis akan menghambat kelancaran kreativitas, dan itu memakan waktu.
          Tapi, segera setelah cerita selesai ditulis, perhatikan naskah Anda kata demi kata. Pelototilah setiap kata seolah-olah mereka adalah “musuh” Anda yang akan menyabot cerita Anda. Kalau ada kemungkinan salah, walau sekecil apapun, ceklah kata tersebut sampai Anda yakin bahwa kata itu sudah benar, atau Anda harus menggantinya.
          Bila waktu memungkinkan, lakukanlah pengecekan ulang sekali lagi. Sering mata Anda terlena pada satu baris atau paragraf, ketika Anda mengecek cerita Anda. Maka pengecekan ulang akan mengurangi kesalahan.
          Untuk beberapa jenis feature, mungkin Anda perlu bekerja selama beberapa hari, kemudian mengendapkan cerita itu barang sehari atau dua setelah pengecekan secara sistematis. Kemudian, sebelum menyerahkan cerita tersebut, saringlah lagi kesalahan yang mungkin masih ada. Dengan pandangan yang segar, kesalahan sering tampak lebih nyata.
          Bila Anda menemukan kata yang salah eja atau salah pakai, catatlah di buku catatan khusus. Beberapa reporter menyimpan daftar kata yang membingungkannya, agar ia selalu bisa mengecek mana yang salah dan mana yang benar dengan cepat. Belajar mengeja kata-kata, tentulah akan sangat membantu.
          Jika Anda didesak oleh deadline, sementara Anda ragu arti sebuah kata yang hendak Anda gunakan, pakai saja sinonim atau padanannya.

MENGAIL DENGAN LEAD
          Kunci untuk penulisan feature yang baik terletak pada paragraf pertama, yang disebut lead. Mencoba menangkap minat pembaca tanpa lead yang baik, sama dengan mengail ikan tanpa umpan.
          Setiap wartawan seharusnya selalu sadar akan perlunya lead. Keranjang sampah penuh dengan lead yang tak bermutu, karena wartawan memakai lead yang itu-itu juga dalam usahanya menarik minat pembaca.
          Lead untuk feature mempunyai dua tujuan utama.
Pertama, untuk menarik pembaca agar selalu mengikuti cerita; kedua membuat jalan agar supaya alur cerita bisa lancar.
           Banyak pilihan lead; sebagian untuk menyentak pembaca, sebagian untuk menggelitik rasa ingin tahu pembaca, dan yang lain untuk mengaduk imajinasi pembaca. Masih ada yang lain, seperti lead untuk memberi tahu pembaca tentang cerita yang bersangkutan secara ringkas.

(Bersambung)

Posted by BSH at 08:55:09 | Permalink | No Comments »

Monday, March 3, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (III)

Pengantar: 

Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku yang menjadi pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian. Berikut adalah Bagian III (ketiga).


EJAAN KATA

“Kata-kata adalah alat pokok dalam pekerjaan ini. Bila engkau tidak bisa mengeja dengan tepat, atau tidak bisa memakai kata-kata dengan efektif dan akurat, engkau tidak tepat untuk masuk dalam percaturan surat kabar.”


Teguran itu dikatakan oleh seorang editor yang marah, karena menemukan beberapa kata yang salah tulis dalam naskah seorang reporter. Reporter itu memegang teguh teguran tersebut dan, sejak saat itu, ia memakai kamus secara serius.

Ejaan bukan hanya latihan akademis untuk menakut-nakuti mahasiswa. Ejaan adalah sebuah keharusan bagi kelangsungan hidup dunia pers yang penuh persaingan.

Tak banyak reporter yang bisa dengan gampang mengingat ejaan, memang. Tapi, kebanyakan kita tentunya bisa membaca kamus. Dan sekadar membalik-balik kamus tentulah bisa dilakukan, bahkan ketika sedang diuber deadline.

Beribu-ribu kata diproses setiap hari di meja editor. Memang, editor bertanggung jawab untuk menyaring kesalahan dalam naskah. Tapi, secara manusiawi, tidaklah mungkin ia bisa menyaring setiap kata. Karena itu seorang editor, mau tak mau, dituntut untuk selalu awas ketika memeriksa naskah. Ia harus selalu curiga bahwa naskah yang ia baca mengandung salah ejaan.

Bila salah ejaan sudah tercetak, banyak hal bisa terjadi — dan tidak satu pun yang baik: kepercayaan orang pada media itu rontok. Salah cetak mengurangi citra profesional sebuah media, dan membuat muatannya selalu dicurigai para pembaca yang cerdik pandai. Bila koran ceroboh terhadap kata-kata, bagaimana fakta-fakta di dalamnya bisa dipercaya?

Kepercayaan orang pada reporter bersangkutan juga luluh. Bila seorang reporter terlalu sering melakukan kesalahan ejaan, bisa jadi ia memang tak cakap, tak cocok menjadi reporter. Maka sang editor bisa memindahkannya ke bagian lain, atau mendepaknya.

Kesalahan pemakaian kata bisa berakibat serupa. Banyak orang salah memilih kata-kata dalam percakapan sehari-hari, karena mereka memungut suatu kata tanpa mengetahui persis apa artinya. Kesalahan dalam percakapan bisa dimaafkan dan dimaklumi, tapi segala maaf habis bila seorang reporter salah menerapkan kata dalam medianya.

Editor yang menginginkan standar profesional yang tinggi mungkin akan terlalu njlimet pada hal-hal sampai sekecil-kecilnya.
Kata-kata yang dipakai secara salah bisa mengubah arti suatu cerita. Dalam sebuah tulisan yang membahas soal utang dan piutang perusahaan, misalnya, penutupnya berbunyi demikian: “Seorang direktur perusahaan tekstil mengatakan, di akhir tahun anggaran nanti perusahaannya akan memiliki piutang yang jauh lebih besar daripada utangnya. Hal itu karena tiadanya kontrol penagihan.”

Andai saja kata piutang dan utang tertukar tempatnya, bisa saja sejumlah pemegang saham perusahaan tekstil itu akan buru-buru menjual sahamnya karena perusahaan itu rugi. Padahal, yang terjadi adalah sebaliknya, meski keuntungan itu masih berupa piutang. Jelas, perbedaan antara kedua kata itu berpengaruh besar pada sikap para pemegang saham.

Akibat kesalahan pemilihan kata, bisa fatal. Nama baik surat kabar merosot. Nama baik reporter juga rusak. Dalam rapat pemegang saham perusahaan tekstil tersebut, baik direksi maupun pemegang saham tak lagi punya respek terhadap si wartawan . Akibatnya, wartawan ini kehilangan sumber informasi.


BUKU PEDOMAN

Untuk mempertahankan citra keprofesionalan, surat kabar memerlukan buku pedoman penulisan. Baik reporter, penulis, dan redaktur seharusnya menaati aturan yang tertulis dalam buku pedoman itu. Buku semacam ini menggolong-golongkan bagaimana kata, gelar, dan tanggal harus dipakai untuk agar seragam.

Ada
beberapa alasan mengapa buku pedoman ini perlu:
1. Pemakaian yang seragam kelihatan lebih profesional.
2. Bila sebuah kata ditulis dalam berbagai bentuk, meskipun semuanya benar, terbuka peluang bagi pembaca untuk mengambil kesimpulan yang salah: bahwa hanya satu kata yang benar. Misalnya kata persen, prosen, atau %.
3. Keseragaman menghemat waktu. Seorang wartawan yang mempelajari buku pedoman tidak perlu ragu-ragu memilih istilah yang harus dipakainya. Bila ia sedang diuber deadline, karena keraguan bisa berakibat mahal.

Manfaat buku pedoman, seperti juga kamus, ialah untuk mengurangi kesalahan, mengurangi hal-hal yang bisa menurunkan citra keprofesionalan Anda.


(Bersambung)
 

Posted by BSH at 06:15:01 | Permalink | No Comments »

Friday, February 22, 2008

PEDOMAN MENULIS FEATURE (II)


PENGANTAR
Kawan-kawan, berikut ini saya sampaikan ringkasan buku Andaikan saya Wartawan TEMPO. Buku pedoman bagi para wartawan TEMPO ini diterjemahkan oleh Slamet Djabarudi dari Feature Writing for the Newspapers  (1979). Mula-mula berjudul Misalkan Anda Wartawan TEMPO, 17 tahun kemudian diubah menjadi Andaikan Saya Wartawan TEMPO (1996). Ringkasan tersebut saya bagi menjadi 13 (tiga belas) bagian, berikut Bagian II (kedua).


——————————————–

AKURAT, BUNG!


          Penulis feature tentu membutuhkan imajinasi yang baik untuk “menjahit” kata-kata dan rangkaian kata menjadi cerita yang menarik. Tapi, seperti juga bentuk-bentuk jurnalisme yang lain, imajinasi penulis tidak boleh mewarnai fakta dalam ceritanya. Artinya, cerita khayalan tidak boleh ada dalam sebuah feature.

          Seorang wartawan profesional tidak akan menipu pembaca, walaupun sedikit, karena ia sadar terhadap etika dan bahaya yang bakal mengancamnya. Etika menyebutkan, bahwa opini dan fiksi tidak boleh ada, kecuali pada bagian tertentu dari sebuah suratkabar. Misalnya, tajuk rencana, sebagai rubrik untuk mengutarakan pendapat redaksi. Selain itu edisi Minggu suratkabar biasanya menampung fiksi, misalnya cerita pendek.

          Jadi, feature
tidak boleh berupa fiksi, dan setiap “pewarnaan” terhadap fakta tidak boleh menipu pembaca. Jika penipuan seperti itu terungkap, kepercayaan publik kepada penulis feature akan hancur. Inilah bahaya yang bisa mengancam penulis feature..

          Ada
beberapa derajat “kefiktifan” yang bisasanya menjadi “bumbu” dalam menulis feature. Yang paling mencolok ialah, jika seorang penulis membuat cerita dengan bahan yang sama sekali bikin-bikinan, alias khayalan. Tapi syukurlah, selama ini hampir tidak ada reporter yang segila itu.

          Godaan yang paling sering terjadi ialah, ketika penulis hampir menyelesaikan tulisan yang baik, tapi ada beberapa unsur yang tertinggal. Ia mungkin mencoba untuk memperoleh unsur-unsur itu dengan mengajak narasumber untuk membuat cerita menjadi lebih ramai. Dalam kasus begini, tokoh yang diwawancarai dianggap telah bersekongkol dalam menjual cerita yang cenderung palsu.

           Satu hal yang tidak terpuji dalam menulis feature ialah menaruh sebuah kalimat (sebagai kutipan, quotation) ke mulut orang yang diwawancarai. Caranya, wartawan mengawali kutipan yang sudah diarahkan dengan bertanya, “Apakah Anda….?”, dan si wartawan menunggu anggukan narasumber sebagai tanda setuju — entah anggukan sungguhan atau khayalan.

          Wartawan-wartawan yang tidak etis seperti itu memang ada dalam dunia pers. Dan seperti lazimnya pembohong, mereka hidup dalam ketakutan jika suatu saat kelak rahasianya terbongkar. Untuk kepentingannya sendiri, seorang wartawan harus tahu bahwa nama baiknya adalah taruhan bagi sukses profesinya. Wartawan yang ceroboh terhadap fakta akan segera kehabisan sumber berita yang bisa memberi informasi yang baik.


MENGUMPULKAN INFORMASI


           Ketidak-akuratan atau kesalahan dalam penerbitan, kebanyakan disebabkan oleh kelalaian atau kesembronoan yang tidak disengaja. Seorang reporter mungkin tidak menggunakan waktu secukupnya untuk mengecek informasi sebelum menulis. Kemudian ternyata ia salah menulis nama sumber berita.

          Seorang wartawan kawakan akan mengambil langkah-langkah pencegahan untuk menghindari kesalahan fakta seperti itu. Langkah-langkah itu tentu juga bisa Anda lakukan:

          1. Bila Anda mewawancarai seseorang, tanyakan nama, umur, alamat, dan nomor teleponnya. Setelah mengumpulkan informasi, ejalah namanya dan bacakanlah alamat dan nomor teleponnya, sehingga sumber berita bisa mengoreksinya. Nomor telepon tidak ditulis dalam cerita, tapi reporter harus memilikinya, untuk kapan-kapan, mengontaknya kembali jika ia memerlukan check and cross check.

          2. Jika nama, umur, dan alamat narasumber tersebut Anda peroleh dari tangan kedua, haraplah dicek lagi di buku telepon. Jika Anda menyebut umurnya, tanyakan kepada sumber berita untuk membetulkan atau mengoreksinya.

          3. Jangan sekali-kali beranggapan, bahwa Anda mengetahui semuanya. Anda harus selalu mengecek ulang setiap informasi yang penting. Misalnya, seorang reporter balai kota mungkin mengira, bahwa ia tahu gelar atau jabatan resmi seorang pejabat. Tapi, jika tidak yakin, ia harus menghubungi pejabat tersebut atau sekretarisnya untuk mencocokkannya.

          4. Jika tulisan Anda menyangkut materi yang rumit, pastikanlah terlebih dahulu, bahwa Anda memahaminya dengan baik. Seorang reporter sering menulis tentang suatu istilah teknis, sedangkan ia tidak tahu sama sekali, atau tidak punya latar belakang mengenai istilah teknis tersebut.

          Suatu hari, mungkin seorang wartawan polisi membuat feature mengenai perlengkapan radar yang dipasang pada lampu lalu-lintas. Seorang kapten polisi mungkin dengan lancar menerangkan istilah teknis tentang radar, tapi reporter itu harus bisa memberi informasi yang gamblang kepada pembaca. Maka, wartawan yang berpengalaman akan sering menghentikan penjelasan si kapten untuk mencari terjemahan dari istilah-istilah teknis tersebut yang mudah diterima oleh pembaca yang awam. Pada umumnya, wartawan mengambil peran sebagai pembaca awam, dan mengajukan pertanyaan sesuai dengan posisinya itu.

          5. Jika menggunakan statistik atau data matematis, reporter harus mengecek angka-angkanya, dan kalau perlu menghitung. Banyak wartawan yang berdalih macam-macam bila seorang pembaca yang kritis mengirim surat ke redaksi dan menunjukkan perhitungan yang keliru dalam tulisan wartawan tersebut.

          Statistik harus benar-benar dicermati dengan penuh kecurigaan. Anda bisa membuktikan apa saja dengan statistik, tergantung bagaimana cara Anda menyajikannya, dan apa saja yang Anda masukkan atau tinggalkan. Tanyakanlah kepada nara sumber secara cermat untuk meyakinkan kebenaran angka-angka tersebut.

          Misalnya, statistik kejahatan yang dikemukakan oleh polisi, harus benar-benar dicek sebelum digunakan sebagai petunjuk mengenai tingkat kejahatan. Sebab, pada kenyataannya, banyak peristiwa kejahatan yang tidak dilaporkan kepada polisi, dan karena itu tidak tercatat dalam statistik.

          Seorang reporter tidak boleh membiarkan dirinya menjadi alat untuk “menipu” masyarakat. Kekritisan dan pengecekan yang teliti sering bisa menghindarkan hal itu terjadi.

        
(Bersambung)


Posted by BSH at 10:30:50 | Permalink | No Comments »